Teknologi informasi saat ini semakin canggih. Alat-alat tersebut diciptakan untuk kemudahan segala aktivitas umat manusia. Kehadiran mesin komputer, handphone, dan lain sebagainya memiliki dampak dan pengaruh yang sangat besar sehingga mampu merubah segala tatanan hidup seluruh umat manusia. Pekerjaan-pekerjaan manusia jadi semakin ringan dan akses informasi semakin mudah adalah salah dua diantara manfaat yang dirasakan saat ini.
Akan tetapi dampak yang tidak positif juga banyak dirasakan. Kehadiran gawai misalnya, ia hadir sebagai 'pemersatu' antara manusia satu dengan yang lain dalam dunia 'maya'. Tetapi 'tidak' dalam dunia 'nyata'. Pada momen lebaran seperti ini misalnya, tradisi anjang sana dan anjang sini, berkunjung ke rumah sanak keluarga, saudara, atau kolega hanya cukup dengan mengirim gambar atau sekedar ucapan 'Selamat Hari Raya Iedul Fitri Minal Aidzin wal Faizin Mohon Maaf lahir dan batin" melalui pesan WA. Otomatis, 'tradisi lama' yang baik mulai bergeser.
Nah, pada era seperti inilah saya mencoba untuk mempertahankan tradisi lama yang baik (al-muhafadhoh ala al-qadim al-shalih). Tradisi berkunjung ke rumah tetangga dan saudara masih dipertahankan. Kunjungan seperti ini penting adanya, selain untuk merekatkan relasi emosional, juga apa yang disebut oleh orang Jawa dengan istilah 'sobo'. Sobo berarti berkunjung secara kontinyu. Sehingga tidak menjadi asing karena seringnya kunjungan yang dilakukan.
Kunjungan pada momen lebaran itu di daerah Jawa disebut ada beberapa istilah yang digunakan seperti sejarah, bakdan, dan nglencer. Dari ketiga istilah ini, saya sering menyebut dengan ungkapan yang terakhir. Saya tidak tau asal muasal kata 'nglencer'. Ucapan ini sudah lama saya dengar, baik dari orangtua maupun orang-orang di sekitar saya. Tetapi jika diucapkan kata tersebut maknanya sama dengan kedua istilah sebelumnya, yakni kunjungan ke rumah-rumah saudara ketika lebaran.
Adapun dua istilah sebelumnya, yaitu sejarah dan bakdan jika diungkap memiliki makna filosofis tersendiri. Pertama, sejarah. Berasal dari bahasa Arab, syajarah yang berarti pohon. Saya tidak tau pasti mengapa istilah ini digunakan dalam penyebutan untuk shilaturahmi di hari raya idul fitri. Saya hanya berandai-andai, istilah tersebut digunakan oleh sebagian orang Jawa karena, sebagaimana ingatan saya, istilah tersebut sebagai simbol. Pada masa kecil, saya sering diingatkan oleh bapak untuk mengunjungi sanak saudaranya yanh sudah menyebar ke berbagai daerah. Nah, pada saat itulah bapak menjelesakan asal usul nasab saudara-saudara tersebut. Yang intinya masih memiliki hubungan kekerabatan dengan keluarga saya. Kaitanya dengan istilah tersebut, makna sejarah (pohon) disini ialah untuk mencari akar atau asal kekerabatan kita dengan saudara yang lain. Dengan mengingat-ingat asal usul ini, maka hubungan kekerabatan akan tetap terjalin. Meskipun asal usul atau orang Jawa menamainya dengan punjer dari seseorang telah tiada.
Kedua, bakdan. Berasal dari bahasa Arab yaitu bakda (setelah). Yang kemudian sering diucapkan oleh orang Jawa dengan istilah bakdan. Konotasi ini bermakana setelah, maksudnya setelah melakukan puasa Ramadhan. Maka untuk melengkapinya mereka mengisinya dengan silaturahmi ke tetangga, saudara, dan lain sebagainya.
Dari berbagai penyebutan istilah di atas, semua memiliki konotasi makna yang sama, yaitu kunjungan seseorang kepada sanak saudaranya di hari raya idul fitri. Yang menjadi penekanan disini ialah, kunjungan secara nyata. Tidak hanya melalui sosial media. Kunjungan seperti ini memiliki banyak manfaat dibanding hanya dengan bertemu pada dunia 'maya'. Kunjungan di dunia maya menjadi opsi kedua, setelah upaya untuk kunjungan di dunia nyata mengalami kendala yang tidak terhindarkan.
Tulungagung, 15-17 April 2024

Komentar
Posting Komentar