Masih tentang maulid. Hingar bingar wajah yang ceria tampak terlihat dari masyarakat desa Sawo kecamatan Campurdarat. Mulai dari anak-anak, remaja, bapak-ibu, kakek-nenek tumplek blek berkumpul di masjid Baitussalam. Masjid yang terletak tidak jauh dari telaga Buret.
Ini adalah kali pertama saya mengikuti peringatan maulid di desa Sawo. Tradisi ini sebenarnya tidak jauh berbeda dengan tempat dimana saya berasa, desa Kranding. Hanya saja tampak sedikit perbedaan dari susunan acara yang diselenggarakan. Jika di dusun Nglegok setelah maghrib ada pembacaan maulid al-Barzanji, disini tidak ada. Sebenarnya dulu pernah ada, namun seiring berkembang zaman generasi penerus dan kordinatornya tidak ada. Praktis pembacaan maulid al-Barzanji di tiadakan. Demikian kata pak No selaku imam masjid Baitussalam. Namun demikian, peringatan maulid nabi tetap berjalan lancar. Susunan acara tidak jauh beda dengan di beberapa tempat yang lain, seperti kirim hadiah Fatihah pada para arwah dan mauidhah hasanah.
Satu hal yang menjadi perhatian saya. Keceriaan dan kebahagiaan para jamaah dalam menyambut hari lahirnya manusia paling mulia ini. Yaitu dari cara mereka memperingatinya. Hampir dalam setiap satu keluarga membawa nasi gurih beserta ingkung (satu ayam utuh yang dimasak jadi lodho). Ini menurut saya suatu bentuk rasa syukur masyarakat atas kelahirannya kanjeng Nabi Muhammad. Bagaimana tidak,mereka yang tidak pernah tau rupa, wajah, ataupun yang lainnya. Tetapi mereka beriman, percaya bahwa seribu empat ratus tahun lalu telah dilahirkan manusia paling mulia di dunia.
Ada yang mengatakan, mengapa nabi Muhammad dilahirkan di bulan-bulan selain bulan yang dimuliakan oleh Allah, seperti bulan Ramadhan, Dzulhijjah atau yang lainnya. Nabi Muhammad dilahirkan pada bulan Rabiul Awwal. Hal ini menandakan bahwa kemuliaan itu berasal dari pribadi Nabi Muhammad itu sendiri. Bukan dari bulan yang dimuliakan tersebut.
Jadi disini sudah sangat jelas bahwa Nabi Muhammad adalah sosok manusia yang berbeda dengan manusia lainnya. Beliau ibarat intan permata diantara batu-batu krikil. Demikian ungkapan yang patut ditujukan pada beliau. Karena kemuliaan inilah, umat Islam wajib bersyukur dan bangga akan kehadirannya. Dengan hanya memperingati hari lahirnya inilah refleksi kegembiraan dan keceriaan yang hanya bisa dilakukan. Akhirnya, acara peringatan maulid berakhir dengan ditandai pembagian nasi dan ingkung secara merata.
Tulungagung, 18-20 September 2024

Komentar
Posting Komentar