Mencuri Waktu

 


Beberapa hari belakangan ini saya ada kendala untuk menulis. Kendala itu terletak pada waktu yang saya gunakan. Tidak dapat dipungkiri, setelah menikah dua tahun lalu, waktu menjadi suatu yang sangat penting (sebenarnya sejak dahulupun sudah penting). Namun baru kali ini saya merasakan betul, bagaimana pentingnya waktu. Ditambah lagi ketika sudah memiliki momongan, membuat waktu saya untuk menulis semakin terbatas. Waktu sehabis subuh misalnya, yang saya gunakan untuk menulis kini tersita harus mengajak si bocil jalan-jalan, sementara si ibuknya berada di dapur. Sehingga waktu itu telah tergantikan menjalani kewajiban lain yang juga tidak kalah pentingnya.


Saya merasakan betul, semenjak memiliki momongan, waktu luang sangatlah berharga. Hampir dalam aktivitas sehari-hari, waktu terbanyak diluangkan untuk si bocil (alih-alih sambil jalankan pekerjaan lain). Mencari waktu luang saat ini bagi saya sudah sangat susah, hanya ketika si bocil tidurlah waktu yang ada untuk saya gunakan menulis. Namun waktu itu terkadang juga tersita dengan pekerjaan lain yang juga harus saya selesaikan. Alhasil, curi-curi waktu pada momen-momen ini yang hanya bisa saya lakukan.


Meskipun demikian, seperti banyak penulis -penulis lain, persoalan waktu menjadi suatu yang berharga. Saya yakin, para penulis top di dunia ini bukanlah tipe orang rebahan. Bahkan saya yakin juga mereka-mereka tentu memiliki aktivitas-aktivitas yang padat dan lebih sibuk daripada saya. Hanya saja mereka memang menyisihkan sedikit waktu untuk menulis. Itulah yang dilakukan para penulis, karena sudah menjadi pekerjaan sehari-hari mereka.


Menulis memang membutuhkan peejuangan yang tidak mudah. Alih-alih perjuangan menuangkan kata-kata dalam goresan pena, perjuangan mencari waktu menjadi hal lain yang juga tidak dapat dikesampingkan. Yang terpenting, bagi penulis adalah kemauan untuk selalu menulis dan berexplorasi serta terus mengasah kemampuan menjadi hal kunci yang harus selalu dilakukan.


Kediri, 18 Februari 2022

Komentar