Thoriqul Aziz
Nama Khilma Anis tidak asing bagi saya. Nama tersebut sudah saya ketahui semenjak saya berada dibangku Madrasah Aliyah. Sekitar sebelas tahunan lalu, tepatnya tahun 2012. Saat itu saya mendapat tugas dari guru sastra Indonesia, Bu Linda Safitri namanya. Bu Linda menugaskan kami untuk mencari satu novel yang kemudian untuk diresensi. Saat itu pula saya mencari di beberapa toko buku dekat rumah. Tidak sengaja, saya pergi ke area pondok Ploso, saya singgah di toko buku kecil. Disitu pula saya mendapat novel dengan judul, "Jadilah Purnamaku, Ning" dengan penulis Khilma Anis. Dari situlah saya pertamakali dengar namanya, tetapi belum tau secara langsung penulis tersebut.
Sebelas tahun berlalu, kemarin waktu kopdar SPK ke X di Unesa, saya ditakdirkan bisa menghadiri acara keren ini. Salah satu pematerinya, yaitu Ning Khilma Anis. Nama beliau dulu, belum sepopuler sekarang. Saat ini, banyak orang menyebut beliau, karena satu karya novel yang telah ditorehkan, "Hati Suhita" yang juga telah dialih visualkan oleh StarVision. Novel ini mampu membius pasang mata, terutama mereka Gen-Z. Namun tidak menutup kemungkinan mereka-mereka pecinta karya sastra yang tidak memandang 'kasta'.
Pada era ini, Ning Khilma yang namanya lagi populer sebagai penulis, banyak diundang ke berbagai wilayah di Indonesia. Tujuannya, untuk sharing-sharing tentang dunia kepenulisan. Tentunya sebagai seorang penulis yang sukses, resep-resep yang disharekan Ning Khilma akan banyak diterima oleh semua kalangan.
Sebagaimana di acara kopdar kemarin. Beliau memberikan nasehat-nasehat, terutama bagi para penulis pemula. Berdasarkan rekaman catatan yang berhasil saya tangkap, antara lain:
Pertama, seneng. Untuk mengawali segala sesuatu, seseorang perlu memiliki rasa seneng (senang atau suka). Sikap ini tentu harus berasal dari diri pribadi seseorang. Dengan sikap demikian, maka seseorang akan merasa tanpa beban dalam menjalani suatu hal. Sebagai contoh, seseorang yang melakukan suatu kerjaan, kerjaan apapun itu, jika didasari dengan rasa senang maka kerjaannya akan terasa ringan. Sebaliknya, jika segala sesuatu didasari dengan ketidak senangan maka juga akan terasa berat pula pekerjaan itu.
Demikian pula sebagai seorang penulis. Untuk menjadi seorang penulis terlebih dulu menanamkan rasa senang pada diri sendiri. Dengan perasaan seperti ini, tentu akan terasa ringan dalam menulis. Ketika proses menulispun jadi menyenangkan. Dengan rasa senang, menulis juga dapat menjadi media refreshing. Beda halnya jika tidak didasari dengan rasa senang. Maka ketika menulis akan menjadi berat dan akan semakin menjenuhkan.
Dalam konteks ini, Ning Khilma menambahkan, orang yang seneng bakal langgeng (orang yang senang akan abadi). Ia mencontohkan, pasangan suami istri yang dilandasi dengan rasa senang, maka pernikahannya akan langgeng. Penulispun juga demikian, jika seseorang menjadi penulis dengan didasari rasa senang, maka kecintaannya pada dunia menulis juga akan langgeng.
Kedua, kenceng. Kalau diartikan, kenceng memiliki arti lurus, tidak belok kanan atau belok kiri. Bisa juga diartikan sebagai istiqomah. Seseorang yang kenceng/lurus ketika mengerjakan sesuatu tidak akan tergoda suatu hal di sekitarnya. Ia akan tetap lurus dengan yang dikerjakan. Dalam istilah yang lain, kenceng dimaknai sebagai komitmen.
Sifat ini juga dihasilkan dari sifat pertama. Jika seseorang sudah seneng terhadap apapun, maka apapun yang dikerjakan akan kenceng. Tidak toleh kanan atau kiri. Begitu juga dengan seorang penulis, ia harus memiliki sifat kenceng/komitmen. Ia akan yakin dengan apa yang dikerjakan. Dalam menulis, seorang penulis harus bisa memegang komitmen ini, bahwasanya apa yang dilakukan sudah benar. Selain itu, jika didasari dengan komitmen tulisan yang ia kerjakan juga akan selesai pada saat yang telah ditentukan.
Ketiga, kepareng. Kata ini bisa diartikan sebagai pengizinan atau diizinkan. Jika ingin melakukan sesuatu selayaknya kita harus meminta izin dan izinkan oleh orang-orang yang ada di sekitar kita. Seperti orang tua atau pasangan masing-masing. Hal ini penting untuk dilakukan, karena dengan adanya izin tersebut, maka kita akan mudah dalam menjalani segala hal.
Begitu juga dengan penulis. Mungkin bagi mereka yang belum punya pasangan belum merasakan betul apa manfaat dari 'kepareng' ini. Karena jika belum punya pasangan, mereka akan bebas berbuat, menulis atau tidak menulis menjadi tanggungjawabnya. Tetapi jika sudah memiliki pasangan itu akan beda lagi. Tidak ada kebebasan seperti halnya mereka yang masih 'jomblo'. Maka nasehat ini, sangat berarti bagi mereka yang sudah memiliki pasangan. Hal ini juga sangat saya rasakan. Jika saya menulis tanpa dapat izin dari pasangan, maka rasanya agak gimana gitu. Oleh karena itu, ketika hendak menulis saya perlu izin atau paling tidak memberi tau bahwa saya mau menulis.
Keempat, wilujeng. berarti slametan. Tradisi slametan bagi orang Jawa sudah tidak asing lagi, karena sudah mendarah daging. Slametan dilakukan sebagai bentuk usaha atau berdoa agar semua mendapat keselamatan dalam hidup. Ritual slametan tidak hanya berisi doa-doa semata, tetapi juga dilengkapi dengan umborampe berupa nasi dan segala jenis lauk pauknya. Dalam artian, suguhan ini dimaksudkan untuk sedekah kepada para tetangga atau saudara mereka. Slametan ada banyak macamnya, tergantung pada niat masing-masing. Ritual slametan biasa dilakukan dalam berbagai siklus, seperti siklus bayen (bayi), kematian, dan lain-lain.
Dalam konteks penulisan, ning Khilma sangat menyarankan, bagi para penulis untuk slametan. Menurut pecinta budaya Jawa ini, dengan melakukan slametan, apapun yang ditulis insya Allah akan selalu mendapatkan keberkahan. Setiap selesai dalam membuat sebuah karya, usahakan untuk slametan, atau sedekah kepada para sanak saudara, kolega, atau para tetangga. Karena keberkahan yang kita dapat bisa berasal dari mana saja. Termasuk dari menulis, oleh karenanya jangan lupa slametan saat semua karya telah berhasil diselesaikan.
Tulungagung, 11-12 September 2023

Mantab kawan. Semakin keren tulisannya
BalasHapusMasih morat marit mas..he
BalasHapusini kiat yang memerlukan semangat yang kuat agar tetep bisa giat
BalasHapusNggih pak sam
Hapus👍👍👍
BalasHapusTq pak
Hapus