Tadarus Alquran: Dahulu dan Sekarang

Bulan Ramadhan adalah salah satu bulan yang di muliakan dan diistimewakan oleh Allah swt. Karena dalam bulan ini banyak mengandung keistimewaan-keistimewaan di dalamnya. Di antaranya ialah bulan dimana diturunkannya Alquran ke dunia dan terdapat pula satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan, yaitu lailatul qadar. Karena keistimewaan inilah umat Islam pada setiap bulan Ramadhan mengintensifkan dalam membaca Alquran. Di daerah penulis memyebutnya dengan 'darus' atau 'darusan'. Kata itu berasal dari bahasa Arab, darosa yang berarti belajar. Di daerah asal penulis pada setiap malam di masjid-masjid, mushola atau langgar setelah menunaikan ibadah shalat isyak dan tarawih mereka berlomba-lomba membaca Alquran (biasanya para bapak-bapak dan diteruskan para remaja masjid) yang disalurkan langsung pada toa (speaker) luar masjid. Otomatis suara bacaan mereka terdengar ke berbagai penjuru desa. Biasanya kegiatan ini dilakukan sampai pukul 24.00. Tidak cukup sampai disitu. Kegiatan baca Alquran dilanjutkan di pagi hari. Setelah subuh biasanya dilakukan oleh pak kyai. Kemudian dilanjutkan oleh ibu-ibu sampai sekirar jam 07.00 pagi. Jika di hari libur sekolah, kegiatan ini dilanjutkan oleh para kaum remaja putri masjid. Sungguh fenomena yang menakjubkan. Hari-hari di penuhi dengan lantunan bacaan Alquran. Fenomena di atas dulu penulis dapati di dusun Nglegok desa Kranding kecamatan Mojo kabupaten Kediri. Namun sekarang fenomena sosial keagamaan itu tidak penulis temukan dalam lingkungan baru. Ramadhan tidak ada yang beda dengan hari-hari biasanya. Sepi, senyap, dan vibes-vibes lain tiada penulis temukan. Hanya sesekali setelah maghrib suara-suara anak kecil yang terdengar bunyi darusan dari masjid. Itupun tidak lama. Ketika telah masuk waktu isya', tadarus di masjid dihentikan. Fenomena ini terkait erat dengan ideologi masing-masing. Di daerah asal saya erat dengan kelompok tradisionalis (baca NU). Sementara keberadaan saya saat ini berada dalam lingkungan modernis (baca MD). Dari perbedaan ini, kedua keragaman ini tetap memiliki keunggulan masing-masing. Jadi saya sebagai 'penikmat' kedua fenomena ini sangat menikmatinya. Tulungagung, 10-15 Maret 2025

Komentar