Nasehat Ning Khilma Bagi Para Penulis (2)

 




Thoriqul Aziz


Ada banyak nasehat yang saya dapat dari Ning Khilma sewaktu kopdar kemarin. Tentu sangat disayangkan jika dilewatkan begitu saja. Saya perlu mengabadikan dalam sebuah tulisan. Meskipun tulisan ini tidak begitu panjang. Nasehat tersebut ialah "ojo mati tanpo aran" (jangan mati tanpa nama atau sebutan). Suatu kutipan yang didasarkan pada salah satu tokoh pewayangan Punokawan, yaitu Semar.


Kata-kata semar ini pendek, namun kaya akan makna didalamnya. Wejangan ini, maksudnya jika didalami sangat banyak pelajaran yang bisa diambil.  Maknanya ialah pesan-pesan bahwa janganlah seseorang mati sebelum memiliki nama atau meninggalkan sesuatu yang baik yang sekanjutnya akan menjadi identitas bagi dirinya.


Tentunya setiap orang semua pasti akan mengalami kematian. Namun ada hal yang membedakan diantara umat manusia, yaitu melihat jejak yang ditinggalkan. Seorang yang meninggal tanpa meninggalkan suatu pusaka atau benda yang berharga, maka namanya akan hilang ditelan peradaban. Tetapi jika seseorang yang mati dengan meninggalkan jejak suatu yang berharga, pasti dirinya akan selalu dikenang.


Ungkapan Semar ini bisa dijadikan sebagai pelecut semangat bagi para penulis. Jadi setiap orang perlu berusaha untuk membuat sebuah karya tulis. Meskipun hanya satu karya tulis. Karena dengan karya yang dihasilkan inilah yang akan menjadi 'aran' bagi seseorang jika sudah meninggal. 'Aran' akan tetap abadi, tidak akan ditelan zaman.


Ungkapan ini tak ubahnya sebagaimana motivasi Prof. KH. Ali Mustafa Ya'kub, "wa la tamu tunna illa wa antum katibun" (janganlah kamu mati sebelum menulis). Ungkapan yang sangat menohok, tetapi memang ungkapan ini jika kita terapkan maka akan sangat berarti bagi kehidupan kita. Ungkapan yang akan mendorong kita untuk menulis, menulis, dan menulis.


Kembali pada pembahasan di atas, ungkapan yang dikatakan Semar tadi menjadikan kita untuk terus berkarya. Agar hidup kita didunia bisa bermanfaat bagi orang lain, orang-orang yang berada di sekitar kita,  seluruh umat manusia pada umumnya, agama, bangsa, dan negara.


Tulungagung, 13-14 September 2023

Komentar

Posting Komentar