Masalah Taqlid dan Seruan "Kembali ke Alquran dan Hadis"

 

oleh: Thoriqul Aziz


Seruan terhadap umat Islam "kembali kepada Alquran dan Hadis" santer didengungkan oleh sebagian kelompok Islam yang telah dimulai akhir abad ke-19. Narasi tersebut sampai saat ini masih di suarakan oleh kelompok sebelah. Sebut saja kelompok modernis.


Mereka mengajak umat saat ini yang dianggap telah jauh dari kedua sumber Islam yang otoritatif tersebut (Alquran dan hadis). Biasanya kelompok ini merujuk pada kitab-kitab fiqih sebagai sumbernya yang diaplikasikan dalam ranah keagamaan, maupun kitab-kitab lain karangan para ulama. Kelompok yang diajak ini lawan dari kelompok di atas. Sebut saja kelompok tradisionalis.


Kelompok modernis sering mengkritik bahwa kelompok tradisionalis sudah melenceng dan telah 'meninggalkan' Alquran dan Hadis. Kelompok ini dianggap ndak aptudet, ndeso, dsb. Sehingga kelompok ini tampak tertinggal di beberapa aspek bidang kehidupan dunia. Seperti sain dan teknologi.


Ada beberapa yang dipermasalahkan oleh kelompok pertama. Mulai dari takhayul, bid'ah, dan churafat (biasa disingkat TBC). Aspek lain yang menjadi kritikan pedas pada kelompok tradisionalis ialah tentang bermadzhab atau taqlid pada ulama. Hal ini diserang habis-habisan oleh kelompok modernis.


Okelah kita bahas masalah ini. Orang yang taqlid dianggap tidak menempatkan Alquran dan Hadis sebagai sumber utamanya. Dan juga, orang taqlid tidak memiliki pemikiran yang terbuka. Sehingga mengakibatkan pikiran jadi jumud, mandeg. Tidak ada perkembangan sama sekali.


Sebentar-sebentar, kalau kita tidak boleh taqlid pada ulama. Saya mau tanya kepada mereka, memang Alquran dan Hadis yang ada dihadapan mereka saat ini yang menulis siapa? Nabi Muhammad tidak pernah menulis sendiri, Alquran dan hadisnya. Alquran ditulis oleh sahabat Zaid bin Tsabit. Yang kemudian dikanonisasi dan dijadikan satu mushaf oleh khalifah ketiga, Sayyidina Utsman bin Afan.


Wajah Alquran saat itupun juga berbeda dengan yang sekarang. Dulu, tidak ada tanda-tanda huruf seperti titik-titik. Antara huruf jim dan kho' gak ada bedanya. Begitu juga dengan huruf ba', ta', dan tsa, semuanya sama hanya lengkungan garis seperti prahu.


Dan juga, Alquran dulu ndak ada tanda fathah, kasroh ataupun dlomah. Kalo orang awam seperti saya, ya kalo baca pasti berantakan. Salah semuanya. Karena tidak dapat membedakan mana yang fathah, mana yang kasroh, dan dlomah. 


Kira-kira mereka bisa baca nggak ya, kalo seandainya Alqurannya tanpa tanda baca? wallahu'a'lam.


Untung saja saat itu ada ulama yang berinisiatif, bahasa kerennya berijtihad, membubuhi huruf-huruf Alquran tersebut dengan tanda-tanda. Itulah yang dilakukan oleh seorang ulama, al-Farahidi namanya. Dan sekarang, alhamdulillah saya taqlid pada beliau dan yang saya baca setiap saat.


Sementara hadisnya, banyak dari para sahabat yang menulis, seperti Siti Aisyah, Abi Hurairah, dan yang lainnya. Yang kemudian dua abad pasca wafatnya Nabi Muhammad saw. Hadis baru dibukukan.  Ingat, dua abad gaess.  Itu bukan waktu yang singkat, sinetron yang dikagumi permisa Indonesia saat ini dengan tokohnya yang dikenal kang Aldebaran dan Mbak Andin aja masih umur satu tahun. Jadi, jarak segitu hadis yang saat ini ada. Lalu kalo tidak ditulis oleh para ulama, apakah hadis bisa sampai pada kita? tidak mungkin.


Kitab shahih Bukhari dan Shahih Muslim yang terkenal itu, juga ditulis oleh ulama. Ulama yang ahli hadis di abad ke 2 Hijriah. Dan kalo Anda tidak bertaqlid pada beliau, mau taqlid pada siapa jua? terus hadis-hadis yang dibaca sekarang ini tulisan siapa? Yang pasti ya para ulama ahli hadis.


Terus yang ada sekarang, Alquran dan hadis yang ada dihadapan mereka tulisannya siapa? sekali lagi Nabi Muhammad saw tidak menulis sendiri lho.. Lalu kalau bukan tulisan para ulama secara turun temurun pada para ulama setelahnya, siapa lagi?. Makanya saya bertanya, Alquran dan hadis yang mana?. Saya ini orang awam, mbokya dikasih tau.


Yang saya tau, Alquran dan hadis yang tersebar saat ini ada banyak ragam cetakan. Ada yang dari Jakarta, semarang, Surabaya, dan kota-kota lainnya. 


Jadi, dapat disimpulkan. Sebenarnya dengan  taqlid itu juga berdasar pada Alquran dan hadis juga. Para ulama dahulu dalam menetapkan hukum juga berpedoman dengan Alquran dan hadis juga. Tidak asal-asalan.


Alquran dan hadis, kalo saya mengibaratkannya seperti air yang ada dalam sebuah kendi (baca: teko). Kalo anak kecil langsung minum ke teko bisa ndak ya? bisa, tapi mungkin banyak yang berantakan. Baju jadi basah semua. Jadi seperti itu juga, memahami Alquran dan hadis itu harus hati-hati. Tidak boleh sembarangan. Kalo tidak bisa meneguk langsung dari teko, ya dituang dulu ke gelas. Baru diminum.


Lha, gelas inilah yang ibarat para ulama dahulu yang telah berijtihad, memahami Alquran dan hadis. Kalo orang awam seperti saya ini, ya pantasnya minum dari gelas. Tidak langsung dari tekonya.


Satu ibarat lagi nih,  kita hidup di negara republik Indonesia yang berpedoman pada pancasila. Lantas, banyak suatu perkara maupun kasus, namun tidak langsung merujuk ke pancasila. Melainkan pada 'pecahan' hukum yang telah ditetapkan dalam pasal-pasal. Jadi ndak langsung merujuk ke sumber utamanya. Tetapi toh demikian, pasal-pasal tersebut diambilkan dari inti sari pancasila.


Poinnya, menurut saya, kalo ingin taqlid, ya dipilah-pilah, diliat-liat porsinya dulu dan melihat sesuatu yang di taqlidi (diikuti). Tidak taqlid buta seperti bucin. Kalo taqlid yang saya sebutkan di atas ya wajib. Namun kalo ada ada sesuatu hal yang sudah tidak sesuai dengan realita zaman ya ditinggalkan.

Komentar