Jumat 3 Mei 2024. Kami memiliki rencana pergi ke kota untuk belanja keperluan percetakan. List perbelanjaan sudah kami list. Kami perlu mengunjungi beberapa toko untuk kebutuhan tersebut. Setelah dirasa semua siap, tepat pukul setengah tiga sore kami bertiga berangkat.
Saya berada di depan yang kemudikan motor. Anak dan istri berada di belakang. Berangkat dari rumah saya tidak mengecek terlebih dahulu kondisi motor yang akan kami tumpangi. Saya memastikan semua akan aman-aman saja. Setelah itu barulah saya tancap gas.
Saat ditengan perjalanan, kondisi bahan bakar mulai melemah. Isyarat lampu sudah berkedip-kedip. Maka kami perlu menuju SPBU. Kami menepi di SPBU Beji yang berada di selatan kampus Unita (Universitas Tulungagung). Setelah mengisi bahan bakar, kamipun langsung menuju toko-toko yang telah terlist.
Hampir mendekati perempatan tamanan, saya merasakan motor yang kami tumpangi gleyar-gleyor. Roda (ban) seperti terasa gembos. Namun demikian, motor tetap saya pacu dengan hati-hati hingga sampai tujuan toko pertama. Setelah sampai, saya coba cek ban depan dan belakang. Ternyata benar, ban motor bagian depan kempes.
Saya coba cari informasi orang di sekitar tempat penambalan ban, jawabannya nihil. Tidak ada yang tau pasti tempat tersebut. Saya juga menyadari, karena lokasi saya berada di pusat kota. Hati mulai menggerutu menyesali kejadian itu. Apalagi posisi anak sedang tidur pulas dipangkuan ibunya di atas motor. Mau saya dorong motor, mustahil. Jadi terpaksa saya tancap gas dengan sangat hati-hati menuju toko kedua sambil mencari-cari tempat penambalan ban. Alhamdulillah akhirnya tidak lama kemudian kami dipertemukan. Lokasinya berada di belakang (barat) masjid al-Munawar.
Dari kejadian ini, tentu tidak setiap orang ingin mengalami nasib demikian. Ban bocor dianggap sebagai momen apes oleh setiap orang. Terlebih lagi ketika yang bersangkutan menuju suatu lokasi atau memiliki kepentingan yang tidak bisa ditunda-tunda. Namun jika sudab demikian, maka kita harus bisa mengambil hikmah dari kejadian itu.
Hikmah yang dapat saya ambil dari ban motor yang bocor. Pertama, mengetahui keadilan Tuhan. Kita sebagai umat manusia yang mengakui adanya Tuhan Yang Maha Kuasa, pasti juga meyakini sikap keadilan-Nya. Sementara sifat yang mustahil pada-Nya tentu sebaliknya. Namun, terkadang kita sebagai umat manusia merasakan suatu kejadian atau ketetapan Tuhan yang kita anggap sebagai bentuk ketidak adilannya pada kita.
Ban motor yang bocor bukanlah nasib apes yang sedang saya alami. Tetapi satu bentuk keadilan-Nya. Saya harus bisa memenej dan merubah mindside saya terkait hal tersebut. Jadi tetap harus positif thinking terhadap Yang Mahakuasa.
Kedua, merasakan nikmatnya berbagi. Kita tidak tahu akan kebutuhan masing-masing orang. Terutama kebutuhan ekonomi ketika hidup di dunia. Ada dari mereka yang cukup kebutuhannya, tetapi ada pula yang kurang. Sehingga harus berjuang untuk mencukupi kebutuhan tersebut. Bukan hanya untuk keperluan dirinya sendiri, tetapi juga anak istri.
Oleh karena itu, agama menyarankan untuk berbagi (sedekah) kepada sesama. Menurut Gus Baha', seorang berbagi tidak harus dalam konteks bersedekah, yakni memberikan sesuatu kepada orang lain dengan sukarela (ikhlas). Tetapi juga ada cara lain agar bisa membuat bahagia orang lain, misalnya dengan membeli dagangan yang sedang dijajakan. Kalau begitu menggunakan jasa tambal ban termasuk kategori ini. Dan beberapa hal lain yang serupa. Pada intinya, disini kita niatkan untuk berbagi dengan ikhlas.
Tulungagung, 10 Mei 2024

Komentar
Posting Komentar