Kriteria Ilmu yang Bermanfaat

 

Allah melalui Rasul-Nya memberikan perintah bagi seluruh umat manusia untuk membekali diri dengan ilmu. Perintah itu disebutkan secara tersurat maupun tersirat dalam Alquran dan Hadis. Perintah iqra' (bacalah dengan berbagai konteks yang mengitari) yang secara spesifik tertulis dalam Alquran menjadi satu contoh bagaimana dengan tegasnya Dia memerintahkan untuk mencari ilmu. Terlebih lagi, ayat itu merupakan ayat pertama kali turun. Hal ini menjadi sebuah pertanyaan besar, mengapa Allah tidak menurunkan ayat-ayat tentang hukum, ibadah,  atau yang selainnya?. Karena itulah hal ini menjadi penegasan akan pentingnya ilmu. 


Membaca Alquran misalnya,  jika tidak didasari dengan ilmu bacaannya (ilmu tajwid) maka bacaan akan morat marit. Sebagaimana dinyatakan dalam nadham tanwirul qori.

Ngaji qur'an iku kudu gawe tajwid*Lamun ora mongko wacan morat marit. (membaca Alquran wajib dengan tajwid*jika tidak bacaan akan jadi rusak). Begitulah pentingnya ilmu dalam melakukan sesuatu.


Maka dari itu penting   untuk mencari ilmu yang bermanfaat. Dalam hal ini, _Imam al-Ghazali_ memberikan tanda-tanda atau kriteria suatu ilmu yang manfaat pada diri seseorang muslim.


Pertama, bersumberkan dari Alquran dan sunnah. Tidak dapat dipungkiri bahwa sumber segala sumber ilmu dalam Islam berasal dari dua sumber tersebut,  yakni Alquran dan sunnah Nabi Saw. Umat Islam telah sepakat bahwa Alquran yang notabene kalam Allah Swt semenjak pertama kali diturunkan pada masa Nabi Saw hingga sekarang masih terjaga keotentikannya. Alquran berisi petunjuk-petunjuk bagi seluruh umat manusia di dunia. Oleh karena itu, jikalau seorang muslim yang mengkaji Alquran -selama dengan metode dan ilmu yang benar- pasti akan bernilai kemanfaatannya. 


Begitu juga dengan bersumberkan sunnah atau hadis Nabi Saw. Sunnah Nabi Saw adalah tuntutan real 'wahyu' Allah Swt yang diejawantahkan dalam setiap aspek perilaku kehidupan sosok Muhammad. Jadi setiap perilakunya adalah 'wahyu' yang menjadi simbol dan teladan bagi umat manusia. Sehingga akan terasa jelas, dikala sumber ilmu seorang muslim berasal dari sini akan terasa kebermanfaatannya.


Kedua,  mendekatkan diri pada Allah. Seseorang yang memiliki ilmu manfaat salah satu kriterianya adalah dapat mendekatkan dengan Sang Sumber Ilmu, yakni Allah Swt. Lalu pertanyaannya, apakah ada ilmu yang menjauhkan pada Sang Sumber Ilmu? pada dasarnya ilmu itu semua baik. Tetapi jika ada buruknya itu kembali pada yang menerima atau para pencari ilmu itu (manusia). Misalnya, ilmu 'maling' jika dipelajari oleh seseorang yang tidak bermoral maka akan menjauhkan dari Allah. Karena ilmu itu dimanfaatkan untuk merugikan orang lain. Dan sebaliknya,  jika ilmu itu dipelajari oleh  seseorang yang kredibel di bidang itu,  misal para aparat yang bertugas memberikan keamanan dan ketertiban lingkungan, maka bukan menjadi penghalang bagi mereka untuk mendekatkan diri pada Ilahi. Karena memang ilmu yang dipelajari ini bisa bermanfaat bagi dirinya sendiri maupun orang lain sehingga mendatangkan ridho Ilahi.


Ketiga,  diamalkan. Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa kriteria ilmu yang manfaat tentu diamalkan. Ibarat pohon yang memiliki buah,  sehingga bisa dimanfaatkan bagi orang banyak. Sebaliknya, ilmu yang tidak diamalkan ibarat pohon yang tidak berbuah sehingga tidak bisa dimanfaatkan bagi banyak orang. 


Keempat, mendatangkan akhlaq terpuji. Ilmu yang manfaat akan menjadikan pemiliknya memiliki sikap terpuji. Seseorang yang berilmu tentu memiliki pengetahuan bagaimana dia berperilaku terhadap dirinya sendiri dan terhadap sesamanya. Dan tentu saja,  apa yang diperbuat tidak keluar daru koridor maslahat. Artinya, perilaku yang ditebar ialah perilaku baik atau akhlaq terpuji yang dapat dipandang baik oleh selainya.


Kelima,  Karakter ilmu yang bermanfaat selanjutnya ialah dapat mendatangkan taqwa pada Alloh. Secara literal mkna taqwa ialah menjalankan semua perintah dan larangan Allah swt. Nah, kriteria orang yang ilmunya bermanfaat tentu saja akan selalu bertambah taqwanya pada Allah. Bukan sebaliknya. Jika seseorang yang mencari ilmu -entah itu ilmu agama atau selainya- akan tetapi ia justru meninggalkn perintah Allah maka bisa dipastikan ilmunya tidak bermanfaat. Begitu juga sebaliknya, seorang yang memiliki ilmu tidak mau melanggar segala sesuatu yang telah ditetapkan oleh Allah swt. Karena mereka yang bertambah ketaqwaannya sadar bahwasanya segala ilmu yang dimilikinya berasal dari Sang Sumbernya Ilmu,  yaitu Allah swt.


Tulungagung,  10 September 2025

Komentar