Pupujian di Jawa biasa dilakukan oleh kelompok tradisionalis (baca NU) di Indonesia. Pujian itu dilakukan setelah adzan dikumandangkan, sambil menunggu para jamaah hadir di masjid. Pujian tersebut biasanya berisi tentang sholawat, doa-doa, ajakan beribadah, maupun petuah. Adakalanya pujian itu disenandungkan menggunakan bahasa daerah seperti Jawa, Madura, Sunda, bahasa Indonesia hingga bahasa Arab atau kolaborasi dua bahasa (misal, Arab dan Jawa).
Di era kini pujian di masjid-masjid tetap lestari. Anak-anak, kaum muda, maupun tua saling bersahut-sahutan menyenandungkan pujian dikala waktu sholat dimulai.Akan tetapi, seiring dengan merebaknya pepujian dengan bahasa Indonesia maupun Arab, bahasa lokal (dalam pengamatan saya) mulai tersingkirkan. Di masjid-masjid sekitar saya sekarang ini misalnya, saya jarang sekali mendengar pujian-pujian dengan bahasa Jawa. Salah satu pujian yang saat ini jarang saya dengar ialah pujian yang khusus di senandungkan di waktu subuh. Disini saya coba mengingat-ingat memori pujian tersebut, karena pujian ini sering saya dengan sewaktu kecil. Pujian subuh ini dulu sering saya dengar dari Pakde Muhson, muadzin kondang di dusun Nglegok. Berikut lirik syiir subuh tersebut:
_astaghfirullohal adzim 3x_ _innallohal ghofururrohim_
_poro konco lan sedulur, iki crito lan pitutur_
(wahai para sahabat dan saudara, ini cerita dan petuah)
_wektu subuh, wektu tafakkur, ojo enak-enak ono nduwur kasur_
(waktu subuh, waktunya tafakkur, jangan enak-enak di atas kasur (tidur))
_ngelingono siksane kubur, banget loro kang tanpono den ukur_
(ingatlah dengan siksa kubur, sangat pedih dan tanpa dapat diukur)
_turu ijen ora ono batur, kejobo gelem ngamal sholeh, laku jujur_
(tidur sendirin tiada kawan, kecuali bagi mereka yang mau beramal sholeh dan berbuat jujur)
_ono kuburan bantale gembur,.....
(di dalam kubur berbantalkan gembur (tanah yang dibuat berbulat-bulat)
tondo pedot kejobo ngamal kang telu_
(tandanya terputusnya semua amal, kecuali tiga perkara)
_kaping pisan manfaate ngelmu, kaping pindo shodaqoh jariyah kelaku_
(yang pertama ilmu yang bermanfaat, yang kedua shodaqoh jariyah yang terus mengalir)
_kaping telu anak sholeh sugih ngelmu, sabendino dungo siang lan dalu_
(yang ketiga anak sholeh yang banyak ilmu yang setiap hari berdoa siang dan malam)
_boten gadah sayah lan keju_
(tidak merasakan payah dan bosan)
_perlu donga ake bopo kelawan ibu_
(tuk keperluan mendoakan bapak dan ibu)
Dari sisi karakternya, syiir di atas mengandung sajak yang mengandung unsur a-a-a-a. Seperti halnya kita lihat pada akhir setiap bait berbunyi huruf "r" dan "u". Dari sini kita bisa mengamati bagaimana kecakapan pencipta syiir tersebut.
Sementara dari lirik syiirnya, pujian di atas tampak berisi bacaan istighfar yang tentu isinya memohon ampunan pada Allah swt. Kemudian pada intinya pujian ini berisi petuah-petuah bagi para muslimin dan muslimat untuk bertafakkur di waktu subuh. Syiir ini mengingatkan bahwa kematian setiap insan adalah suatu yang setiap waktu pasti akan datang. Dari situ kita juga diingatkan bahwasanya ketika berada di alam kubur tidak ada seorangpun yang kan membersamai, kecuali amal-amal baik kita yang pernah dilakukan semasa hidup di dunia.
Dalam syiir di atas, kita juga diingatkan bahwa amal semua umat manusia akan terputus jika mereka sudah tiada, kecuali tiga amal sebagaimana hadis nabi saw yang sudah populer yaitu shodaqoh jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak sholeh. Ketiga hal inilah yang akan menjadi ladang amal bagi mereka yang telah meninggal dunia.
Tulunggung, 09-15 Maret 2025
Mengenang masa kecil... Dibeberapa wil masih lestari : Mantap.
BalasHapus