KH. Ahmad Rifai Kalisasak: Literasi sebagai Spirit Anti-Kolonial


Para kiai dahulu masa penjajahan memiliki peran sentral dalam memompa spirit anti penjajah. Salah satu dari mereka yang dengan gigih mengkritik dan melawan kaum penjajah ialah KH. Ahmad Rifa'i yang berasal dari desa Kalisasak, Jawa Tengah. Beliau lahir di sebuh desa di Jawa Tengah, tepatnya di desa Tempuran, Kendal. Lahir dari pasangan KH. Muhammad Marhum bin Abi Sujak Wijaya dan Siti Rahmah, pada hari Kamis, 12 Nopember 1785 (versi lain 1786) yang bertepatan dengan 9 Muharram 1200 H. Dilihat dari tahun ini, beliau hidup semasa dengan Pangeran Diponegoro.


Masa kecilnya, beliau diasuh oleh kedua orang tuanya hingga sang ayah wafat. Ayahnya merupakan seorang terkemuka di daerah itu. Ia menjabat sebagai penghulu di Kendal. Ketika ayahnya wafat, Rifa'i kecil masih usia enam tahun. Data menyebutkan, setelah kewafatan sang ayah, Rifa'i diasuh oleh pamannya yaitu KH. Asy'ari dan istrinya Nyai Rajiah binti Muhammad Marhum yang tak lain kakaknya sendiri. KH. Asy'ari merupakan seorang ulama ternama dan pengasuh pesantren di daerah Kaliwungu. Bersama pamannya inilah Rifa'i dikenalkan dengan berbagai macam ilmu-ilmu agama.


Melalui bekal ilmu dari pamanya itulah beliau sejak muda sudah pandai dalam berdakwah. Beliau pertamakali berdakwah di daerahnya sendiri, Kendal. Akan tetapi ketika menginjak usia 30-an, beliau 'meninggalkan' dakwahnya. Karena pada saat itu, tepatnya tahun 1833 beliau pergi ke tanah Haram untuk melaksanakan ritual ibdah haji. Tidak hanya itu, selepas haji, beliau tidak langsung kembali ke tanah air. Terlebih dahulu beliau menimba ilmu-ilmu agama disana.


Di Makkah, beliau belajar pada seorang guru yang bernama Isa al-Barawi dan seorang ulama dari Mesir, Ibrahim al-Bajuri. Ada kesanksian mengenai bergurunya KH. Ahmad Rifa'i pada Ibrahim al-Bajuri. Karena perjalanannya ke Mesir masih diragukan. Akan tetapi, jika bergurunya berada di Makkah, masih ada kemungkinan keduanya bertemu. KH. Ahmad Rifa'i belajar disana swlama delapan tahun. 


Pada saat yang sama, Makkah yang saat itu menjadi pusat jaringan para ulama (utamanya ulama Nusantara), KH. Ahmad Rifa'i bertemu dengan beberapa ulama asal Nusantara yang semasa dengannya, seperti Syeh Khalil Bangkalan dan Syeh Nawawi al-Bantani. Mereka bertiga dikenal bersahabat dekat. Bahkan ketiga tokoh ini sering berdiskusi untuk berdakwah sekembalinya dari tanah Haram. Ketiga orang ini bersepakat untuk berdakwah pada bidangnya masing-masing. Syeh Khalil dibidang tasawuf, Syekh Nawawi bidang ushuluddin, dan KH. Ahmad Rifa'i bidang fiqih.


Setelah banyak menimba ilmu di Haramain, KH. Ahmad  Rifa'i pulang ke tanah air, akan tetapi tidak di desa dimana ia dilahirkan. Beliau menetap di sebuah desa terpencil bernama Kalisasak. Disini, beliau memulai dakwahnya kembali. Pada saat itu, beliau melihat keadaan masyarakatnya mengalami penindasan oleh para penjajah serta masih merajalelanya kebodohan. Beliau merasa iba, karena penjajahan yang dilakukan Belanda saat itu telah mengakar kuat karena  didukung oleh pembesar-pembesar pribumi yang menjadi koloninya.


Melihat realita ini, KH. Ahmad Rifa'i merasa terpanggil untuk mendirikan pondok pesantren sebagai pusat pengajaran ilmu agama Islam dan dakwahnya. Beliau tidak hanya berdakwah di sekitar pondoknya, tetapi juga ke berbagai daerah lainnya seperti Wonobo, Kendal, dan Pekalongan. Dari sinilah kemudian pesantrennya dikenal oleh banyak orang dan berbondong-bondong untuk nyantri pada beliau.


Di pondoknya, KH. Ahmad Rifa'i tidak hanya mengajarkan dasar-dasar keislaman, tetapi beliau juga memprotes kaum penjajah. Beliau mengajarkan para santrinya untuk tidak patuh pada mereka dan sebaliknya untuk  melawan mereka.  Menurutnya perlawanan terhadap kolonial merupakan bentuk dari perang sabil yang mendapat legitimasi dari agama.


Akan tetapi, KH. Ahmad Rifai dalam melakukan perlawanannya tidak dengan perang fisik. Beliau lebih menekankan dengan cara dakwah dan literasi yang diwujudkan dalam berbagai kitab karya tulisnya. KH. Ahmad Rifai tergolong pada kiai yang prolifik. Beliau banyaj menghasilkan karya tulis dalam berbagai bidang. Tulisannya berwujud kitab-kitab, syiir, maupun nadzaman.


