"Awakmu ndak ngrokok kok ngopi?" begitu tanya kawan saat barengan ngopi. Iya, pertanyaan itu muncul karena seringnya saya minum kopi pada saat-saat tertentu. Dan bersamaan pula dengan rekan-rekan lain penikmat kopi. Memang pada umumnya, mereka yang cinta kopi cenderung sebagai perokok. Bahkan sebagian orang sampai pada kesimpulan, "wong ngopi yo ngrokok". Silahkan orang-orang berkata demikian, statemen ini tidak berlaku bagi saya.
Jika tidak demikian, sebagian orang juga akan bertanya, lalu apa gandengan untuk ngiringi kopi, kalau bukan rokok? nah, pada jawaban ini baru masuk pada person masing-masing. Sebelum menjawab beberapa pertanyaan itu, saya coba flashback atau awal cerita saya sebagai penggemar berat sehingga saya memiliki tradisi ngopi hingga saat ini.
Tradisi ini tidak lepas dari lingkungan keluarga saya. Setiap hari, keluarga saya (emak dan bapak) kalau pagi sajian pembukanya adalah kopi. Alasannya sederhana, selain sebagai penghangat badan, dengan ngopi badan akan kembali segar. Badan bugar, sehingga ketika menjalani aktivitas semakin lancar. Saya pun juga turut ngopi, sejak saya masih kecil hingga dewasa ini.
Tradisi minum kopi di keluarga itu, sehari bisa sampai minum tiga kali. Yaitu pagi, siang, dan sore. Kebiasaan itulah yang menjadikan keluarga saya sebagai penggemar berat minuman hitam manis itu. Bahkan, minum kopi sampai menjadi 'ketergantungan', kalau tidak ngopi, kepala jadi pusing. Saya tau, minum kopi terlalu banyak tidaklah baik bagi tubuh. Salah satunya itu tadi penyebabnya.
Kini, tradisi ngopi sudah sedikit demi sedikit saya kurangi. Saya ngopi sehari jadi dua kali, pagi dan sore. Atau kalau pagi ndak ngopi, jadi siang dan sore. Kopi yang saya minum racikan yang saya buat juga tidak terlalu manis. Saya sadar kadar gula yang berlebih juga tidak baik bagi tubuh saya. Oleh karena itu, saya suka minum kopi yang agak pahit.
Saya juga menghindari kopi instan, yang mayoritas sudah tercampur dengan gula. Kalau kopi instan, bagi saya cenderung kemanisan. Dan itu yang sedang saya hindari. Selain itu, kopi instan juga belum 'memenuhi' energi yang saya butuhkan. Gak tau kenapa, rasanya beda dengan kopi murni dengan racikan sendiri. Adapun kalau beli kopi instan, cuma bubuknya saja. Selebihnya diracik sendiri.
Saya ngopi tidak sekedar hobi. Saya ngopi karena jadi kebutuhan pribadi. Entah kenapa, jika tidak ngopi, mata susah untuk melek, ngantuk terus. Beberapa hari belakangan ini misalnya, pasca badan drop dan ketika sedang pusing yang akut (biasanya darah saya naik) baru saya berhenti ngopi dulu. Satu sampai dua hari. Terasa banget, ketika tidak ngopi jam sembilanan pagi mata sudah kantuk. Begitu juga di malam hari, jam delapan malam juga mulai ngantuk.
Lain halnya ketika sudah ngopi, mata terasa fresh dan tahan kantuk. Alhasil, saya bisa melaksanakan aktivitas-aktivitas keseharian dengan baik.
Tulungagung, 19 April 2023
Komentar
Posting Komentar