Bekerja menjadi kewajiban bagi setiap umat manusia. Entah mereka yang masih remaja atau yang sudah dewasa. Bekerja juga menjadi perintah agama. Apalagi bagi mereka yang sudah berumah tangga.
Islam sangat menganjurkan umatnya untuk bekerja keras dan menolak umatnya untuk berleha-leha. Sebagaimana dawuh Nabi Saw misalnya, "Bekerjalah untuk duniamu, seakan-akan kamu hidup selamanya. Bekerjalah untuk akhiratmu, seakan-akan kau akan mati besok".
Dengan anjuran ini, praktis semua umat Islam dituntut untuk bekerja, guna memenuhi kebutuhan pribadi maupun keluarga. Dengan bekerja, mereka akan hidup dengan tumpuan tangannya. Tidak akan berpangku tangan pada orang lain.
Tetapi, pekerjaan apapun, semua umat tidak diperbolehkan lalai dengan akhiratnya. Artinya, harus ada keseimbangan antara keduanya. Bekerja di dunia menjadi sarana untuk beribadah menuju akhirat.
Berkaitan dengan hal ini. Saya yang hidup di keluarga baru dan lingkungan baru, di desa Sawo Campurdarat Tulungagung. Di desa ini, mayoritas mata pencaharian masyarakat terbagi dalam dua kategori besar. Yaitu, pertanian dan industri marmer.
Pada awal tahun 2023, tepatnya tanggal 6 Februari, saya mencoba peruntungan baru dengan masuk di salah satu pabrik batu di desa ini. Lokasinya juga tidak jauh dari rumah mertua. Pabrik inipun juga bukan punya orang asing bagi saya. Pabrik ini punya pakde Yani yang rumahnya berdempetan dengan rumah mertua.
Pakde Yani (pakde ipar saya) menurut ceritanya, sudah mendirikan pabrik gergaji batu sekitar awal tahun 2000 an. Ia tidak sendirian, ada banyak pabrik yang dibuat orang Sawo dengan skala rumahan (home industri). Menurut penuturan pakde Yani, ada sekitar duapuluhan orang yang mendirikan pabrik semacam ini.
Sebenarnya profesi apapun akan saya jalani, dengan syarat harta yang saya hasilkan halal. Pilihan saya untuk bekerja di pabrik batu ini sudah melalui beberapa pertimbangan. Pertama, belum ada kejelasan dari kampus yang saya lamar. Sebelumnya saya memang mengajukan surat lamaran kerja di STIT Trenggalek, dan alhamdulillah saya diterima. Namun statusnya masih dalam pengajuan prodi baru dan proses alih status menjadi IAI. Jadi belum bisa aktif didalamnya.
Kedua, belum menemukan kerjaan yang sesuai passion. Sebagaimana yang diungkapkan mbak Najwa Shihab, bekerja bukan karena gaji, melainkan lingkungan kerja yang positip dan saling mendukung satu sama lain. Sebetulnya, saya sudah beberapa kali ikut formasi dosen setiap kali ada lowongan. Tapi ya ternyata, rezeki belum berpihak pada saya. Saya perlu lebih kerja keras lagi untuk menembus jajaran formasi yang setiap kali berdatangan.
Ketiga, karena keadaan. Sebetulnya saya juga ada sedikit pekerjaan yang jika ditlateni juga membuahkan hasil. Saya sudah merasakannya sendiri ketika sebelum menikah. Dan alhamdulillah juga bisa buat biaya kuliah sampai lulus S2. Namun, istri tidak begitu suport dengan pekerjaan itu. Dengan alasan tidak sesuai dengan ijazah yang saya dapat. Okelah kalau begitu, menjadikan saya harus berpikir lebih keras lagi untuk mencari pekerjaan baru.
Akhirnya, pekerjaan di pabrik pakde Yani sebagai opsi terakhir bagi saya. Mulai awal tahun ini, saya memiliki kesibukan baru dan pekerjaan baru, gergaji batu marmer. Pekerjaan apapun, saya coba untuk selalu menikmatinya. Pakai seragam atau tidak, yang penting dapat cuan yang halal.
Sistem kerja di pabrik ini, mayoritas sama dengan pada umumnya pabrik batu di desa ini. Kerjaan dimulai sekitar pukul setengah delapan. Para pekerja yang datang bersiap-siap, mulai membersihkan tempat kerja, mengecek alat kerja, dan menggunakan perlengkapan safety personal. Baru kemudian setelah ready, mesin-mesin gergaji mulai dibunyikan.
Di pabrik ini, mulanya saya dikasih kerjaan serampangan. Apa adanya, yang tugasnya bantu-bantu pakde Yani, seperti memilih dan memilah batu yang sudah dibakar dalam bentuk yang sudah jadi. Di kerjaan ini saya bertugas memilih batu hasil olahan yang bagus, setengah bagus, dan yang kurang bagus.
Batu yang bagus akan ditempatkan pada posisi tersendiri dan khusus. Itu nanti digunakan pada bagian depan ketika diikat.Sementara batu yang setengah bagus juga ditempatkan secara khusus. Yang selanjutnya nanti ditaruh pada bagian agak tengah ketika diikat. Sementara batu yang kurang layak akan dipisahkan dahulu. Jenis batu ini misalnya, ada yang pecah atau karena ada lubang. Sehingga batu jenis ketiga ini perlu perawatan lagi. Batu tersebut akan ditambal.
Adapun kaitannya dengan sistim gajian, ada dua kategori.
Pertama, sistim harian. Pekerja ini dihargai hasil kerjaannya sebagaimana pegawai yanh dipatok dengan UMR. Namun ada variasi upah yang diberikan pada pekerja di pabrik-pabrik yang ada di desa ini. Mulai dari empat puluhan ribu perhari hingga seratusan ribu. Saya termasuk bagian ini, yang digaji tujuh puluh lima ribu perhari. Gaji yang menurut saya sudah cukup bagi pekerja pemula. Sementara rekan kerja saya yang lebih senior, pak Marsit diberi upah sembilan puluh ribu perhari.
Kedua, sistim borongan. Sistim kerja ini akan diberi upah dengan menghargai hasil kerja yang dihasilkan perharinya. Misalnya, ditempat kerja saya, mereka yang bekerja sebagai tukang gergaji akan di kurskan dengan meteran dengan harga sembilan ribu rupiah. Jadi, dalam sehari jika mendapatkan batu yang di gergaji tiga puluh meter, tinggal mengkalikan sembilan ribu rupiah yaitu 270 k. Namun biasanya, pendapatn seperti itu dibagi dengan dua orang. Karena para pemborong tidak mampu jika dilakukan secara mandiri. Mayoritas mereka yang senior, akan meminta sistim seperti ini daripada sistim harian.
Adapun cara pembayarannya, kami diberikan gaji satu minggu sekali, setiap hari sabtu. Jadi setiap amal kerjaan yang dilakukan selama satu minggu itu akan dilunasi pada weekend.
Tulungagung, 13 Maret 2023
Komentar
Posting Komentar