Puasa dan Sepak Bola



 



Salah satu perintah agama (Islam) yang wajib dilaksanakan bagi pemeluknya adalah puasa di bulan Ramadan. Puasa ini dilakukan, bukan satu atau dua hari, tetapi selama satu bulan penuh bagi mereka yang tidak memiliki udzur (misal: sakit, bepergian, menstruasi, jompo, dll).  Mereka yang menjalankan puasa akan menahan dari tidak makan dan minum dan mencegah perkara-perkara yang membatalkannya mulai terbitnya fajar hingga masuk waktu magrib. 

Dari pengertian ini, secara bahasa puasa dapat diartikan dengan imsak (menahan, ngeker dalam bahasa Jawa). Makna ini dalam konteks puasa memiliki arti yang sangat luas. Secara umumnya, puasa menahan lapar dan dahaga, serta menahan hawa nafsu dengan batas waktu yang ditentukan. Pengertian ini terbilang mudah,  jika dengan menahan lapar dan dahaga banyak orang bisa melakukan. Namun, menahan hawa nafsu yang memerlukan perjuangan ekstra. 


Menahan dan bertahan adalah suatu yang sulit jika diaplikasikan dalam ranah kehidupan. Oleh karenanya Allah swt merintahkan umat Islam untuk berlatih dalam kahidupannya. Tidak satu atau dua hari lamanya, melainkan satu bulan penuh setiap setahun sekali. Ini mengindikasikan bahwa 'pertahanan' harus selalu dilatih dan dipupuk agar tetap kokoh dan kuat.


Tak ubahnya dalam permainan sepak bola. Sebagai pecinta, 'penikmat', sekaligus juga pernah jadi pelaku saya mengamati bahwa bertahan adalah salah satu strategi. Bertahan bukan berarti kalah atau mengalah. Tapi hal itu strategi jitu yang bisa jadi menjadi jalan kemenangan bagi suatu tim. Bertahan dalam sepak bola bukan berati hanya menahan dari serangan lawan saja. Tetapi juga menahan diri untuk tidak langsung mengoper bola maju ke depan gawang musuh. Para pemain perlu mencari celah dan memancing lawan untuk maju ke depan. Disaat ada celah disitulah ada kesempatan untuk menyerang dan menciptakan peluang menuju kemenangan.


Strategi ini pernah digunakan salah satu tim besar dari Inggris, Chelsea dalam menghadapi Barcelona di perempat final liga Champion beberapa tahun lalu. Dalam perjalan pertandingan, Barcelona (Barca) tim dari negeri matador ini dikenal dengan ball possesion dengan tiki takanya. Hampir setiap pertandingan lebih dari 60 persen bola pasti dikuasai oleh Blaugrana (julukan Barca). Disisi yang lain,  The Blues (julukam Chelsea) tampak menerpkan strategi 'diluar nalar'. The Blues pada pertandingan itu lebih memilih 'parkir bus' menerapkan pertahanan berlapis. Pemain Chelsea lebih bersabar menunggu bola. Dengan sangat disiplin para pemaintidak keluar dari posisi masing-masing. Jika penonton melihat, pertandingan itu pasti terkesan membosankan. Tidak ada 'jual beli' serangan. Atmosfir tidak seperti pertandingn sepak bola yang lain. Ternyata sepak bola tidak melulu siapa dengan cepat yang bisa memasukan ke gawang lawan. Tetapi lebih pada strategi dan kerjasama tim.


Dengan bertahan, apa yang terjadi?. Di atas kertas memang presentase yang menguasai bola memiliki kesempatan lebih untuk menjebol gawang lawan. Tetapi ini tidak. Justru kesebelasan dari London ini di akhir pertandingan menang 2-0 atas lawannya dan menghantarkan mereka menembus final dan bahkan menjuarai liga Champion ada era itu. Dari realita ini, puasa dan sepak bola memiliki sisi kesamaan. Ya kalaupun beda, ya tetap saya samakan..hehe. 


Tulungagung, 19 Maret 2026

Komentar