Thoriqul Aziz
Kami mengambil rute lewat Blitar kemudian kota Malang. Perkiraan saya, perjalanan memakan waktu 7 sampai 8 jam an. Yang idealnya jika pemberangkatan jam 11 berarti jam 6 atau jam 7 petang sudah sampai di lokasi. Akan tetapi ternyata kami sampai disana pukul sembilan malam. Artinya, baru sepuluh jam kita sampai di lokasi.
Sepanjang perjalanan, rombongan kami istirahat di dua tempat. Pertama, kendaraan menepi di rumah makan Lumayan 3 yang letaknya di kota Malang. Saya tidak tau persis alamatnya dimana. Di tempat ini, kami makan bersama. Menyantap makan siang. Setelah itu baru kami mendirikan shalat jamak qashar.
Kedua, tempat berhenti kami berada di Probolinggo. Tepatnya, di Depot Blitar yang terletak setelah melewati PLTU Paiton. Disini kami berhenti sejenak, istirahat sambil makan malam. Bertepatan waktu itu setelah maghrib. Sekitar pukul setengah tuju. Setelah makan, kami tidak mendirikan sholat. Kami memutuskan untuk sholat di pondok saja.
Perjalanan ini memang melelahkan. Coba bayangkan, sekitar sepuluh jam kita duduk berkendara. Tapi saya sangat menikmatinya.
Rute Malang selatan yang belum pernah saya lewati, membuat saya terus penasaran dengan sepanjang jalan di kota itu. Lewat wisata Lahor atau yang biasa dikenal bendungan Karangkates, Jodipan dan sepanjang perjalanan Malang yang dikenal sebagai salah satu kota tujuan wisata yang sayang untuk dilewatkan. Karena sebelumnya saya kalau ke kota tersebut lebih seringnya lewat jalur utara, lewat Pujon, Batu, dan seterusnya.
Perjalanan panjang tersebut 'dipersingkat' dengan lewat jalur tol. Pintu masuk dari kota Malang dan Pasuruan dan turun di Probolinggo. Meski dikatakan mempersingkat, nyatanya perjalanan di tol saja sekitar dua jam. Memang jarak tempuh tersebut sangat jauh dan menantang. Sepanjang perjalanan di tol, saya memilih untuk tidur. Badan mulai terasa capek, dan kantuk pun tak tertahankan.
Saya kira selama rute dalam perjalanan tersebut akan merasakan keramaian di pinggir-pinggir jalan. Ternyata tidak. Buktinya, kami melewati beberapa hutan dan sedikit berbukit. Jalanan berkelak-kelok tiada lampu penerangan. Persis, penerangan jalan hanya dari mobil-mobil yang sedang lewat. Perjalanan ini sangat ekstrim.
Setelah melewati yang perjalanan tersebut. Sekitar pukul sembilan malam kami sampai di sekitar alun-alun Bondowoso. Artinya, tidak jauh dari situ lokasi tujuan kami akan kita temui. Persis sekitar lima kilometeran dari Alun-alun tersebut, PP Al-Ishlah telah tampak. Tampak kemewahan dari pondok tersebut, terlihat dari gerbangnya.
Tulungagung, 09 Agustus 2022
Komentar
Posting Komentar