Oleh: Thoriqul Aziz
Kemarin Sabtu tanggal 18 Juni 2022, Kang Rohman memposting di stori akun WA nya sebuah gambar buku bertumpuk. Ada lima jilid tebal dengan sampul warna orange. Buku tersebut berjudul "Tafsir Kediri" yang ditulis oleh Abdurrohman (kang Rohman saya menyapanya).
Dengan nada yang humorisnya, beliau memberikan komentar di bawahnya dengan kata-kata yang biasa diucapkan oleh Dodik (standap comedy). "telah lama aku menantimu, iya kamu" pernyataan ini terlihat mewakili perasaan Kang Rohman yang telah lama menanti kehadiran satu karya besarnya ini.
Sebelumnya, sudah ada beberapa karya tulis buku yang beliau hasilkan ada sekitar 10 an judul buku seperti Islam akan Menang, Metodologi Dakwah, Injil Vs Manakib, Tafsir Shabat, dan lain-lain.
Kang Rohman sangat bersemangat dalam mewujudkan sebuah karya. Saya merasakan benar energi positifnya. Saya bersama beliau, sebagai anak didiknya di madrasah diniyah An-Naja Nglegok dan TPQ An-Naja. Beliau menjadi guru saya sejak saya duduk di bangku Madrasah Aliyah hingga kuliah akhir S1 di IAIN Tulungagung (sekarang UIN).
Kebersamaan saya bersama beliau hampir terjadi setiap harinya. Karena memang rumah yang masih bertetanggaan. Sehingga saya bisa dengan mudah meminta wejangan, solusi masalah pelajaran yang saya temukan. Beliau jugalah yang sangat memberikan berjasa memberikan bantuan pinjaman buku-buku materi selama saya kuliah. Karena memang, terkait jurusan yang saya ambil, saya ittiba beliau.
Kembali ke Tafsir Kediri. Pasca Kang Rohman menguplod karya tafsirnya, langsung saya berikan komentar. "alhamdulillah...selamat kang๐". Beliau tidak memberikan komentar, hanya di read saja. Tidak apa, saya tahu betul kesibukan beliau. Menjadi dosen Pascasarjana di UINSA dan IAI Diponegoro Nganjuk merupakan kesibukan beliau.
Sebagai bentuk apresiasi saya, karya Kang Rohman saya scrensoad dan saya unggah di stori WA. Ada kolega yang berkomentar, Mas Eko dosen Ilmu Alquran dan Tafsir di UIN Raden Fatah Palembang dan Mas Aji dosen di salah satu perguruan tinggi Bengkalis, Riau.
Berasal dari kedua kolega inilah yang "kepo" dan menanyakan keadaan karya tafsir tersebut.
Mas Eko bertanya, apa sudah terbit? berapa jilid? saya belum bisa memberikan jawaban. Begitu juga mas Aji, beliau memberikan komentar, "kayaknya tafsir yang menarik, berapa harganya? saya juga belum bisa memberikan jawaban.
Karena dua komentar kawan ini, saya kemudian memberanikan diri untuk bertanya kepada Kang Rohman. "Enten sg tangklet harga kang", tanya saya. Tidak benerapa lama beliu menjawab dengan voice note, yang kurang lebih isinya, karya tafsir itu belum diterbitkan. Juga belum selesai 30 juz. Karya itu dicetak hanya sebagi motivasi beliau bahwasanya telah tulisannya sampai juz 10. Perbedaan dengan karya tafsir lainya, menurut penuturan beliau, di tafsir ini lebih menonjolkan kearifan lokal khususnya di Kediri). Meskipun demikian, kehadiran karya tersebut tetap saya apresiasi. Menulis karya tafsir bukanlah hal yang mudah, harus mereka-mereka yang kompeten di bidangnya. Dan Kang Rohman saya rasa sudah mumpuni dalam bidang tersebut.
Meskipun beliau, secara formal tidak memiliki ijazah MTs dan MA, beliau semangat kuliah hingga jenjang doktoral. Yang menjadi teladan bagi saya yang lain ialah semangat literasinya yang terus menyala. "Bulan ini tergetnya juz 11 selesai riq" lanjut beliau melelaui chat WA. Alhamdulillah, semoga diberikan kelancaran hingga selesai juz 30 begitu tangkas saya.
Kediri, 20 Juni 2022

Masuk list salah satu buku yang harus dikoleksi. ๐๐ป
BalasHapus