Kacang Ora Lali Karo Lanjaran

 



Orang Jawa memiliki cara tersendiri dalam memberikan pelajaran atau tarbiyah bagi komunitasnya. Ada banyak metode atau cara yang digunakan oleh para ulama atau cendekiawan Jawa dalam menyampaikan nilai-nilai atau etika budaya. Media tersebut bisa dengan bentuk onen-onen, dolanan, lagu-lagu atau nyanyian, dan lain sebagainya yang kesemuanya memiliki nilai-nilai filosofis.


Salah satu onen-onen yang biasa kita dengar ialah "kacang ora lali karo lanjaran". Kata ini jika diartikan secara harfiah berarti "kacang tidak lupa dengan lanjaran". Makna filosofis ungkapan ini ialah semua akan kembali pada asal-usul. 

Sebelum mengetahui lebih dalam makna di atas, perlu kita ketahui bahwa pada dasarnya ada banyak jenis kacang-kacangan. Di Jawa dikenal ada kacang tanah,  kacang krotok (jogrok), kacang ijo, dan kacang panjang (sayur). 


Nah, yang dimaksud dengan kacang tersebut ialah kacang panjang. Karena dari beberapa jenis kacang tersebut yang menggunakan lanjaran hanya kacang panjang. Lanjaran adalah sebilah atau sebatang bambu yang dibuat untuk rambatan pohon kacang. Jadi fungsinya jelas, lanjaran berguna agar "memperkokoh" pohon kacang agar bisa berbuah.


Nah maksud dari kacang ora lali karo lanjaran disini intinya pelajaran bagi kita bahwasanya seseorang ketika sudah melalang buana kemanapun maka selayaknya ia kembali pada asalnya. Pohon kacang bisa merambah kemana-mana, dapat tumbuh dan berbuah namun jangan lupa dengan lanjarannya. Ya karena dengan lanjaran itulah pohon kacang bisa tumbuh besar dan bisa dimanfaatkan hasilnya.


Seorang anak yang pergi merantau dan sukses, maka selayaknya ia ingat dengan orangtuanya. Ingat dengan asal usul mereka. Maka tradisi mudik yang ada di Indonesia saat ini adalah suatu keniscayaan yang sangat relevan dengan ajaran Jawa. Dimanapun tempat perantauannya, ketika hari raya telah tiba maka mereka semua akan kembali pada asal-usulnya. Tempat dimana orangtuanya berada dan melahirkannya.


Begitu pula yang saya lakukan. Pasca menikah, beberapa kali momen lebaran saya tidak bisa ikut ngumpul dengan keluarga besar yang ada di Kediri. Saya harus mengalah, hari raya pertama bersama keluarga istri di Tulungagung. Oleh karena itu, saya bisa kembali ke Kediri pada hari raya kedua. Saya mengajak istri dan anak untuk sungkem pada bapak dan emak di Kediri. Kegiatan yang saya lakukan ini sebagai upaya untuk tidak melupakan 'lanjaran' yang telah membuat saya berdiri dan tumbuh hingga saat ini.


Itulah makna filosofis "kacang ora lali lanjaran" yang telah membekas dan mendarah daging bagi orang Jawa. Petuah yang baik, maka sudah menjadi keharusan bagi orang Jawa untuk menjaga tradisi dan melestarikannya.


Kediri, 11 April 2024

Komentar

Posting Komentar