Ramadhan sudah berada diujung puncak. Berarti hari raya Idul Fitri sudah mau datang. Persiapan menymbut Idul Fitri sudah dilakukan jauh-jauh hari. Kini tinggal menunggu waktunya saja.
Untuk lebaran tahun ini banyak isu yang beredar. Iya, lebaran umat Islam Indonesia terjadi perselisihan. Meskipun waktu mengawali Ramadhan secara bersama, tetapi tidak dengan penetapan satu Syawal. Pertama, ada yang menetapkan hari raya tahun ini pada 21 April 2023 yang bertepatan pada hari Jum'at. Pendapat ini dipakai oleh sejumlah kalangan Islam di Indonesia, seperti halnya ormas Muhammadiyah dan beberapa ulama' NU Kedua, hari raya jatuh pada hari Sabtu tanggal 22 April 2023. Pendapat ini yang dipegang oleh pemerintah.
Sebenarnya, perselisihan seperti ini di Indonesia bukan pertamakali terjadi. Bahkan berkali-kali. Yang sangat disayangkan, jika perselisihan itu terjadi, sentimen keormasannya muncul. Seharusnya, umat sudah semakin dewasa karena perbedaan ini. Yang sudah dari dulu sering terjadi. Hanya saja karena berbeda massa, dan berbeda umatnya itulah yang menjadi penyebab perselisihan itu mengemuka. Umat tidak mau menjadikan pengalaman orang-orang sebelumnya, bagaimana mengelola perselisihan yang ada.
Sebenarnya tidak ada perbedaan hari raya. Toh, semua juga melaksanakannya tepat di tanggal yang sama. Tanggal satu Syawal. Hanya saja terjadi perbedaan harinya. Akar dari perbedaan ini ialah cara atau metode yang digunakan umat Islam Indonesia dalam menetapkan hari raya. Pertama, penggunaan metode rukyah, yaitu dengan melihat hilal. Sementara kedua dengan menggunakan metode hisab (penghitungan).
Lebaran Bersama Keluarga
Momen lebaran merupakan aktivititas yang sangat ditunggu-tunggu. Momen dimana semua sanak family berkumpul. Oleh karena itulah di Indonesia dikenal istilah "mudik", yakni tradisi masyarakat yang merantau untuk kembali pulang ke kampung. Tujuannya, sungkem pada orangtua (jika masih ada), berkumpul dengan keluarga, dan sanak family. Kurang lebih beginilah yang juga saya lakukan.
Pada lebaran tahun ini, saya dan anak istri mengawali shalat id di desa Sawo Campurdarat. Di daerah istri berasal. Di desa ini lebaran lebih dulu, pada hari Jum'at. Tetapi ternyata lebaran di rumah Kediri tepat di hari yang sama. Sebenarnya saya akan sangat bersyukur jika lebaran di Kediri dimulai hari Sabtu, dengan begitu, saya dan keluarga bisa menghadiri lebaran pertama di dua tempat yang berbeda.
Entah mengapa, lebaran, khususnya di hari yang pertama mempunyai kesan yang berbeda dengan lebaran pada hari-hari berikutnya. Sehingga saya dan istri menyusun rencana untuk 'berbagi' waktu dengan keluarga besar masing-masing. Namun, karena lebarab yang dimulai pada hari yang sama, maka rencana itu gagal total. Saya dn istri harus sidang istbat ulang. Untuk menentukan akan mengawali lebaran dengan shalat id di rumah Kediri atau Tulungagung.
Setelah melalui perdebatan yang alot, kami memutuskan di jalan tengah, dan karena posisi kami sedang di rumah Tulungagung, maka shalat id kami laksanakan disana. Baru kemudian setelah pelaksanaan shalat kami bergegas ke rumah Kediri. Akhirnya, kami merealisasikan lebaran sesuai dengan rencana yang kami susun.
Tulungagung-Kediri, 20-24 April 2023


Komentar
Posting Komentar