Pertama saya kali dengar kata-kata di atas dari guru saya sewaktu di MTs Sunan Kali Jogo, Kranding Mojo Kediri. Namanya bu Uswatun Hasanah. Yang biasa dipanggil bu Us. Beliau juga sebagai tetangga saya di dusun Nglegok. Beliau saat itu mengajar pelajaran bahasa Indonesia. Saya teringat betul dawuhnya bu Us di atas "Jadilah seorang yang berotak Jerman dan berhati Makkah" yang disampaikan disela-sela materi pelajaran. Persisnya saya lupa, di kelas berapa saat itu saya berada.
Maksud dari ungkapan di atas, menurut bu Us, ada dua hal yang menjadi poin inti perkataan tersebut, yaitu "otak Jerman" dan "hati Makkah". Pengertian pertama, maksud dari ungkapan itu ialah generasi muda harus berotak Jerman. Mengapa harus Jerman yang dijadikan tolok ukur? bukan negara-negara lain. Karena Jerman merupakan salah satu negara yang maju. Sumber daya manusianya juga di atas rata-rata. Maka tidak beralasan jika, negara satu ini dijadikan sebagai tujuan para sarjana untuk mencari transmiter keilmuannya.
Sementara ungkapan kedua, "berhati Makkah" ialah kesucian hati. Kita tahu bahwa umat Islam meyakini bahwa Makkah merupakan tempat yang suci. Sehingga bisa dijadikan sebagai acuan untuk mengukur kadar kesucian hati seseorang. Oleh karena itu, bu Us menyarankan sebagai generasi muslim harus memiliki hati yang bersih dan suci.
Apa yang didawuhkan bu Us di atas adalah upaya moderasi dalam sikap pandangn hidup. Jadi, seseorang seharusnya dapat menjaga keseimbangan dalam hidupnya. Bisa menjaga antara kehidupan dunia dan akhirat. Kehidupan dunia yang identik dengan 'berotak Jerman' dan kehidupan akhirat dengan ungkapan 'berhati Makkah'. Memang demikianlah seyogyanya seseorang dalam menjalani hidup. Karena itulah yang juga diajarkan dalam agama.
Agama bahkan melarang umatnya untuk berat sebelah. Dalam istilah yang lain bertindak ekstrim pada satu sikap. Seseorang yang hanya mengejar kebaikan dunia dan meninggalkan akhirat tentu bukanlah hal yang baik. Begitu puka sebaliknya, mereka yang hanya mengejar akhirat tetapi melalaikan sisi sosial di sekelilingnya juga tidaklah baik. Pada konteks ini, bukankah dalam Alquran diungkapkan " Rabbana atina fi al-dunya hasanah wa fi al-khirati hasanah.." yang mengajarkan manusia untuk mendapat kebaikan, baik di dunia maupun di akhirat. Demikianlah agama mengajarkan.
Kembali pada ungkapan di atas, dawuh bu Us telah mengakar kuat dipikiran saya. Kata itu menjadi motivasi buat saya pribadi untuk terus berbenah dan memotivasi diri sendiri untuk menggapai kebahagiaan dunia akhirat.
Tulungagung, 5 Mei 2023
Mantab mas... 🙏
BalasHapus