Spiritualitas Menulis

 




Menulis adalah proses menuangkan ide ke dalam sebuah rangkaian kata-kata. Yang didalamnya memuat berbagai konsep, teori dan pesan-pesan yang hendak disampaikan seorang penulis. Namun demikian, dalam kreativitas penulisan ini tidaklah cukup hanya dengan menulis. Hanya kerja otak manusia yang menuangkan gagasan-gagasannya semata. Lebih dari itu, penulis yang mengetahui tentang 'hakikat' makna sebuah kahidupan, maka dirinya akan menyandarkan segala perilakunya kepada sesuatu yang 'transendental'. Termasuk dalam hal ini kegiatan menulis.


Dimensi lain yang bisa dijadikan sebagai modal penting dalam menulis adalah  spiritualitas. Dengan memperhatikan dunia spiritualitas ini, penulis menyandarkan apa yang sedang dikerjakan dengan Yang Mahakuasa. Karakter seorang penulis yang memperhatikan bentuk kesadaran akan menulis dapat dilihat dari bagaimana cara ia mengawali, dalam proses menulis, dan ketika mengakhirinya. Dan yang paling penting adalah niat dan tujuan mereka melakukan menulis.


Pertama, ketika hendak mengawali penulisan, dirinya selalu membaca basmalah. Sebagai seorang muslim, kita pasti tau apapun yang hendak kita lakukan hendaknya karena semata hanya mencari keridhaan Allah. Sulit memang, bagi yang belum terbiasa. Saya juga merasakan demikian, karena menulis yang saya lakukan lebih bersifat pragmatis. Dengan alasan ekonomis misalnya dengan niatan untuk menafkahi keluarga.


Memang terlihat agak kontras. Motivasi yang saya tanamkan. Tetapi memberikan nafkah keluarga juga suatu kewajiban yang harus saya penuhi. Dari motivasi ini, saya teringat dawuhnya mbah KH. Bisri Musthofa, penulis prolifik dari Rembang. 

Mbah Bisri mempunyai strategi, 'menipu setan'. Jadi motivasi awal menulis beliau didasarkan pada -maaf kalau saya salah menilai- alasan pragmatis, dengan niatan bekerja mencari nafkah. Dengan motivasi ini, keinginan menulis menjadi sangat kuat. Alhasil, beliau mampu melahirkan berbagai macam karya. Ketika sudah berwujud karya, baru beliau berusaha untuk ikhlas. Begitu jualah yang dilakukan adik kandung beliau, Mbah Misbah Musthofa yang juga seorang kiai prolifik.


Kembali ke masalah awalnya, jika seorang penulis bisa dengan istiqamah melakukan kegiatan ini, yaitu baca basmalah setiap kali menulis, insya Allah entah berasal darimana datangnya, tulisan yang dihasilkan akan membawa keberkahan bagi penulisnya. Hal inilah yang dirasakan novelis yang saat ini namanya 'membumi', Khilma Anis dengan karyanya berjudul "Hati Suhita".


Kedua, menjaga kesucian jiwa. Spiritualitas penulis yang hendaknya ditanamkan ialah dengan menjaga kesucian jiwa. Dalam konteks terkecil, yang dapat dilakukan para penulis ialah dengan mengambil wudhu sebelum membuat tulisan. 


Saya teringat dulu ketika ngaji ta'limul muta'alim. Seorang murid atau pelajar ketika sedang belajar hendaknya untuk selalu menjaga wudhu. Dalam artian suci dari hadas. Tentu menjadi pengecualian bagi kaum perempuan yang notabene sering dapat udzur setiap bulannya. Kesucian badan (dan hati) akan menjadikan jiwa 'bercahaya' sehingga akan mudah terserap ilmu yang sedang dipelajari. 


Begitu juga dengan penulis. Spiritualitas yang perlu untuk diterapkan ketika menulis adalah menjaga kesucian. Menjaga wudhu menjadi solusi yang paling tepat dalam konteks ini. Dengan menjaga kesucian jiwa, insya Allah ketika dalam proses menulis akan dipermudah oleh Allah. Saya yakin, para ulama-ulama kita ketika menulis suatu karya pasti dalam keadaan suci. Dengan kesucian jiwa ini menjadikan proses penulisan menjadi lancar tiada halangan. 


Menjaga kesucian ini, terlihat sangat mudah untuk dilakukan. Namun ternyata juga perlu perjuangan untuk menerapkannya. Jujur saja, saya belum bisa mempraktikkan perihal demikian. Namun, hal ini perlu saya coba dan perjuangkan. Selain karena perintah agama, menjaga wudhu juga menjadi sarana tersampaikannya pancaran ilmu-Nya.


Tulungagung-Kediri, 29 Oktober-5 November 2023

Komentar

  1. Betul sekali. Hal yang terlihat simpel memang sulit di terapkan. Pun saya juga demikan. Tp berusaha sebisa mungkin

    BalasHapus

Posting Komentar