Semua Guru, Semua Murid: Belajar di Universitas Kehidupan



Judul ini sengaja saya ambilkan dari jargon yang diusung Narasi tv dalam acara "Shihab dan Shihab". Acara yang membahas berbagai problem kehidupan yang diisi oleh Prof Quraish Shihab sebagai narasumber dan Najwa Shihab sebagai presenternya. Jargon tersebut memang relevan dengan kahidupan umat manusia dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Karena setiap manusia memiliki potensi untuk menjadi 'guru' dan pada saat yang sama juga menjadi seorang 'murid'.


Dengan sikap demikian, seseorang tidak akan memiliki sikap sombong. Karena, pada suatu saat dia akan menjadi seorang murid dikala ia mendapati suatu hal yang belum pernah ia dapati atau yang dia tahu dari orang lain. Tentu dalam hal ini seseorang harus mengakui posisi sebagai 'murid'. Meskipun orang yang telah memberikan pengetahuan itu secara akademik derajatnya lebih rendah daripada kita atau umurnya tidak jauh lebih muda daripada kita.


 Begitu juga sebaliknya, bisa jadi di lain waktu kita menjadi seorang 'guru'. Dimana informasi-informasi yang kita sampaikan barangkali menjadi hal baru bagi mereka. Dengan meyakini hal demikian,  tentu kita akan bersikap dengan hati-hati dan tidak sembarangan dalam bertingkah.


Pada tulisan ini saya coba menekankan pada posisi saya sebagai murid. Karena saya menyadari betul akan kekurangan pada diri saya pribadi. Saya banyak belajar dari banyak orang,  tidak hanya secara formal tetapi juga belajar dari ruang informal. Dalam konteks ini,  belajar dari universitas kehidupan. Selama bersosialisasi dengan banyak orang, saya menyadari tidak sedikit pengetahuan yang saya ketahui. Misalnya pengetahuan itu datang dari kolega maupun rekan kerja.

 

Dari rekan kerja misalnya,  saya memiliki seorang rekan yang kira-kira berumur setengah baya. Sebut saja namanya Kopral Jono. Dari segi umur,  tentu dia lebih senior daripada saya dan dari pengalaman dalam segi apapun tentu juga lebih banyak dibanding dengan saya. Bawaannya yang santai dan kalem sudah menjadi 'role model' buat saya. Ini saja sudah jadi sebuah pelajaran bagi saya.


Satu hal lagi yang menjadi pelajaran bagi saya, yakni tentang berdoa dengan khusyuk. Sebatas pengetahuan saya tentang Kopral Jono, semasa bulan Ramadhan ia tidak pernah berpuasa. Saya beranggapan beliau non-muslim. Itu saja tidak lebih. Terlepas dari hal itu pelajaran penting yang perlu saya ambil  ketika hendak mulai bekerja. Ia selalu duduk termenung dan  menelangkupkan kedua tangannya. Seolah-olah dirinya pasrah pada 'Sang Hyang Widi'. Meminta keselamatan dan kelancaran dalam bekerja. Melihat ritual yang setiap hari dilakukan,  hati saya terketuk. Bukankan juga demikian Islam mengajarkan. Mewajibkan seluruh umatnya untuk selalu meminta perlindungan pada-Nya dengan sungguh-sungguh dan memasrahkan semuanya pada yang kuasa.


Inilah yang dinamakan pelajarang yang didapat dalam "Universitas Kehidupan". Suatu universitas yang kita lakukan tanpa ada batasan SKS, belajar yang tidak akan ada tanda tamatnya (raport/ijazah). Inilah tempat belajar yang tidak pernah ada hentinya (life long education). Karena itulah pelajaran sesungguhnya.


Tulungagung, 14 April 2025

Komentar