Tercatat ada puluhan karya tulis yang berhasil ia torehkan dan sebagian besar disita dan dibawa ke Belanda. Karena sebagian besar dari karya tersebut berisi tentang protes dan dianggap terlalu kritis pada pihak kolonial. Namun, pada satu pihak, karya-karya tersebut merupakan 'kompor' sebagai pengobor semangat perjuangan bangsa Indonesia dalam melawan kolonial.

Diantara karya-karya tersebut, menurut Syadzirin, terdapat 33 karya tulis KH, Ahmad Rifai yang tersimpan di perpustakaan Universitas Leiden, kitab-kitab tersebut ialah: 


1. No. 1139 Riayatal Himmah, tahun 1849 M

2. No 6944, Riayatul Himmah, tahun 1849 M

3. No. 5866, Riayatal Himmah, tahun 1849 M

4. No. 11002, Riayatal Himmah, tahun 1849 M

5. No. 11003, Riayatal Himmah, tahun 1849 M

6. No. 8566, Riayatal Himmah, tahun 1849 M

7. No. 6617, Nadzam Kaifiyah, tahun 1845 M

8. No. 7520, Tanbih Bahasa Jawa

9. No. 11004, Tanbib Bahasa Jawa

10. No. 7521, Husnul Mithalab, tahun 1842 M

11. No. 8570, Husnul Mithalab, tahun 1842 M

12. No. 8590, Husnul Mithalab, tahun 1842 M

13. No. 7522, Takhyirah Mukhtasar, tahun 1848 M

14. No. 11004, Takhyirah Mukhtasar 1848 M

15. No. 11004, Takhyirah Mukhtasar, tahun 1848 M

16. No. 7523, Abyanal Hawaij, tahun 1849 M

17. No. 7524, Nadzam Irfaq, tahun 1845 M

18. No. 8489, Munawirul Himmah, tahun 1856 M

19. No. 5865, Athlab, tahun 1842 M

20. No. 8566, Nadzam Tazkiyah, tahun 1852 M

21. No. 8567, Tasyrihatal Muhtaj, tahun 1849 M

22. No. 8568, Syarihul Iman, tahun 1839 M

23. No. 8569, Tasfiyah, tahun1849 M

24. No. 11001, Bayan, tahun1839 M

25. No. 11001, Imdad, tahun 1845 M

26. No. 11004, Thariqat, tahun 1840 M

27. No. 8571, Tahshinah (memperbagus bacaan), tahun 1850 M

28. No. 11004, Tanbihun Bahasa Melayu, tahun 1860 M

29. No. 11001, Prose Epistle (?), tahun 1938 M

30. No. 11004, Lembar, 300 hal

31. Tanpa nomer, Shihhatun Nikah

32. Tanpa Nomer, Tajwid (ringkasan Tahsinah)

33. Tanpa Nomer, Nadzam Wiqayah.


KH. Ahmad Rifai merupakan sosok yang patut dijadikan sebagai teladan dalam literasi. Produktivitas menulisnya tidak hanya dilakukan saat beliau berada di masa yang senggang, tetapi juga dalam masa sulit pula. Hal ini, terbukti bahwa dalam sejarahnya beliau pernah di penjara oleh  Belanda dan diasingkan ke Manado. Namun hal itu tidak menyurutkan perlawanannya terhadap kaum penjajah. Tentu saja perlawanan beliau menggunakan narasi dakwah dan literasi. Hal ini juga sebagaimana beberapa karya tulis yang disebutkan di atas. Karena semangatnya tersebut, Belanda meras 'kewalahan' dan terpaksa memindahkan beliau ke tempat yang terpencil, tepatnya di desa Kalisasak, Kecamatan Limpung, kabupaten Batang pada tahun 1838.


Akan tetapi, tetap saja, semangat literasi KH. Ahmad Rifai tidak pernah padam. Justru ditempat ini beliau mendirikan sebuah pondok Quran. Di tempat inilah kemudian berdatangan para santri dari berbagai penjuru pulau Jawa. Terhadap para santrinya, KH. Ahmad Rifai selalu menanamkan spirit anti kolonial. Beliau membuat syair Nadzam Wikayah yang isinya penentangan terhadap semua penjajah dan yang bersekutu dengannya. Orang yang terlibat didalamnya, dianggap sebagai orang yang  kafir dan halal diperangi. Karena pandangan inilah, beliau dianggap "setan Kalisasak" oleh kolonial dan mengajarkan hal sesat oleh para ulama yang pro terhadap Belanda. Perjuangannya berakhir, saat ia menutup usia pada tahun 1870 tepat diusia 84 tahun di tempat pengasingannya Kamoun Jawa Tondano, Manado. Jasadnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kyai Mojo. Oleh karena perjuangan dan kegigihan beliau di atas, melalui Kepres Nomor: 089/TK/2004 beliau dinobatkan sebagai pahlawan nasional oleh presiden Susilo Bambang Yudhoyono.


Pelajaran berharga dapat kita ambil dari sosok KH. Ahmad Rifai di atas. Meskipun mendapat cercaan, celaan dan hukuman dari mereka,  semangat KH. Ahmad Rifai tetap membara. Dakwah dan perjuangan terus beliau kobarkan dengan tetap menuliskan narasi-narasi spirit anti-kolonial. Setidaknya ada 55 kitab yang beliau hasilkan. Perjuangan beliau dalam menulis tidaklah mudah. Akan tetapi berkat spiritnya yang tidak pernah memudar, menjadikan beliau sebagai kiai yang patut diteladani, meskipun beliau telah tiada, namanya hingga kini tetap dikenang.


Kediri, 25 Juni 2021

Komentar