Oleh-oleh Kopdar X: Travel Writing

 


Thoriqul Aziz


Setiap kali bertemu dengan orang baru, pasti ada hal baru yang saya dapat. Namun jika setiap kali bertemu dengan 'orang lama' masih saja ada hal baru yang saya dapatkan, berarti memang orang-orang 'lama' yang pernah saya jumpai memiliki segudang 'amunisi' untuk disampaikan kepada khalayak ramai. Salah satunya acara kopdar di Unesa kemarin. Banyak ilmu yang saya dapat dari kedua narasumber, salah satunya datang dari Pak Emco.


Dalam materi yang disajikan, Pak Emco memaparkan berbagai macam hal tentang dunia tulis menulis. Salah satu hal yang menjadi ketertarikan bagi saya adalah travel writing. Maksud metode ini adalah menuliskan sebuah pengalaman traveling (berwisata) di suatu tempat. Dalam penulisan ini, kita dapat menuliskan seorang tokoh yang kita temui, menggambarkan suasana tempat yang kita kunjungi, dan hal-hal menarik yang dapat kita sampaikan pada banyak orang. Metode menulis seperti ini sangat menyenangkan bagi sebagian orang. Karena mereka menuliskan sesuatu yang mengesankan.


Dengan metode seperti ini, sebagai penulis pemula, kita dapat mengambil banyak pelajaran. Pertama, kita belajar menyatukan antara paragraf satu dengan yang lain (kohorensi). Tulisan yang baik, sependek pengetahuan saya, adalah yang memiliki koherensi antar paragraf. Kalimat antar paragraf satu dengan paragraf selanjutnya berkesinambungan. Pembahasannya runtut, tidak melompat-lompat. Sehingga alur dalam setiap paragraf dapat dipahami oleh pembaca.


Kedua, mencatat sejarah. Tidak dipungkiri bahwa setiap pergantian waktu yang dilalui oleh setiap manusia adalah proses sejarah. Setiap kejadian sekecil apapun, baik itu kejadian baik atau buruk, apalagi suatu peristiwa yang berharga dalam suatu kejadian seseorang, pasti akan menjadi sejarah yang sangat berharga bagi dirinya. Oleh karenanya, sejarah itu sangat sayang sekali jika dilewatkan. Momen-momen yang biasa jika kita tuliskan, kemungkinan akan memiliki manfaat bagi orang lain. Apalagi momen-momen yang berharga bagi dirinya. Tentu akan sangat disayangkan jika tidak diabadikan. Kalaupun disimpan diingatan, hanya kita yang merasakan. Namun jika dituliskan tentu akan semakin  menginspirasi banyak orang.


Sebenarnya metode travel writing, dalam pengamatan saya, tidak jauh beda dengan apa yang sering disampaikan Prof. Naim. Beliau sering mencatatkan hal-hal atau suatu kejadian yang beliau lakukan. Mengabadikan momen seperti ini sangat penting bagi beliau. Seperti beberapa perjalanan yang dilakukan ke berbagai kota di Indonesia hingga ke luar negeri. Baik itu dalam rangka traveling maupun dalam menjalankan tugas negara. Catatan demi catatan yang ditulis kemudian dikemas dan dijadikan sebuah buku.Alhasil, banyak catatan yang dihasilkan menjadi sebuah buku.


Hal yang sama juga dilakukan oleh Mas Iqbal Aji Daryono (IAD). Beliau saat ini juga menjadi seorang penulis populer yang namanya bertebaran di berbagai sudut toko buku. IAD seorang penulis produktif. Ada banyak bukunya yang sudah terbit di berbagai penerbitan, terutama di penerbit Gramedia. Dalam pengamatan saya, ternyata kunci produktif menulisnya juga dengan metode travel writing. Di banyak postingan fb, beliau sering menginformasikan keberadaannya berkunjung ke berbagai wilayah di Indonesia bahkan sampai manca negara. Hasilnya kemudian dicatat dan dibukukan. Yang terbaru, beberapa hari terakhir, beliau pergi ke Iraq untuk bergabung pada ritual arbain yang dilakukan umat Syiah. Dari perjalanan ini, kemudian ia akan membukukannya.


Tidak hanya beberapa tokoh di atas, ada banyak tokoh di Indonesia yang telah menghasilkan karya tulis dengan metode ini. Kurang afdhol jika tidak menyebut Buya Hamka. Beliau banyak menghasilkan sebuah karya juga karena menggunakan travel writing. Nama lain yang patut kita sebut ialah pak Dahlan Iskan, dan tokoh-tokoh besar dunia lainnha yang berhasil menghasilkan karya serupa.


Tulungagung, 10 September 2023



Komentar