Seorang anak perempuan seusia sekolah menengah rela menjual gorengan untuk membeli 'waktu' bersama orangtuanya.
Sebenarnya saya tidak begitu tertarik film-film pendek yang tayang di salah satu stasiun tivi itu. Banyak yang berkata, adegan dalam film-film tersebut berisi adegan-adegan baperan.
Tetapi, kali pagi ini dengan ditemani sepiring nasi dengan sayur bening plus telur asin. Dan tidak ketinggalan pula sambel tomatnya. Saya ketepak.an melihat sekilas adegan film itu.
Saya tidak tau secara pasti alur ceritanya. Karena saya tidak melihat dari awal tayang. Hanya ketepak.an saja melihat salah satu adegan film itu.
Ceritanya ada seorang anak perempuan seusia sekolah menengah yang berjalan-jalan ditepi jalan sambil membawa kotak kecil di tangan kirinya. Dan berteriak-teriak "gorengan..gorengan...gorengan bu..". Ia ramah pandai menyapa orang-orang di sekelilingnya.
Ketika ada yang menghampiri. Ia langsung menyapa dengan senyuman. Dan menawarkan gorengannya. Berapa harganya dek? tanya pembeli pada anak perempuan itu. "Limaratus bu.., mau beli berapa ya? jawab si anak perempuan itu dan lantas menimpali pertanyaan pada ibu setengah baya itu.
Ada dua pembeli saat itu, yang masing-masing beli dua ribunan. Ternyata, kedua ibu tadi pembeli terakhir. Gorengan anak perempuan itu habis terjual. Anak perempuan itu senang gak kepayang. Sambil memegang uang hasil jualannya tadi.
Pada saat yang bersamaan, ada seorang preman yang menjambret anak itu. Anak perempuan itu dengan mempertahankan uangnya. Si preman tidak mau kalah. Anak perempuan itu didorong hingga jatuh tersungkur. Ia nangis, preman pun pergi.
Anak perempuan itu berlari, dan sebisa mungkin merebut kembali uang jerih payahnya. Dan ia berhasil memegang pakaian belakang si preman dan anak itu berusaha merebut lagi dan lagi uang yang ada digenggaman si preman.
Pada saat bersamaan, ada seorang ibu pulang dari pasar. Langsung saja, tolong...tolong... ibu itu berteriak minta tolong pada warga sekitar.
Preman tersebut kepergok dan lari. Meskipun demikian, anak perempuan itu tidak berhasil merebut uangnya. Dibawa lari preman. Ia nangis menjadi-jadi.
Si ibu tadi ternyata gurunya. Mengapa kamu ada disini nak? tanya ibu guru pada anak itu. Saya bantu jualan gorengan orang bu..Jawab anak perempuan itu.
Loh, bukannya ayah dan ibu kamu bekerja. Tanya ibu guru lagi. Iya bu (sambil nangis tersedu-sesu dan menyeka air matanya), saya jualan gorengan untuk membeli "waktu". Kata ibu saya, bekerja lima menit sama dengan limaratus ribu. Jawab anak itu yang masih saja belum berhenti menangis.
Ibu dan ayah bekerja. Dan ketika dirumah selalu pegang HP. Saya menjual gorengan. Untuk membeli waktu ibu saya, lima menit saja. Saya ingin bersama ibu. Jawab anak perempuan itu yang semakin tersedu-sedu.
Melihat adegan itu, miris, sedih, terharu bercampur aduk jadi satu. Dan tentu pukulan buat saya. Dan mungkin papa dan mama muda jaman now.
Teknologi saat kini harus diakui menemukan momentumnya. Kemudahan teknologi, seperti gadged telah memberikan dampak positip sekaligis negatip.
Namun dalam konteks berumah tangga. Orangtua harus bijak dalam menggunakan gadgetnya. Jangan sampai ada korban dalam rumah tangga. Sebagaimana adegan film di layar kaca itu.
Kediri, 17 September 2021
Komentar
Posting Komentar