Beberapa bulan lalu, tepatnya diakhir tahun 2023 artikel saya dengan bunda Salamah Noorhidayati terbit di sebuah jurnal yang terindeks scopus. Artikel dengan judul "Hadith Studies in Indonesia: Vernacularization and Teaching Metods of Shahih Al-Bukhari in Traditional and Contemporary Islamic Educational Institutions" yang terbit di jurnal European Journal for Philosophy of Religion pada volume 15 no 3.
Artikel ini berbicara tentang stdudi hadis di Indonesia, khususnya pada kajian kitab Shahih al-Bukhari. Penelitian yang kami lakukan ini sudah lama kami mulai. Dalam ingatan saya, riset tersebut dimulai pada akhir tahun 2019. Sungguh bukan waktu yang sedikit hingga menunggu waktu terbit.
Setelah penerbitan itu, beberapa hari ini saya mendapat kabar dari kolega, bahwa ID Scopus saya sudah keluar. Sempat menduga, dua bulan pasca terbit saya ngecek ID ini, tetapi tidak muncul ID tersebut. Sehingga banyak prasangka, bahwa jurnal tempat terbit artikel tersebut jurnal peedator, atau jurnal bodong. Tetapi, setelah sekitar lima bulan, saya mendapat kabae dari kolega, setelah dicek nama saya sudah tercantum dan berhak memiliki ID scopus. Adapun link yang menunjukkan ID tersebut bisa dibuka pada https://www.scopus.com/authid/detail.uri?authorId=59130834300. Mendapat kabar ini, tentu saya sangat berbahagia.
Nah, sekarang kita berbicara kemanfaatan dari memiliki ID ini. Sependek pengetahuan saya, bagi para akademisi, para dosen atau periset tentu memiliki ID scopus menjadi 'fardhu ain'. Dengan memiliki ID tersebut, karya tulis mereka telah diakui para akademisi di dunia internasional. Oleh karena itu, banyak para akademisi di Indonesia semangat berburu ID tersebut.
Tidak cukup sampai disitu, kebijakan akademik di Indonesia mensyaratkan kenaikan jabatan fungsional, seperti guru besar misalnya, harus dapat menembus jurnal-jurnal yang terindeks scopus dengan sarat menjadu penulis pertama. Dan masih banyak lagi yang lainnya.
Sementara bagi saya, yang notabene belum mengajar di satu kampus manapun. Apa ya kira-kira manfaatnya?.hehe.. Terkadang sempat berpikir, kenapa harus capek-capek 'mengejar' ID itu, padahal belum bisa 'memanfaatkan' hasil kerja keras mendapat ID tersebut.
Meskipun demikian, ada banyak manfaat tentunya bagi saya pribadi. Bukan karena mendapat ID itu, tetapi lebih pada prosesnya. Mulai dari riset mencari ide, menuliskannya, mencari data, dan masih banyak pelajaran yang saya dapatkan. Tentu ini sebagai pengalaman berharga bagi saya. Meskipun belum bisa memanfaatkan hasilnya, setidaknya saya sudah punya 'tabungan' jika suatu saat dibutuhkan.
29-31 Mei 2024

Wah keren mas Thoriq. Kapan2 ilmu njenengan perlu di share nih terkait strategi kepenulisan bisa tembus Scopus. Pasti suatu saat ID tersebut memberikan kebermanfaatan mas. Aamiin
BalasHapus