Oleh: Thoriqul Aziz
KH. Ahmad Abdul Hamid (selanjutnya Kiai Ahmad) merupakan sosok kiai yang terlahir di era sebelum kemerdekaan. Ia hidup semasa dengan KH. Bisri Musthafa, penulis tafsir al-Ibriz. Kiai Ahmad merupakan kiai yang memiliki talenta yang banyak. Selain sebagai seorang kiai, namanya pernah populer pada saat ia ditunjuk sebagai pembawa obor saat PON Mrapen. Iya, Kiai Ahmad adalah seorang atlet atau olahragawan. Makanya meskipun diusia senja, ia masih bisa lari berpuluh-puluh meter dengan membawa obor.
Selain itu, nama beliau begitu dikenal oleh kalangan ulama Nahdliyin. Beliaulah yang menciptakan kalimat penutup pidato, ceramah, ataupun surat menyurat yaitu Wallahul Muwaffiq Ila Aqwamith Thariq. Artinya, “Dan Allah adalah Dzat yang memberi petunjuk ke jalan yang selurus-lurusnya”. Yang kemudian kalimat ini menjadi ciri khas kiai NU. Sebekumnya, redaksi yang diciptakan ialah kalimat billahi taufiq wal hidayah (dengan pertolongan dan petunjuk Allah)..ada yang menyebut dengn ditambah wa ridha wal inayah. Akan tetapi ketika redaksi ini sudah menjadi konsumsi umum, bahkan anggota politisi Golkar saat itu juga turut menggunakannya. Sehingga kalimat itu tidak lagi menjadi ciri khas ulama Nahdliyin. Oleh karenanya diciptakan kalimat sebagaimana yang di atas, yang masih dilakukan hingga saat ini.
*Biografi KH. Ahmad Abdul Hamid al-Qandali*
Melihat nisbah yang ada diakhir namanya, al-Qandali dapat ditebak asal beliau, yaitu Kendal. Salah satu kabupaten yang berada di Jawa Tengah. Beliau lahir pada era sebelum kemerdekaan Indonesia, tepatnya tahun 1915. Beliau merupakan putra dari Syekh Abdul Hamid bin Ahmad al-Qandaly.
Masa kelahiran Kiai Ahmad banyak bermunculan organisasi-organisasi massa, baik yng berorintasi sosial, ekonomi, politik maupun keagamaan. Seperti organisasi Muhammadiyah yang berdiri tahun 1912, Nahdhatut Tujjar yang dianggap sebagai cikal bakal Nahdhatul Ulama berdiri tahun 1918, berdirinya SDI (Serikat Dagang Islam) tahun 1920an, lahirnya NU tahun 1926, serta Sumpah Pemuda yang lahir tahun 1928.
Tidak banyak data yang penulis temukan terkait pendidikan Kiai Ahmad. Menurut beberapa literatur, beliau pernah berguru pada Kiai Cholil bin Harun, pengasuh pondok di Kasingan. Dari dialah, Kiai Ahmad mendalami ilmu-ilmu agama. Kiai Cholil merupakan guru dari beberapa ulama kondang di era 60 an, seperti dua saudara kandung yaitu KH. Bisri Musthafa dan KH. Misbh Musthafa dari Rembang.
Di atas sudah penulis singgung bahwa Kiai Ahmad adalah sosok kiai yang demen dengan olahraga. Kedemenannya dengan olahraga ini sudah ada semenjak remaja. Dikala masih nyantri di pondok Kasingan, beliau mendirikan sebuah tim sepak bola dan beliau berposisi sebagai penjebol gawang lawan (striker). Kepiawaiannya dalam mengolah bola ini masih dapat dilihat dikala usia yang sudah senja tatkala ada laga persahabatan tim veteran. Tim yang dibela Kiai Ahmad menag telak atas lawannya dengan skor 5-1. Dan tentunya sebagai seorang striker, Kiai Ahmad memborong 4 goal (quatrik).
Setelah menimba ilmu dari Kiai Cholil, tidak ditemukan data kepada siapa Kiai Ahmad melakukan transmisi intelektualnya. Dalam perjalanan intelektualnya, Kiai Ahmad merupakan pejuang di bidang pendidikan. Untuk mewujudkan cita-cita tersebut, beliu mendirikan sebuah pedantren di daerahnya yang dinamai dengan pesantren al-Hidayah. Melalui pesantren inilah perjuangan Kiai Ahmad dalam rangka membangun misi mencerdaskan kehidupan bangsa, utamanya pada masyarakat sekitarnya.
Kiai Ahmad dikenal sebagai seorang kiai yang ramah. Perkenalan-perkenalan yang dilakukan semasa hidupnya tidak hanya pada kalangan santri semata, melainkan pada seluruh kalangan umat. Beliau berteman dengan para pejuang veteran kemerdekaan, anggota klub jantung sehat, pecinta maraton, hingga pecinta sepak bola.
