Penulis Adalah "tuhan"



Menjadi penulis merupakan profesi langka, yang jarang diminati oleh sebagian besar orang. Padahal menulis menjadi satu sarana dalam menyalurkan suatu informasi kepada orang lain. Mulai dari informasi yang melingkupi kehidupan sehari-hari hingga kehidupan masa mendatang. Informasi-informasi inilah yang kemudian dapat berwujud menjadi sebuah karya tulis berbentuk buku, novel, artikel, dan lain sebagainya.


Karya-karya yang ditorehkan tersebut dihasilkan oleh seorang penulis  dengan memiliki latar belakang keilmuan, genealogi pemikiran, ideologi, serta sosio politik yang melingkupinya. Maka tidak jarang karena itulah, penulis disebut sebagai "tuhan". Maksudnya, "tuhan" dari karya-karyanya. Mengapa bisa demikian? Sebagaimana halnya Tuhan, yang memiliki wewenang, kekuasaan, dan 'maha-maha' yang lain. Dengan kekuasaan itu, Tuhan bertindak 'sesuka hatinya'. Tuhanlah yang 'memainkan' semuanya.


Tak ubahnya dengan hal itu, sebagai seorang penulis bisa diibaratkan demikian. Tidak berlebihan, memang. Karena penulislah yang menarasikan semua alur ceritanya, penulis yang menentukan tokoh dalam ceritanya, penulislah yang juga menentukan 'takdir' semua tokohnya dan akan dibawa kemana alur karya seseorang. Semua ditentukan oleh penulis. Dari situ penulis menjadi "Yang Maha Kuasa" bagi karya-karyanya.


Hal demikianlah yang diungkapkan oleh Mbak Key, sapaan Ir. Kirana Kejora seorang novelis best seller _Air Mata Terakhir Bunda_ dan beberapa novel yang telah ia hasilkan. Saya mengamini pendapat Mbak Key yang diungkapkan saat kopdar SPK 8, 26 Februari 2022 di Universitas NU Sidoarjo (UNUSIDA) lalu itu. Pasalnya, saya juga menemukan informasi demikian tatkala meneliti beberapa karya tafsir Alquran. Seperti halnya Hamka, penulis tafsir al-Azhar ini menarasikan karyanya ke dalam ideologi modernis. Begitu juga dengan Hasbi Ash-Shiddiqie yang menulis tafsir an-Nur. Kedua mufasir ini memang dikenal berafiliasi dengan kelompok Muhammadiyah yang berideologi modernis.


Hal di atas tampak menegaskan bahwa, penulis dapat disebut sebagai 'tuhan', sebagai sutradara dalam sebuah sinetron, ataupun dalang dalam istilah pewayangan. Dari sini dapat kita simpulkan bahwa menjadi penulis sebenarnya sebuah pilihan, antara 'hamba' dengan 'tuhannya'. Jika memilih menjadi 'tuhan', Anda akan menang dalam kehidupan, karena sifatnya yang aktif dan produktif. Sementara pilihan menjadi 'hamba' akan menghantarkan Anda menjadi seorang pasif dan cenderung kontra produktif.


Kediri, 04 Maret 2022

Komentar

  1. Menjadi penulis artinya meninggalkan warisan kebudayaan dan peradaban. Tulisan adalah warisan yang tak lekang oleh waktu, maka menulislah. Pasti bermanfaat bagi generasi selanjutnya.

    Ulasan menarik mas, mengajak orang lain menjadi 'tuhan' atas karyanya hehe.

    BalasHapus

Posting Komentar