Kopdar SPK 9: Sambutan Mewah dari PP Al-Ishlah

 Thoriqul Aziz


Ketika masuk di  dalam pesantren al-Islah, kami tersuguhkan dengan bangunan-bangunan mewah. Tampak masjid yang besar, koprasi santri, asrama para santri, dan bangunan-bangunan lainnya. Tetiba kami turun dari mobil, Ustadz Febri menyambut kedatangan kami. Yang belakangan saya kenal nama beliau dari Prof. Naim. Yang ternyata juga menjadi salah satu anggota SPK.


Kami serombongan langsung dipersilakan masuk ruang tamu. Karpet merah tertata rapi di dalam ruangan. Kursi-kursi terjejer rapi dan meja tempat sebagai tempat suguhan berada di depannya. Kesan saya melihat ruangan ini, mewah. Saya merasa menjadi tamu presiden. Ternyata perasaan ini, dirasakan pula oleh kawan-kawan lain. Sungguh istimewa. Saya merasa mendapat keberkahan yang melimpah ruah atas ketergabungan saya dengan SPK. 


Sambutan ramah dari tuan rumah tampak dari raut wajah. Kedatangan kami ternyata sudah dinanti-nanti. Ustadz Febri dan Ustadzah Afifah, dua orang ini yang menjamu kami. Beliau berdua yang menyambut kedatangan kami. Bincang hangat tentang selama berangkat perjalanan dari Tulungagung dan tentang profil pondok al-Islah menjadi tema hangat malam itu. Disitulah saya sedikit banyak mengetahui seluk beluk pondok al-Islah yang diasuh oleh KH. Toha Yusuf Zakaria, L.c.


Tidak sampai disitu, sambutan mewah masih ada. Kami yang belum ada tiga jam sudah makan malam, 'dipaksa' untuk kembali merasakan hidangan dari tuan rumah. Jamuan ini menjadi 'pasword' untuk kemudian kami akan diantar ke kamar masing-masing.


Kami serombongan dipindahkan ke ruang sebelah. Makan malam sudah siap sedia. Kami yang sebagian masih merasakam kenyang, harus menyantap hidangan yang lezat. Puji syukur saya panjatkan. Saya merasa mendapat keberkahan yang melimpah ruah.


Makan malam selesai. Jam menunjuk setengah sebelas malam. Kami diantarkan ke kamar masing-masing.  Melihat kasur, rasanya badan ini segera berbaring dan memejamkan mata. Namun, ternyata kami punya 'hutang'. Iya, belum shalat maghrib dan isyak. Langsung saja, kami berjamaah di jamak qashar. Setelah itu, baru kami yang sekamar memutuskan untuk istirahat.

Tulungagung, 10 Agustus 2022

Komentar