Puasa Sebagai Sarana Penguat Sikap Moderasi Beragama

 


Salah satu rukun Islam yang harus dijalankan oleh setiap muslim ialah berpuasa Ramadhan. Perintah ini disebutkan dalam kitab suci yang dijadikam sebagai pedoman hidup, yaitu Alquran. Dalam surat al-Baqarah ayat 183 telah terang dan jelas, bahwa kewajiban berpuasa (Ramadhan) dibebankan kepada setiap orang yang beriman. Kewajiban ini juga pernah diberlakukan kepada umat-umat terdahulu.


Puasa secara istilah berarti menahan lapar dan dahaga sejak terbitnya fajar (subuh) hingga terbenamnya matahari (maghrib). Tidak cukup itu saja, secara esensi, puasa yang kita lakukan juga sebagai upaya menahan hawa nafsu, seperti nafsu kebinatangan yang ada pada diri kita. Singkatnya, puasa yang kita lakukan tidak sebatas ibadhah fisik (jasmaniyah) semata, tetapi juga ibadah non-fisik (ruhaniyah). Dari kedua hal ini, dapat kita simpulkan bahwa  puasa merupakan satu ibadah yang mengajarkan kita akan sikap moderasi dalam beragama.


Dari pernyataan di atas, menjadi menarik untuk dibahas lebih lanjut, bagaimana puasa dapat menjadi sarana penguat sikap moderasi beragama kita. 


Moderasi Adalah Inti Ajaran Islam


Islam dikenal sebagai agama yang moderat. Agama yang mengajarkan keseimbangan pada umatnya. Bentuk-bentuk keseimbangan itu selalu menghiasi setiap perilaku sikap keberagamaannya. Hal ini sudah ditetapkan dalam Alquran surat al-Baqarah ayat 143, "wa kadzalika ja'alnakum ummatan wasathan" (dan kami telah menjadikan kamu sebagai umat yang moderat).


Secara bahasa, moderat berarti berada di tengah-tengah di antara dua kutup ekstrim. Sehingga sangat beralasan ketika para pakar tafsir yang mengemukakan ayat di atas sebagai bentuk atau label yang tepat untuk disematkan pada umat muslim. Karena dengan posisi yang demikian (di tengah) dapat dijangkau dari sisi manapun. Dari samping kanan dan kiri. Alhasil, umat muslim harus bisa dijadikan sebagai role model oleh komunitas lainnya. 


Dengan demikian satu yang menjadi kewajiban umat muslim ialah selalu bersikap moderat dalam setiap laku kehidupan, agar tidak keluar dari jalur rel yang telah ditentukan.  Salah satu upaya melatih keseimbangan itu adalah dengan cara berpuasa. Puasa akan mengajarkan kita bersikap moderat. Oleh karena itu, kita wajib bersyukur atas syariat yang telah ditetapkan bagi umat Islam ini. 


Puasa Sebagai Sarana Penangkal Radikalisme Beragama


Beberapa tahun terakhir ini, adanya kelompok-kelompok radikal yang semakin menjamur di Indonesia menjadi perhatian serius pemangku pemerintahan.  Aliran-aliran radikal yang ada di Indonesia pada umumnya berawal dari sikap keberagamaan yang ekstrim. Hal itu didasarkan pada pemahaman mereka terhadap teks-teks keagamaan yang tekstualis, sehingga menafikan makna-makna yang kontekstualis. Ditambh dengan pembelaan yang sangat berlebih-lebihan terhadap pemahamannya. Sehingga mereka merasa benar sendiri, dan komunitas lain salah.


Selain itu, pemahaman radikal tersebut ketika dihadapkan dengan komunitas selainnya, selalu diluapkan dengan kebencian dan kemarahan. Alhasil, Islam yang keluar dari komunitas itu "Islam marah-marah, bukan Islam yang Ramah". Hal ini akan sangat mengkhawatirkan jika dilakukan ketika berinteraksi dengan dunia luar.


Kelompok-kelompok inilah yang disinyalir sebagai aktor utama adanya tindak terorisme, perusakan tempat ibadah, dan lain sebagainya. Oleh karena itu pemerintah berusaha keras untuk menumpas (paling tidak mengurangi) segala bentuk tindak ektremisme. Segala upaya telah dikerahkan dan diupayakan semaksimal mungkin, seperti diadakannya seminar-seminar, lokakarya, pembinaan, dan lain sebagainya.


Pada dasarnya, dalam agama (Islam) sendiri telah ada sarana yang bisa dijadikan sebagai opsi mencegah segala bentuk tindakan intoleran, yaitu ibadah puasa. Dengan melakukan ibadah puasa umat Islam akan terhindar dari sikap radikalisme dalam beragama. Mengapa demikian? karena, sebagaimana penulis singgung di atas bahwa berpuasa secara istilah berarti 'menahan', tidak hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menahan hawa nafsu, marah, dan lain sebagainya. 


 Jika seorang mukmin memahami dan melaksanakan esensi diperintahkannya berpuasa, maka nilai-nilai yang ada dalam ibadah puasa akan tercermin dari perilaku seorang muslim. Ketika berpuasa, seorang mukmin akan menahan ego, menahan amarah, apalagi meluapkan rasa benci pada yang lain. Terlebih pada sesama umat muslim.


Sebaliknya, jika puasa itu dilakukan dengan baik dan benar, yang tercermin dari setiap muslim ialah perasaan kasih sayang dan toleran. Ia akan merasa bahwa mereka menjalankn misi spiritual, terlepas dari komunitas dan latar belakang mereka. Tentunya mereka juga akan merasa bagaimana sikap saling menghargai dan mentoleransi semua perbedaan yang ada.


Itulah salah satu alasan mengapa Allah mewajibkan umatnya untuk melakukan puasa pada setiap bulan Ramadhan, yang juga tidak cukup satu atau dua hari. Tetapi selama satu bulan penuh, bagi mereka yang tidak memiliki udzur syar'i. Hal ini dikarenakan agar dengan melaksanakan puasa tersebut diharapkan semua umat Islam akan menjadi terbiasa dalam setiap tindakannya di luar bulan Ramadhan. Nilai-nilai yang terkandung dalam ibadah puasa terimplementasikan dalam setiap perilaku umat Islam. Jadi, meskipun tidak sedang menjalankan ibadah puasa, mereka tetap menjalankan nilai-nilai yang ada dalam ibadah puasa. Puasa seperti inilah yang sejatinya diharapkan oleh Tuhan, dan dengan puasa itulah manusia akan kembali menjadi insan kamil yang bisa menyemaikan sifat-sifat ke-Tuhananya.


Komentar