Jumat 22 Juli 2022 kemarin hari pengumuman paper International Conference Religious on Islamic Moderation (ICROM). Call paper ini diselenggarakan oleh Bimbingan Masyarakat Islam Kemenag RI. Acara ini masih yang pertamakali dilakukan. Hal ini tampak dari persiapan yang 'serba' mendadak. Seperti dari pengumuman kelulusan peserta dan rundown acara yang akan dilakukan. Meskipun demikian, acara conference ini alhamdulillah bisa berjalan sukses.
Di waktu tiba pengumuman kelulusan, saya buka-buka IG yang menyebarkan info pertama kali acara tersebut, yakni di islami.co dan el-Bukhari institute yang mendukung terselenggarakannya acara tersebut. Ternyata sampai malam tiba belum juga ada pengumuman yang dibagikan. Sambil nunggu pengumuman, saya chat-chat an sama rekan yang juga ikut meramaikan acara ini. Mas Eko Zulfikar, dosen di UIN Raden Fatah Palembang. Yang intinya saling tanya kabar tentang kelulusan paper. Ternyata sama saja, kabar juga belum keluar.
Kita tunggu sampai hari Sabtu pagi, ternyata juga belum ada. Saya pasrah, lolos alhamdulillah, tidak lolos juga tidak apa-apa. Hingga siang kabar juga belum ada. Tiba waktu petang, mas Eko memberi pesan singkat melalui WA "Selamat mas, sampean lolos". "Saya juga lolos" imbuhnya.
Mendengar kabar ini saya bersemangat untuk mencari kabar resmi dari panitia. Saya menayakan balik, dari mana asal kabar tersebut. Lalu mas Eko memberikan file pdf penerimaan artikel. Katanya, kabar ini diinfokan lewat surel (email). Ternyata benar, saya juga dapat email, yang masuk di spam.
Alhamdulillah, saya bersyukur mendapat kabar ini. Senang sekaligus sedih. Senang karena lolos dan sedih karena kemungkinan besar saya tidak bisa hadir secara offline. Tidak sesuai dengan yang saya duga. Saya kira acara ini diselenggarakan di Surakarta. Ternyata tidak. Acara berada di Jakarta. Tepatnya di Mercure Hotel, Ancol Jakarta Utara.
Kabar bahagianya semua akomodasi selama acara ditanggung oleh panitia. Meskipun demikian, saya masih memikirkan keberangkatannya. Jarak tempuh dari rumah (domisili Tulungagung) ke Jakarta cukup jauh dan memerlukan banyak biaya untuk sampai disana. Perjalanan dari Tulungagung ke Jakarta memakan waktu 12 sampai 13 jam. Sungguh waktu yang tidak sedikit. Belum lagi untuk sampai lokasi, yang saya lihat dari google maps membutuhkan waktu 22 menit dengan mengendarai mobil.
Melihat realita ini, saya berdiskusi dengan mas Eko. Jika memang panitia hanya menanggung akomodasi selama disana. Pilihan kedua menjadi solusi. Presentasi secara online. Namun, saya dan mas Eko berusaha untuk menggali informasi terkait moda pemberangkatan ke panitia. Hampir satu hari kami belum juga mendapat informasi terkait hal itu. Kabar baik, datang keesokan hari Mas Eko memberikan informasi screnshot chatingan dengan panitia "alhamdulillah, kita bisa offline". Mendengar kabar ini saya bahagia. Karena semua akomodasi beserta moda transport dari rumah ke lokasi juga ditanggung panitia semua. Sehingga kami memutuskan untuk berangkat ke acara tersebut.
bersambung..
Jakarta-Tulungagung, 28-29 Juli 2022

Komentar
Posting Komentar