Seperti pada hari biasanya. Setiap bakda maghrib, kami menjadwalkan Wafa untuk belajar a ba ta. Sepulang dari masjid, Wafa langsung ambil jilid/iqra'. Meskipun terkadang butuh perjuangan untuk "ngereh-ngereh" agar mau ngaji. Ya, perlu kesabaran dan perjuangan ekstra menghadapi bocil usia empat tahun ini. Karena hal itu sudah menjadi kewajiban bagi kami untuk mendekatkan dirinya dengan Alquran dan mengajarinya.
Yak, 'kembali ke laptop'. Topik permasalahn dalam tulisan ini. Singkatnya, Wafa sudah mau memulai ngaji. Doa ta'awudz dan basmalah sudah diucapkan beserta surat al-Fatihahnya. Pada bacaan iqra 1 alhamdulillah berjalan lancar.Yah,meskipun dibalik itu semua ada perjuangan untuk "ngereh-ngereh" dengan mengeluarkan berbagai jurus agar tetap mau ngaji. Dan untuk selesai iqra 1 memakan waktu beberapa bulan.
Kini dia mulai masuk iqra 2. Tentu tingkat kesulitan agak berbeda dari iqra sebelumnya. Kalau iqra 1 masih 'di petal-petal', pada iqra 2 mulai diperkenalkan dengan huruf gandeng-gandeng. Mulai gandeng dua huruf sampai tiga huruf. Sebelum memulai kami peelu jelaskan terlebih dahulu huruf-huruf yang awalnya sdudah familuar maka akan berbeda bentuk kalau digandeng. Ini tantangan baru bagi Wafa. Awalnya dia mogok, tidak mau melanjutkan tetapi setelah diperjuangkan akhirnya dia mau juga meneruskan.
Masih di iqra' 2. Nah, ini tantangan 'terberat' bagi dia. Pada pertemuan selanjutnya ialah mengenal mad thabi'i. Yakni membaca panjang satu alif atau dua ketukan. Pada perkenalan ini, kami sudah menjelaskan sebelumnya, bahwasanya jikalau ada suatu huruf yang ditambahkan 'alif' maka harus dibaca panjang dua ketukan.
"Waf, niki lek wonten tambahan genter ngadek, hurupe dibaca panjang dua ketukan. Nah misale niki, huruf "ma" niki bare enten genter ngadek, jadi dibaca "maa"." Sedikit saya berikan penjelasan.
"Emoh aku bacane panggah, "ma"." Wafa nyauri
"Loh, lek ngoten saman engko gak gak tambah-tambah jilide" sahut si Ibuk.
Wes angel, sebenarnya di bisa menirukan apa yang kami ajarkan, tetapi mengan dia suka buat drama. Entah itu ada huruf-huruf yang ditambahlah, apalaha, pokoknya sesuka-suka dia. Ya, kami ikuti aja, yang penting dia mau ngaji dulu.
Drama dengan pengenalan mad thabi'i belum berakhir. Hari pertama dia masih 'mbegot' tidak mau melanjutkan. "Shodaqollohul adzim" dengan lantangngnya dia menutup ngajinya yang tanpa kami suruh berhenti.
Hari berikutnya, seperti biasanya bakda maghrib kami suruh ngaji. Pelajaran tetap pada halaman kemarin. Seperti hari kemarin, setelah diberi penjelasan tetap saja tidak mau membaca. Dia ngotot, bacaan mad thobi'i tetap dibaca pendek. Berbagai cara kami lakukan, mulai dari ngasih reward sampai 'ancaman', dsb. Baru saja mulai satu huruf, "Shodaqollohul adzim..." dengan nada khasnya menyudahi sendiri. Kami hanya nebah dodo..Ya sudah besok dicoba lagi.
Drama mad thabi'i sampai pada hari ketiga. Sebelum memulai kami memberikan iming-iming. Dan ini menjadi jurus 'terakhir'.
"Waf,.lek sampean iso nglewati bacaan iki. Mengke sampean tak tumbasne coco kranch satu kaleh yupi satu" Tawaran si ibuk.
"Coco kranch dua buk." tawar si Wafa.
"Satuuu, kan kaleh yupi mbarang" Sahut si ibuk.
Oke. lanjut ngajinya. Daaan.."Maa", "Haa", "Yaa"... alhamdulillah dia mau membacanya dengan arahan kami. Dan sesuai dengan janji, habis isyak kami berikan coco kranch serta yupinya.
Ternyata, mendidik anak itu gampang-gampang susah. Jika pas susah-susahnya, kita gak boleh nyerah. Di setiap kesulitan pasti ada kemudahan.
Tulungagung, 15-17 Desember 2024

Komentar
Posting Komentar