Belajar Ilmu Parenting dari Kisah Nabi Ibrahim

 


Sebagian besar ayat-ayat yang ada dalam Alquran ialah berisi tentang kisah-kisah atau sejarah, seperti  kisah-kisah para nabi atau rasul dan umat-umat terdahulu. Meskipun demikian, bukan berarti Alquran ini dapat dikatakan sebagai kitab sejarah. Tidaklah demikian. Alquran tetaplah Alquran yang dijadikan sebagai kitab suci pedoman umat Islam. Alquran menjadikan kisah-kisah tersebut sebagai media menyampaikan pesan-pesan. Di dalam banyak kisah tersebut tersimpan nilai-nilai edukasi yang dapat kita terapkan dalam kehidupan era kini. Salah satu contoh dari banyak kisah itu ialah kisahnya nabi Ibrahim as dan keluarganya.


Deretan kisah nabi Ibrahim dan keluarganya dapat kita simak pada beberapa ayat Alquran. Pada konteks ini, penulis mengambil sepenggal kisah dikala nabi Ibrahim mendapatkan perintah untuk menyembelih anaknya, yakni nabi Ismail. Sepenggal kisah itu terekam dalam Qs. As-Saffat: 102 berikut:


فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَىٰ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانظُرْ مَاذَا تَرَىٰ ۚ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِي إِن شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”.


Dari ayat di atas, kita dapat mengambil pelajaran sebagai ilmu parenting yang perlu kita terapkan dalam keluarga.


Pertama, menyayangi dan menghormati anak. Sebagai ayah yang baik, nabi Ibrahim sangat menyayangi anaknya. Kecintaan dan kesayangan ayah (orangtua) pada anaknya menjadi hal fitrah pada setiap insan. Akan tetapi naluri ini, terkadang 'hilang' dari para orang tua. Misalnya, ada sebagian orangtua yang tega menelantarkan anaknya hingga bahkan sampai menghilangkan nyawa yang tak berdosa.


Kisah nabi Ibrahim ini mengingatkn kita, bagaimana berperilaku baik pada keluarga dan berperilaku pada anak. Kecintan dan kesayangan anak tidak hanya diwujudkn secara fisik jasmani, dalam artian mencukupi kebutuhan biologis semata. Tetapi juga perlu diimbangi dengan kebutuhan psikis anak.


Kedua, demokratis. Ada tiga model parenting yaitu otoriter, permisif, dan demokratis. Sikap otoriter berarti orangtua memegang kendali penuh atas anaknya. Sebaliknya, permisif bermakna orangtua memberikan ruang bebas pada sang anak. Sementara demokratis mengakomodir dua metode parenting di atas. Dari ketiga metode ini, tampak yang menjadi pilihan terbaik adalah bentuk demokratis. 


Harus kita sadari bahwa dalam mendidik anak jika dilakukan secara otoriter, sang anak tidak mendapatkan ruang untuk menunjukkan kreativitas dan hak-hak mereka sebagai anak akan terampas.  Tentu metode seperti ini kurang tepat.


Begitu juga dengan metode permisif. Orangtua yang terlalu memnerikan ruang bebas pada anaknya dalam berekspresi cenderung akan keblabasan. Anak menjadi tidak terkontrol. Sehingga dapat menjerumuskan dirinya sendiri dalam lembah kegelapan. Pergaulan bebas yang dilakukan anak misalnya, yang memiliki efek besar dalam perilaku keseharian. Tentu metode ini juga tidak tepat untuk diterapkan.


Metode demokratis menjadi jalan tengah di antara kedua metode di atas. Sikap demokratis yang diperlakukan terhadap anak akan berimplikasi sangat positif. Dalam ruang demokrasi, anak diberikan hak-hak untuk berekspresi, namun orangtua memberikan kontrol dari belakangnya. Sehingga anak merasa dihargai dan dihormati.


Metode parenting demokratis inilah yang diajarkan Alquran melalui kisah nabi Ibrahim. Lihat bagaimana penggalan ayat di atas ketika nabi Ibrahim mendapati mimpi yang diperintahkan untuk menyembelih putra kesayangannya, nabi Ismail. Ia tidak lantas melaksanakan tugasnya meskipun itu perintah dari Allah swt. Ternyata terlebih dahulu nabi Ibrahim melakukan dialog, diskusi, musyawarah dengan nabi Ismail untuk menanggapi perihal tersebut.


Dari sini kita dapat mengambil pelajaran bagaimana sikap kita sebagai orang tua dalam memperlakukan anak. Meskipun secara strata, orang tua lebih tinggi tetapi juga perlu disadari kehadiran seorang anak dengan cara menyayangi, menghargai, dan menghormati apapun yanh sudah menjadi hak mereka. Dengan demikian pengajaran seperti ini akan memghantarkan putra-putr kita sebagai anak yang sholih dan sholihah yang akan berbakti pada kedua orangtua, agama, dan negara. InsyaAllah..

Komentar