Siapa Bilang Menjadi Muslim yang Moderat itu Gampang?

 


Oleh: Thoriqul Aziz


Moderasi Islam. Itulah narasi yang  digaungkan oleh pemerintah Indonesia beberapa dekade terakhir ini. Narasi tersebut disampaikan melalui elemen-elemen terkait yang bertujuan untuk memahamkan masyarakat tentang pemahaman Islam yang moderat. Pemahaman ini digerakkan karena untuk membendung aliran-aliran radikal yang kuan hari semakin menjamur. 


Pada dasarnya, Islam itu sudah bersifat moderat. Karena moderat itu Islam, Islam itu ya moderat. Begitulah kata Musthofa Bisri (atau yang biasa dikenal dengan Gus Mus). Akan tetapi dengan melalui pendekatan serta sudut pandang yang berbeda akan menghasilkan pemahaman yang beda pula.


Moderat berarti tidak berat pada satu sisi yang ekstrim, tidak terlalu berpihak pada ekstrim kanan tidak pula berpihak pada ekstrim kiri. Moderat berada di tengah-tengah keduannya. Pandangan seperti ini, oleh sebagian orang dianggap tidak memiliki pandangan yang kuat dan cenderung goyah.  Akan selalu mengikuti arus ke kiri maupun ke kanan. Tidak membutuhkan pemikiran lebih untuk berada pada posisi tersebut. 


Hal di atas, selamanya tidak benar. Pada dasarnya pandangan justru terbalik dari prasangka-prasangka di atas. Untuk berada dalam posisi ini butuh pemikiran yang mendalam. Karena harus menengahi di antara kedua sisi ekstrim. Akhirnya dengan pemikiran seperti itulah kemudian membawa seseorang pada posisi yang kuat. 


Sebagai contoh, dalam konteks berumah tangga. Ketika ada seorang suami yang memiliki istri, dalam posisi ini dia menjadi seorang kepala rumah tangga yang harus dapat memimpin keluarga kecilnya. Disini peran sebagai seorang suami dapat leluasa dan 'dominan' untuk kepentingan keluarganya. 


Namun pada saat yang sama, seorang suami yang dihadapkan dengan orangtuanya, posisinya kembali pada status sebagai anak. Dalam posisi ini, seorang anak harus selalu taat pada mereka. Lha, disinilah biasanya sering terjadi  bentrokan. Pada suatu saat ada keinginan orangtua yang berbeda dengan keinginan seorang istri misalnya, seseorang perlu berpikir moderat. Di saat yang sama ia harus mejadi pelindung dan pengayom keluarga kecilnya dan di saat yang bersamaan dia tidak mengorbankan orangtuanya. Disitulah letak bersikap moderat yang tidak terlalu memberatkan salah satu pihak.


#Kediri, 20 Agustus 2021

Komentar