Spirit Cinta Kasih, Persaudaraan, dan Kemanusiaan dalam Dakwah Nabi Muhammad saw

 

Thoriqul Aziz

Wa ma arsalnaka illa rahmatan lil alamin, (Dan kami tidak mengutusmu (Muhammad) kecuali sebagai pemberi rahmat seluruh alam (QS. al-Anbiya'/21: 107). Pada ayat ini yang menjadi titik tekan kehadiran Nabi Muhammad adalah sebagai rahmat. Dalam Mu'jam Maqayis fi al-Lughah, kata rahmat terdiri dari tiga huruf, ra, ha, dan mim yang memiliki arti 'kelembutan, kehalusan dan kasih sayang’. Lebih detilnya, pakar bahasa Arab Raghib al-Asfahani dalam Mufradat alfadz al-Qur’an, menjelaskan maksud dari kata tersebut, kata rahmat berarti ‘kelembutan yang menuntut berbuat baik kepada yang disayangi’. 

Dari sini dapat dipahami, bahwa ayat ini menjelaskan kehadiran Nabi Muhammad saw ke dunia ini sebagai rahmat seluruh alam. Rahmat yang bukan hanya untuk umat manusia, atau hanya bangsa Arab, atau hanya umat Muslim saja, tetapi juga untuk semua makhluk seluruh alam. Hal ini sekaligus menjadi isyarat bahwa segala sesuatu yang keluar dari koridor rahmat dapat dipastikan bukan berasal dari Nabi Muhammad saw.

Nabi Muhammad saw sering mencontohkan perihal kelemah lembutan, toleransi, dan cinta kasihnya dalam setiap laku hidup sehari-hari. Beliau mencintai anak-anak, istri, orang-orang tua,  yang tidak terbatas pada keluarganya. Tetapi untuk semua umat manusia, meskipun terhadap musuh-musuhnya. Beliau orang yang mencintai perdamaian dan senang mencari dan mempererat tali persaudaraan. Beliaulah orang yang selalu menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan di atas segala kepentingan. Dengan dakwah demikian, Nabi Muhammad saw dapat menyebarkan agama Islam, sebagai agama rahmat bagi seluruh alam.

Sebagai contoh konkritnya, saat Nabi Muhammad berhijrah dari Makkah ke Madinah. Usaha pertama yang beliau lakukan ialah mempersaudarakan kaum Muhajirin dengan kaum Anshar. Sungguh ini menjadi fenomena yang menakjubkan. Nabi menghapus jiwa-jiwa Jahiliyyah yang terlalu mementingkan kesukuan atau kekabilahan sebagai penyebab perpecahan. Saat itulah kemudian di Madinah, Nabi saw membuat Piagam Madinah yang menjadi piagam pertama di dunia dengan menghadirkan dan menjunjung tinggi asas-asas kemanusiaan. Dengan konsep demikianlah akan tercipta masyarakat yang berperadaban luhur dan adiluhung.

Peristiwa lain yang menjadi rujukan dakwah cinta kasih Nabi ialah saat Fathul Makkah. Nabi Saw memerintahkan para sahabatya yang berjumlah 10.000 orang berbondong-bondong memasuki kota Makkah dari berbagai penjuru. Setiba di dekat Makkah, mereka membuat perkemahan-perkemahan sebagai tempat penginapan. Kedatangan Nabi Muhammad dan para sahabatnya ini didengar oleh kaum kafir Quraish.

 Mendengar akan kedatangan kaum muslimin yang berjumlah besar tersebut, mereka gemetar dan ketakutan. Saat itulah Nabi Saw memerintahkan salah satu sahabatnya untuk menyerukan kepada kafir Quraish, bahwa kedatangan kaum Muslimin tidak akan menumpahkan darah. Dalam sebuah riwayat nabi berkata, hadza yaumul marhamah (hari ini adalah hari kasih sayang), bukan hadza yaumul malhamah (hari pembalasan dendam). 

Inilah yang menjadi tanda dakwah Nabi saw yang selalu menebar cinta kasih, mempererat tali persaudaraan, dan mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan. Dakwah yang selalu menebar kemaslahatan, bukan kebencian. Spirit dakwah Nabi tersebut patut dijadikan sebagai sebuah teladan bagi setiap orang yang beriman saat ini demi tersemainya Islam yang rahmatan lil alamin.

Komentar