Judul lengkapnya adalah Syiir Ngudi Susilo Suko Pitedah Kanti Terwelo. Kitab ini ditulis oleh KH. Bisri Musthofa yang berasal dari Rembang Jawa Tengah. Tidak ada data pasti yang menyebutkan dimulainya penulisan kitab ini, KH. Bisri hanya menginformasikan selesainya penulisan kitab ini yaitu pada bulan Jumadil Akhir tahun 1373 H. Kitab ini dicetak oleh penerbit Menara Kudus.
Pada halaman sampul, tertera nama judul "Syiir Ngudi Susilo Suko Pitedhah Kanti Terwela" yang ditulis dengan aksara pegon. Kemudian kata di bawahnya tercantum keterangan nama penulisnya yaitu "Kiyai Bisri Musthofa Rembang" dan di bawahnya lagi diinformasikan nama penerbit yakni Menara Kudus. Pada halaman ini, sebagai estetika bagian tepi dikasih hiasan garis tebal berwarna hitam yang berlenggak lenggok.
Sementara pada bagian isi, kitab ini berisi syair-syair berbahasa Jawa yang ditulis dengan aksara pegon berjumlah kurang lebih 80 bait syair.
Pada bagian pembukaan, KH. Bisri mengawalinya dengan menarasikan maksud dan tujuan beliau menulis kitab ini serta sasaran yang ditujunya.
Secara jelas beliau mendendangkan bahwa kitab ini ditujukan kepada semua "bocah" (anak-anak) laki-laki dan perempuan. Sementara tujuan dituliskan kitab ini untuk memberikan pitedah (petunjuk) bagi mereka untuk menjauhi perilaku-perilaku yang buruk. Dalam artian, KH. Bisri ingin menunjukkan perilaku-perilaku yang semestinya harus dilakukan dalam bersosialisasi di masyarakat. Berikut kutipannya:
Iki syiir kanggo bocah lanang wadon # nebehake tingkah laku engkang awon
(ini syiir untuk anak laki-laki dan perempuan)
Serto nerangake budi kang prayugo # kanggo dalan melbu marang yang suwargo
Serta menerangkan budi yang seharusnya # buat jalan menuju ke surga).
Dalam kitab ini ada beberapa bab yang dibahas. Pada bab pertama, KH. Bisri mendendangkan syiir tentang pentingnya mengetahui waktu yang dirangkum dalam judul "Bab Ambagi Waktu" (Bab Membagi Waktu). Sangat tepat sekali, KH. Bisri menempatkan penjelasan tentang membagi waktu di awal. Karena waktu merupakan suatu hal merupakan suatu yang penting. Apalagi bagi anak-anak yanh notabene masih senang bermain sehingga lupa akan waktu untuk mengerjakan pekerjaan yang lain, shalat misalnya.
Menginjak pada bab selanjutnya, beliau membahas tentang bab "Ing Pemulangan" (Di Sekolahan), "Mulih Saking Pemulangan" (Pulang dari Sekolahan), "Ono ing Omah" (Ketika di Rumah), "Karo Guru" (Akhlaq Dengan Guru), "Ono Tamu" (Akhlaq Ketika ada Tamu), dan seterusnya.
Satu hal lagi yang patut diulas disini, adalah bab tentang "Cita-cita Luhur". Pada bab ini KH. Bisri memberi penjelasan panjang lebar. Menurut KH. Bisri dalam bab ini menerangkan bahwa seorang anak harus memiliki cita-cita mulia. Karena dengan cita-cita mulia dengan memiliki ilmu yang mumpuni, baik ilmu umum maupun agama seorang anak akan menjadi generasi yang bermanfaat bagi umat. Berikut syair yang dilantunkan:
Anak Islam kudu cita-cita luhur # Keben dunyo akhirote biso makmur.
(Anak Islam harus memiliki cita-cita yang mulia # Agar di dunia dan di Akhirat hidup makmur)
Cukup ilmu umume agamane # Cukup dunyo kanthi bekti pengerane
(Cukup ilmu umum dan agama # Cukup dunia disertai berbakti pada Tuhannya).
Dari penjelasan di atas KH. Bisri tampak mensinergikan antara ilmu yang sifatnya umum dan ilmu keagamaan. Ilmu umum notabene mengarah pada kerja duniawi harus diselaraskan dengan ilmu agama yang mengarah pada dimensi ukhrowi. Dari sini tampak pula, KH. Bisri menanamkan nilai-nilai moderasi.
Komentar
Posting Komentar