Pertama kali saya dengar nama ini saya tertawa. "Waf..plenggonge ndang di maem" (Waf..plenggongnya dimakan). kata si ibu pada Wafa. "nopo buk..? plenggong? haha..opo kui?" tanyaku yang penasaran sambil tertawa. Bukan saya menertawakan makanannya ataupun mencacatnya. Tidak. Saya memang benar-benar tidak tau apa plenggong itu. "Plenggong, bah.." si ibu menjawab sambil tersenyum kecil.
Saya bertanya-tanya dalam hati, apa sih plenggong itu? sambil senyam senyum. Maklum, selama hidup ini baru dengar nama makanan itu. Saya lihat dan saya coba. "ini sih gloso, duduk plenggong, buk.." sambungku. "Masak nama makanan koq plenggong..? heu heu" lanjutku sambil sedikit meledek.
Ternyata memang benar. Indonesia kaya akan ragam suku, bahasa, budaya, dan lain sebagainya. Hanya berbeda daerah saja sudah beda penyebutannya. Buktinya, satu menu makanan saja di lain daerah sudah beda penyebutan. Seperti nama plenggong di atas. Nama tersebut biasa disebut di desa Sawo Campurdarat. Sementara nama gloso biasa disebut di desa Kranding Mojo Kediri. Bahkan, saya pernah dengar, istilah lain untuk makanan tersebut yakni dangglem.
Plenggong, gloso, atau dangglem adalah tiga istilah yang maknanya sama. Yaitu sebutan bagi makanan yang terbuat dari singkong. Lebih tepatnya parutan singkong yang kemudian dibuat bulat-bulat atau lonjong. Dalamnya bisa diisi irisan gula merah, pisang, parutan kelapa dan gula merah, atau yang lain sesuai selera masing-masing. Yang penting tidak diisi angkrang, wkwk. Baru kemudian bahan yang sudah jadi tersebut digoreng hingga matang. Akhirnya plenggong bisa disantap dan enaknya ketika masih hangat.
Tulungagung, 08 Agustus 2025
Komentar
Posting Komentar