Reuni dan Masalah Sampah

 


Hari Minggu, tanggal 30 Juli 2023 merupakan momen kebahagiaan para alumni UIN SATU. Dimana pada hari itu diagendakan sebuah acara yang diselenggarakan setiap empat tahun sekali. Yaitu reuni akbar. Acara tersebut digabung dengan peringatan dies natalis UIN SATU ke 55. Semua alumni diundang, mulai tingkatan paling awal periode dimana kampus yang dikenal sebagai UIN SATU dahulu masih menjadi bagian dari IAIN Sunan Ampel Surabaya. Entah itu tahun berapa. Sampai lulusan tahun kemarin.


Dengan memakai seragam dengan teman seangkatan, Sorak sorai, membawa yel-yel terdengar sebagai wujud kegembiraan mereka. Tentu hal ini mereka wujudkan, karena dapat bersua dengan teman lama, teman kuliah dulu, bahkan mungkin juga mantan. 


Saya pun juga turut gembira. Karena saya juga dapat bersua dengan teman-teman seangkatan. Meskipun tidak banyak yang hadir, saya cukup senang bisa berkumpul dengan beberapa kawan. Reuni yang penuh dengan kegembiraan dan keberkahan.


Namun pertemuan itu, bagi saya pribadi, diwarnai dengan ketidaknyamanan pemandangan. Sedih karena melihat sampah yang berserakan ketika di acara terakhir yakni ramah tamah. Banyak dari kita yang tidak menempatkan sisa-sisa kudapan pada tempatnya. Alhasil, banyak disana sini terdapat sampah makanan. Apakah panitia tidak menyediakan tempat sampah? Jawabannya, ada. Tempat sampah telah disediakan di beberapa tempat. Namun, hal ini tampak tak diindahkan. Tempat sampah hanya menjadi hiasan taman.


Hal ini tentu sangat disayangkan. Ternyata, pangkat sebagai sarjana yang notabene kawanan terdidik tidak menjadi lebih dewasa. Ternyata, pangkat sarjana juga tidak menjamin menumbuhkan kesadaran pada kebersihan lingkungan. Tentu ini juga menjadi problem akademik yang perlu diselesaikan. Kesadaran bukan dikarenakan harus memiliki pangkat sarjana. Tetapi lebih pada kesadaran dari dalam hati nurani.


Tulungagung, 9 Agustus 2023

Komentar