Oleh: Thoriqul Aziz
Nama lengkapnya, Ahmad Asrori al-Ishaqi. Beliau ditakdirkan menjadi 'Bonek' (sebutan suporter Persebaya), karena lahir di Surabaya. Beliau lahir pada 17 Agustus 1951. Beliau merupakan anak dari seorang Kiai yang populer di masyarakatnya, yaitu KH. M. Utsman al-Ishaqi. Ayahnya merupakan seorang mursyid Thariqah Qadiriyah wa Naqsabandiyah serta pendiri pondok pesantren al-Fithrah.
Nama terakhir KH. Asrori, "al-Ishaqi" merupakan nisbah pada ayah dari salah satu wali songo yang terkenal di pulau Jawa, yaitu Maulana Ishaq, ayah Sunan Giri. Beliau urutan kelima belas. Bahkan nasab tersebut sampai ada Nabi Muhammad Saw pada urutan ke 38.
Nasab tersebut dapat dilihat dari urutan-urutan sebagai berikut:
Ahmad Asrori Al Ishaqi – Muhammad Utsman – Surati – Abdullah – Mbah Deso – Mbah Jarangan – Ki Ageng Mas – Ki Panembahan Bagus – Ki Ageng Pangeran Sedeng Rana – Panembahan Agung Sido Mergi – Pangeran Kawis Guo – Fadlullah Sido Sunan Prapen – Ali Sumodiro – Muhammad Ainul Yaqin Sunan Giri – Maulana Ishaq – Ibrahim Al Akbar – Ali Nurul Alam – Barokat Zainul Alam – Jamaluddin Al Akbar Al Husain – Ahmad Syah Jalalul Amri – Abdullah Khan – Abdul Malik – Alawi – Muhammad Shohib Mirbath – Ali Kholi’ Qasam – Alawi – Muhammad – Alawi – Ubaidillah – Ahmad Al Muhajir – Isa An Naqib Ar Rumi – Muhammad An Naqib – Ali Al Uraidli – Ja’far As Shodiq – Muhammad Al Baqir – Ali Zainal Abidin – Hussain Bin Ali – Ali Bin Abi Thalib / Fathimah Binti Rasulullah SAW.
KH. Asrori di masa remajanya tidak seperti biasa pada umumnya remaja. Dari data yang ada, beliau tidak pernah menempuh sekolah formal dan lebih memilih sekolah non formal. Itupun kehadiran saat proses belajar mengajar tidak tertib. KH. Asrori melakukan transmisi intelektualnya pertama di sebuh pondok pesantren di Jombang yang diasuh oleh KH. Mustain Romli, yaitu Pondok Darul Ulum. Beliau di pondok ini hanya setahun dan kemudian pindah ke pondok yang lain.
Di pondok inilah beliau beliau sering tidak masuk sekolah. Sehingga pada akhirnya, oleh sang pengurus pondok dilaporkan pada pengasuhnya (KH. Mustain Romli). Namun anehnya, justru para pengurus disuruh mendiamkan saja dan malah berkata: "Anak macan, sok mestine lakyo dadi macan". Maksudnya, KH. Asrori merupakan seorang anak dari nasab dan keluarga yang besar pasti akan juga menjadi orang yang besar.
Meskipun jarang masuk sekolah, kecerdasannya tampak tatkala beliau mampu mengajar kitab Ihya' 'Ulumudin karangan Imam Ghazali. Kecerdasan tanpa 'ikhtiar' ini biasa disebut sebagai ilmu ladunni. Ilmu yang datang langsung dari Allah swt, tanpa melalui perantara manusia. Kecerdasan beliau mendapat legitimasi dari ayahnya sendiri (KH. Utsman) sebagaimana lewat penuturannya sendiri:"seandainya aku bukan ayahnya, aku ingin belajar padanya".
KH. Asrori belajar di Jombang hanya satu tahun, lalu beliau pindah dari satu pesantren ke pesantren lainnya. Pesantren yang ia singgahi selanjutnya ialah pesantren yang ada di Kediri, tepatnya di Pare dan Bendo.Di kedua pesantren ini, beliau juga hanya masing-masing satu tahun. Kemudian ia melanjutkan pendidikannya di Jawa Tengah, tepatnya di Pondok al-Munawwir, Jogjakarta. Sementara itu, pengembaraan terakhirnya berada di pesantren Buntet yang berada di Cirebon, Jawa Barat.
