Sepatu Perjuangan, Sepatu Kenangan

 


Kamis,  24 Oktober 2024 menjadi momen yang menegangkan bagi saya. Hari itu adalah waktunya ujian CASN yang berlokasi di Blitar. Tepatnya di gedung kesenian Aryo Blitar yang terletak di jl. Kenari, kecamatan SananWetan. Beberapa hari sebelum hari H,  saya telah mempersiapkan diri. Mempelajari rute melalui google maps. Perjalanan sekitar 1 jam lebih dari rumah saya di Campurdarat.


Jadwal saya ujian pada sesi kedua, pukul 10.30 WIB-12.10 WIB. Namun di pengumuman tekah diberitahukan bahwa kehdiaran peserta 90 menit sebelum ujian. Berarti,  paling tidak saya jam 09.00 harus sudah sampai di lokasi. Ok, jam 7 tepat saya berpamitan pada ibuknya Wafa, dan tak lupa pada mertua. Motor saya starter, saya pacu pelan,  dan ketika sampai jalan raya baru agak ngebut. 

Tidak terasa sudah satu jam lebih sedikit saya sampai lokasi. Saya menuju lokasi parkir terlebih dulu. Motor saya parkir kemudian menuju lokasi persiapan ujian. Mulai dari pendaftaran, screning body, dll. Hingga ada akhirnya ujian dilaksanakan sampai usai.


Nah insiden baru terjadi setelah saya keluar dari ruangan. Lokasi yang saya tuju ialah mushola. Di mushola juga tampak ramai dengan para peserta ujian maupun keluarga pesertta yang turut serta mengntarkan putra-putrinya, istri atau suaminya, dll. Saya memilih melakukan sholat terlebih dulu karena angen-angen saya saat diperjalanan pulang nanti sudah tidak memikirkan akan melakukan sholat dhuhur. Okelah, sesampai di mushola,  sepatu saya lepas dan ambil air wudhu. Saya masuk mushola dan sholat empat rokaat.


Setelah selesai, saya scroll-scroll HP sembari beristirahat. Capek sudah hilang saya bergegas keluar ruangan. Eng ii eeng, saya tengok kanan tengok kiri cari sepatu . Saya pandangi satu persatu sepatu yang ada di depan saya. Saya berdiri agak lama di teras musola. "Hayo...karo sepatune dewe lali.." Sahut seorang bapak yang berseragam Dishub. "La nggih to pak, sepatdi seleh mriki koq boten wonteen". Jawab saya.


Akhirnya saya coba tunggu duduk di deoan ditempat dimana saya menaruh sepatu. Barangkali ada seseorang yang lupa atau keliru memakai sepatunya. Sekira sampai 20 menitan. Saya coba kelilingi mushola dengan 'nyeker'. Hasilnya nihil. Sepatu gak ketemu. Rasane pengin sambat. Tapi kepada siapa. Saya kira petugas yang berjaga di sekitar juga tidak akan menanggapinya. Lha wong misalya sudah dipakai seseorang ya gak bakal tau arahnya kemana, dll.


Ini menjadi hari yang kurang beruntung bagi saya. Sepatu itu adalah pemberian bapak sebagai simbol untuk mengantarkan saya pada kesuksesan yang didamba-dambakan. Memang sepatu inilah yang saya gunakan sewaktu kuliah s2 dan ketika ada ikut seminar-seminar atau acara formal. Terlebih,  sepatu ini puka yang saya gunakan saat resepsi pernikahan saya dengan Athifah Thoharoh.


Lebih kurang legowo lagi dikala melihat keletihan istri. Ketika saya hendak ikut berbagai acara kampus atau formal,  dia yang selalu telaten bantu ngelap dan cuci kaos kaki. Dia juga yang merawat, menaruh di rak membungkusnya dengan kresek agar tidak terkena debu, dll. Meskipun harganya tidak seberapa, sepatu itu penuh kenangan dan perjuangan bagi saya. Kenangan yang akan mengantarkan pada kesuksesan.


Tulungangung, 30 Oktober 2024

Komentar

  1. Semoga lolos ujiannya mas..Alloh mudahlancarkan segala urusan..

    BalasHapus

Posting Komentar