Berliterasi, Mengabdi dan Mengabadi

 




"Peradaban Islam terbentuk dari peradaban teks" demikianlah statemen yang dikemukakan oleh Nasr Hamid Abu Zaid, seorang pemikir kontroversial dari Mesir. Statemen ini tentu berawal dari pemikiran yang mendalam sehingga membuat statemen tersebut. Statemen ini tentu ada benarnya, karena dalam Islam memang harus kita sadari bahwa peradaban Islam terbentuk dari 'peradaban teks'. Al-Quran dan hadis yang saat ini kita bisa membacanya, karena ada "teks" yang dapat kita baca. Dari kedua sumber itulah kita mendapat inspirasi-inspirasi yang dapat kita terapkan dalam relung kehidupan.


Disini saya tidak akan membahas sisi kontroversinya, tetapi mencoba mengambil sisi hikmah yang diucapkan Nasr Hamid. Jika memang peradaban Islam mencapai puncak kegemilangannya karena "teks", maka ini menjadi pelajaran bagi kita untuk terus mengkaji dan memproduksi "teks-teks" baru yang lebih fresh dan up to date. Hal ini tentu dibutuhkan kesadaran akan berliterasi. Semangat berliterasi harus terus dinyalakan, meskipun usaha demikian tidaklah mudah kita lakukan. Berliterasi harus disemarakkan agar banyak orang sadar akan pentingnya arti kemenangan.


Pada dasarnya manusia adalah abdi (jawa: kawula, Indonesia: hamba) pada Tuhannya. Dari sini, pada dasarnya setiap manusia juga menjadi 'abdi' bagi manusia-manusia yang lain dengan jalannya masing-masing. Tidak terkecuali dengan jalan literasi. Dengan jalan ini kita bisa saling memotivasi, menginspirasi, dan saling toleransi antar sesama. Sehingga dengan berliterasi kita bisa menjadi 'abdi' bagi mereka, abdi bagi bangsa, negara, dan agama. 


Meskipun menjadi 'abdi' yang notabene dipandang rendah oleh setiap orang, tetapi dengan jalan literasi kita bisa 'abadi'. Tulisan-tulisan yang kita hasilkan dan yang terpublikasikan akan terus ada, meskipun kita sebagai penulisnya telah tiada. Tulisan-tulisan itu akan tetap abadi, meskipun penulisnya telah mati.  Hal ini tentu manfaat yang tiada tara. Dengan berliterasi saya yakin keberkahan akan selalu ada dalam diri kita semua.


Tulungagung, 14 Juni 2023

Komentar