KH. Asrori terkenal dengan memiliki kepribadian yang lemah lembut. Oleh karena itu ia sangat disegani oleh masyarakat sekitarnya. Tidak hanya orang mlarat, tetapi juga kalangan konglomerat sampai birokrat. Pada masa mudanya ia memiliki grub yang dinamakan dengan "Orong-orong". Nama ini diambil dari satu nama hewan yang sering keluar pada malam hari. Melalui grup inilah, KH. Asrori melakukan dakwah utamanya pada para pemuda jalanan. Mereka diberi pitutur dan diajak mendekat pada Allah swt. Grub inilah yang menjadi cikal bakal lahirnya jamaah al-Khidmah. Jamaah yang mewadahi semua kalangan, yang tidak memandang kasta maupun golongan.
Diusianya yang terbilang masih muda, KH. Asrori sudah dibaiat oleh ayahnya untuk menggantikan perannya sebagai mursyid Thariqah Qadiriyah wa Naqsabandiyah.
Tentunya bukan perkara mudah bagi KH. Asrori untuk menggantikan peran tersebut. Oleh karena itu, tak mengherankan jika sebagian dari pengikut tarekat ini memisahkan diri dan beralih ke mursyid lain. Namun, KH. Asrori tidapatah arang, ia terus berusaha dan berdoa dalam mengemban amanat yang diberikan oleh sang ayah. Akhirnya berkat kegigihannya, jamaah yang ia bina tersebar ke seluruh penjuru dunia. Pengabdiannya berakhir pada tanggal 18 Agustus 2009, pada usia 58 tahun. Jenazahnya dimakamkan di area pesantren al-Fithrah, Kedinding Lor, Kenjeran, Surabaya.
Sisi lain dari KH. Asrori yang menarik untuk dibahas ialah dalam hal literasi. Kesibukan dalam membina umat tidak lantas abai dalam menghasilkan sebuah karya. Ia termsasuk sufi yang produktif. Setidaknya ada beberapa karya yang telah dihasilkan semasa hidupnya. Karya-karya tersebut seeperti al-Muntakhabatu fi Rabitati al-Qalbiyyati wa Silati al-Ruhiyyah. Kitab ini terdiri dari 5 jilid dan menjadi karta magnum opusnya. Anwar al-Khususiyyah al-Khatmiyyah yang berisi doa-doa pengamal tarekat Qadiriyyah wa Naqsabandiyah.
Kemudian karyanya yang lain seperti Iklil fi al-Istighathah wa al-Adhkar wa al-da’awah fi al-Tahlil,
al-Muntakhabatu fi ma Huwa al-Manaqib 5. al-S{alawatu al-Husayniyyah 6. al-Nuqt}atu wa al-Baqiyatu al-S{alih}atu wa al-‘Aqibatu al-Khayratu wa al- Khatimatu al-H{asanah 7. Basha’iru al-Ikhwan fi Tabridi al-Muridin ‘an Hararati al-Fitani wa Inqaz}i him ‘an Shabakati al-H{irman 8. al-Risalatu al-Shafiyatu fi Tarjamati al-Thamrati al-Rawd}ati al-Shahiyati bi al-Lughati al-Maduriyah 9. Laylatu al-Qadar 10. Mir’atu al-Jinani fi al-Istighathati wa al-Adhkar wa al-Da’awati ‘ind Khatmi al- Qur’an ma’ Du’ai Birr al-Walidyn wa bi Haqq Umm al-Qur’an 11. al-Fath}atu al-Nuriyah 12. al-Nafahatu fi ma Yata’allaqu bi al-Tarawih}i wa al-Witri wa al-Tasbih}i wa al-H{ajah 13. Bahjatu al-Wishati fi Dhikri al-Nubdhah min Mawlidi Khayri al-Bariyyah 14. al-Waqi’atu al-Fad}ilatu wa Yasin al-Fad}ilah 15. al-Fayd}u al-Rah}manu li man Yad}illu tah}ta al-Saqafi al-Uthmani fi al- Manaqibi al-Shaykhi ‘Abd al-Qadir al-Jilani.
Dari karya-karyanya di atas, tampak bahwa sebagian besar berbicara tentang tasawuf. Hal ini memanh sesuai dengan latar belakang keilmuan serta posisi yang diembannya, yakni sebagai mursyid thariqah. Meskipun demikian, KH Asrori juga dikenal menghasilkan karya dibidang fiqih seperti kitab Ar Risalah Asy Syafiyah fi Tarjamati Tsamaroti Ar Roudhoti Asy Syahiyah bi Lughoti Al Maduriyah sebagaimana yang disinggung di atas.
Banyaknya karya yang dihasilkan juga dikarenakan tidak memuat banyak halaman dan dalam ukuran cetakan kecil. Meskipun demikian, prestasi ini patut dijadikan sebagai panutan bagi pegiat literasi. Dengan berbagai kesibukan yang dialaminya, KH. Asrori dapat melahirkan berbagai karya.
#LiterasiParaKiai
#Kediri, 11 Juni 2021
Komentar
Posting Komentar