Oleh karena keterlibatannya dalam dunia olahraga, pada suau era ia pernah menjabat sebagai Wakil Ketua KONI Jawa Tengah. Karena persahabat ini pula, beliau mendirikan perkumpulan yang diberi nama Silaturahmi Ngumpulne Balung Pisah. Persahabatan-persahabatan beliau ini dapat dilihat dari beberapa tokoh yang juga akrab dengannya, seperti KH. Wahid Hasyim (ayah Gusdur) yang pernah menjabat sebagai menteri agama dimasanya.
Sementara itu, keulamaan Kiai Ahmad dengan kedalaman terhadap ilmu agama, menjadikan dirinya semakin dipercaya oleh masyarakat. Oleh karenanya berbagai jabatan penting di daerahnya maupun hingga lingkup nasional dibebankan kepadanya, seperti Imam Masjid Besar Kendal, Rais Syuriyah PCNU Kendal, Wakil Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah, Rais Syuriyah PWNU Jawa Tengah (dengan Katib KH. Sahal Mahfudh), dan terakhir sebagai Mustasyar PBNU.
Dari karier perjuangannya di atas, tampaknya Kiai Ahmad mendedikasikan dirinya sebagai pejuang NU. Perjuangan tersebut diwujudkan dengan pemikiran-pemikirannya, salah satunya ialah dialah yang mengusulkan untuk membangun gedung PBNU dengan sembilan lantai sesuai dengan bintang yang ada dalam lambang NU, lintang songo. Gedung tersebut dibangun di Kramat Raya Jakarta. Sayangnya, sebelum gedung tersebut selesai dibangun, Kiai Ahmad sudah wafat pada 14 Februari 1998 diusianya yang ke 83 tahun. Kiai Ahmad juga dikenal sebagai seorang kiai yang rapi dalam menyimpan dokumen-dokumen penting NU, mengumpulkan buletin LINO (Lailatul Ijtima' Nahdhatoel Oelama'), dan berita NO yang sudah beredar sejak 1930.
*Kiai yang Prolifik*
Kecintaan Kiai Ahmad dalam dunia literasi nampak dalam ketekunannya dalam mengelola dan keterlibatanya dalam dunia literasi serta mempraktikkannya dalam penulisan sebuah karya tulis maupun terjemah. Sebagaiman yang penulis singgung di atas, Kiai Ahmad yang gemar mengumpulkan buletin-buletin serta berita-berita tentang NO yang notabene semua itu dokumen dalam bentuk tertulis. Hal ini tidak mungkin dilakukannya kalau tidak ada landasan karena cinta terhadap literasi. Oleh karena itu, beliau juga mengaplikasikannya melalui karya-karya tulis yang dihasilkan semasa hidupnya yang mecapai 20 judul. Diantara karya tersebut ialah: I’anatul Muhtaj fi Qisshati al-Isra’ wal Mi’raj, Risalatun Nisa’/ Risalah al-Huquq al-Zaujain, Tashilut Thariq, Fasholatan Jawa, Fasholatan Sunda, Sabilul Munji Fi Tarjamati Maulid al-Barzanji, Risalatus Shiyam, Terjemah Yasin, Waqi’ah dan al-Mulk, Primbon Tahlil, Manarul Jum’ah, Miftahud Da’wah Wat-Ta’lim. 2 Jilid, Surat Yasin dan Tahlil. Arab beserta terjemahan Indonesia, Mursyidul Anam dengan ulasan utawi iki iku (makno gandul) adalah terjemahan dari Aqidah Ahlissunnah wal Jama’ah, Manasikul Hajji wal Umrah, Tuntunan Menjadi Anak Soleh, Tarikh Nabi, Amalan Sehari-Hari, Risalah An-Nahdliyyah, Risalah Sapu Jagat.
Mayoritas karya Kiai Ahmad ditulis dengan bahasa Jawa beraksara pegon. Dari beberapa karya di atas ada satu karya yang menjadi best seller. Kitab tersebut ialah Fashalotan Jawa . Kitab tersebut berisi tuntunan tata cara atau praktik melakukan shalat yang dilengkapi dengan bacaan dan gambar gerakan shalat. Kitab tersebut ditulis dengan aksara pegon yang diterbitkan di PT. Toha Putra Semarang. Menurut penuturan bos penerbit tersebut, kitab ini telah divetak sebanyak 50 ribu eksemplar. Hal ini membuktikan bahwa karya Kiai Ahmad tersebut laku di pasaran.
#LiterasiParaKiai
#Kediri, 30 Juli 2021
Komentar
Posting Komentar