Abu Jahal Saja Bahagia: Expresi Peringatan Maulid Nabi

 


Masih tentang peringatan maulid Nabi Muhammad saw. Di era kini, masih saja ada yang menentangkan peringatan maulid. Sebenarnya saya tidak ingin membahas pertentangan seperti ini. Saya anggap ini sudah finish. Biarlah mereka yang memperingati maulid menjalankan ritualnya sendiri. Lha wong mereka juga punya dasar dan argumen sendiri. Tetapi masih ada saja yang mengungkit kebolehan peringatan maulid. Sayang sekali sebagian umat Islam sendiri menilai mereka yang memperingati maulid adalah pelaku bid'ah. Dan pelaku bid'ah adalah orang yang sesat. Dan orang yang sesat akan dimasukkan neraka.


Jika demikian, para jamaah yang memperingati maulid adalah bid'ah dan tidak ada dasar sama sekali dalam ajaran Islam,  okelah tidak apa-apa. Tetapi perihal ini sudah dijawab dan dibahas oleh para ulama-ulama,  kiai,  akademisi dan lain sebagainya. Disini saya tidak  mengambil nash atau dasar dari Alquran dan hadis. Penulis cukupkan saja pada setting historis masa lalu. Yakni masa lahirnya kanjeng Nabi Muhammad.


Waqila, disaat Nabi Muhammad dilahirkan dari rahim Siti Aminah, Abu Jahal seorang paman Nabi saw yang dikenal sangat memusuhi Islam tampak bahagia. Benar, Abu Jahal bahagia atas kelahiran Muhammad. Oleh karenanya,  menurut sementara ulama Abu Jahal diangkat dari neraka. Dalam istilah yang lain, diringankan siksanya.


Dalam konteks ini kita bisa mengambil pelajaran,  bahwa diangkatnya Abu Jahal dari neraka di setiap hari Senin karena pernah bahagia atas kelahiran Nabi saw. Nah, kita yang mengaku-ngaku jadi umatnya tentu menjadi hal yang wajar jika berbahagia pula disaat memperingati hari kelahirannya. Bahkan menjadi satu kewajiban bagi umat muslim sendiri. Sungguh dipertanyakan keimanannya jikalau ia tidak mencintai nabi-Nya. Hanya saja wujud ekspresinya saja yang berbeda-beda.


Nah, tradisi peringatan maulid Nabi muhammad saw di Indonesia khususnya adalah satu ekspresi kecintaan pada Nabi-Nya. Dengan cara dan varian yang berbeda-beda,  tetapi niatny tetap sama. Mengagumi dan memcintai sosok kekasih-Nya.


Tulungagung,  22-23 September 2024

Komentar