Drama lil Muhsinin

 

Sampai dua atau tiga pertemuan,  dia ngambek,  marah, gedor-gedor meja, kitabnya dirobek,  dan puncaknya ibuknya _diamuk_ . "Aku ndak iso, (sambil nangis)". Kata Wafa. "eh,  dipersani. Dibaca sek. dititeni hurupe (sambil menunjuk kalimat _lil muhsinina_)" jawab si ibuk.  Tetap saja si Wafa ngotot. Dia ngambek,  gak mau meneruskan lagi. Lari pergi ke kamar. 


"Buk, bukankah seusia dia masih taraf imitasi. Gak langsung kon moco, marai dia mikir". Kataku. "Aku jadi bertanya-tanya. Kalau begini,  apa ada yang salah dalam metode ngajar kita, kok sampai begini ceritanya?. Aku hanya khawatir,  jika dia memiliki trauma dalam belajar agama."


Saat ini Wafa memang sudah masuk iqra' jilid empat. Alhamdulillah. Tingkat kesulitannya juga semakin tidak mudah. Tetapi sebenarnya, si bocil tanpa dibacakan terlebih dahulu dia sudah bisa mengeja satu demi satu huruf yang sudah dapat didengar kalimatnya. Hanya saja pada bagian tertentu memang dia tidak ingat dengan yang pernah kami ajarkan atau memang materi baru yang belum pernah kami ajari.


Kembali ke akar masalah di atas. Jadi pada pertemuan beberapa hari lalu dia mau membaca kalimat,  "wabusyro lilmuhsinina". Ketika membaca "hum" dia bisa. Giliran mulai redaksi 'lil...'. "aku lali...dsb". Si ibuk coba menjelaskan, "iki lek berdiri sendiri kan dibaca 'a' (alif), tapi...lek digabung jadi?". jelas si ibuk. "emoooh aku lali buuk (dengan nada agak tinggi dan agak merengek). Si ibuknya tetap ngotot gak mau kasih tahu jawabannya langsung. Dan Wafa juga demikian. Entah memang dia lupa atau karena alasan yang lain. Hingga akhirnya meledak,  sebagaimana hal yang saya kemukakan di atas.


Kemudian saya coba bernegosiasi dengan Wafa, agar dia mau belajar ngaji lagi. Saya turuti apa yang dia mau. "mengke tak dudei carane maos, kae mau dibaca 'lil..'..ok?" Kataku. Namun dia juga belum mau menindak lanjuti apa yang saya katakan. Dia belum ingin ngaji lagi. Ok,  saya terpaksa memakai jurus 'ancaman'. "lek ndak mau ngaji, 'super mario' (mainan di hp)  tak hapus wae, ndak usah youtuban lek hari Minggu". Ancamanku. Dia tampak malah meledak-ledak. Masih belum bisa damai dengan keadaan. Tetapi akhirnya dia mau lagi belajar ngaji, meskipun agaknya dia berat hati untuk melakukannya.


Ini menjadi pelajaran penting bagi kami. Ternyata, mendidik anak harus extra sabar. Terlebih lagi memberikan didikan tentang ilmu agama. Yang tentu menjadi suatu yang fundamental dalam dirinya. Kami sadar bahwa ini menjadi kewajiban dan tanggungjawab kami sebagai orangtua. Karena dengan kesabaran itulah yang akan menjadikan kami belajar akan makna keikhlasan.




Tulungagung, 18-22  Juli 2025

Komentar