Menjadi Manusia yang Fleksibel

 

Manusia makhluq Tuhan yang paling sempurna di antara makhluq-makhluq lain yang diciptakan oleh Yang Maha Kuasa (kholaqol insana fi taqwim). Hal itu disebabkan kemampuan manusia yang tidak dimiliki oleh yang lain, malaikat sekalipun. Manusia dapat melakukan kreasi-kreasi sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan setiap generasi. Artinya, manusia bisa dikatakan sebagai manusia yang fleksibel, tidak kaku. Inilah yang seharusnya dilakukan di setiap langkah kehidupan.


Dalam konteks kehidupan keluarga misalnya, seorang suami dituntut dalam berbagai peran, menjadi seorang suami bagi istrinya, menjadi bapak pada anknya, menjadi anak pada orangtuanya, begitu juga sebaliknya seorang istri. 


Sebagai contoh kasus dalam realita kehidupan, seorang suami yang memiliki pekerjaan menumpuk di kantor. Tentu hal ini menjadi tanggung jawab tersendiri. Pada saat pulang, dirumah sudah ada istri dan anak. Sampai di rumah, sang suami langsung bersalaman dan memeluk istrinya. Pada saat yang bersamaan, sang anak mengajak bermain ayahnya. Sang ayahpun menyanggupi permintaan sang anak dengan main mobil-mobilan. Setelah puas dengan bermain, mertuanya datang menengok sang cucu. Langsung saja, seorang suami itu mengecup tangan mertua dan menghormatinya.


Dari realita tersebut, seorang suami telah menjadi seorang manusia fleksibel. Setidaknya ada empat hal yang diperankan suami tersebut. Pertama, sebagai seorang suami yang bertanggung jawab menafkahi keluarganya. Kedua, sebagai suami yang memiliki kasih sayang pada istri. Ketiga, memiliki sikap kekanak-kanakan. Keempat, menjadi seorang anak yang berbakti.

Kediri, 3 September 2021

Komentar