Oleh: Thoriqul Aziz
Surga merupakan tempat idaman terakhir bagi mayoritas setiap muslim. Banyak orang dari mereka yang rela menghabiskan waktunya untuk beribadah yang endingnya hanya untuk memperoleh surga. Yang kemudian tujuan akhirnya bertemu dengan Sang Pencipta.
Namun ternyata surga tidak hanya ‘dicari’, tetapi ia juga ‘mencari’ orang-orang yang akan dimasukan kedalamnya. Bahkan surga sangat merindukan orang-orang tersebut. Apakah kamu termasuk yang dirindukan? Simak penjelasan berikut ini
Sebagaimana yang diterangkan dalam kitab Raunaqul Majalis, empat orang yang dirindu surga: “Surga sangat rindu terhadap empat golongan, yaitu orang yang membaca Al-Quran, orang yang memelihara lisan, orang yang memberi makan terhadap orang-orang yang lapar serta orang-orang yang berpuasa di bulan Ramadhan.”
Pertama, orang yang baca Alquran. Alquran merupakan kitab petunjuk bagi umat manusia. Baik lafadz maupun maknanya (lafdzan wa maknan) diyakini benar berasal dari Allah swt. Alquran memiliki banyak keistimewaan dan keutamaan, salah satunya ialah Allah akan memberi pahala bagi siapa saja yang membacanya.
Tentunya membaca disini tidak hanya sekedar mebaca. Tetapi harus disertai dengan ilmu, yaitu ilmu tajwid. Oleh karenanya membaca Alquran harus sesuai dengan ilmu yang telah ditentukan tersebut, membaca dengan tartil misalnya.
Sebagaimana Nabi saw bersabda, “Bacalah (Alquran), naiklah (pada derajat-derajat surga) dan bacalah dengan tartil sebagaimana engkau membacanya dengan tartil di dunia. Sesungguhnya kedudukan derajatmu pada kadar akhir ayat yang engkau baca.” (HR. Ahmad).
Tidak hanya itu, dalam proses membaca harus disertai penghayatan dan perenungan makna-makna atau pesan-pesan yang terkandung didalamnya. Sehingga dapat menjalankan apa yang ada dalam kitab tersebut.
Kedua, orang yang menjaga lisan (khifdz lisan). Kelompok kedua ini merupakan orang-orang yang terpilih. Hanya mereka yang mempunyai tekad dan usaha yang kuat untuk menjalaninya. Pasalnya menjaga lisan itu sangat berat.
Kata orang lidah tak bertulang. Memang benar, karena dengan begitu setiap orang mampu mengolah kata dengan sesuka hatinya. Dari sinilah kata-kata seseorang dengan mudahnya keluar. Karena kemudahan inilah yang kemudian menyebabkan banyak orang terjerumus yang tidak sengaja berucap atau berkata kotor, menghina atau mencaci orang lain yang menyebabkan tersakiti hatinya.
Oleh karena itu, orang yang dapat menjaga lisan memiliki keistimewaan. Nabi saw pernah bersabda, “Wahai Rasulullah, ada seorang wanita yang hanya melaksanakan shalat wajib saja dan hanya bersedekah dengan sepotong keju namun dia tidak pernah menyakiti tetangganya.” Nabi SAW menjawab, “Dia termasuk penghuni surga.” (HR. Bukhari).
Tidak hanya orang awam yang memiliki kewajiban menjaga lisan, tetapi untuk semua orang. Karena tidak jarang pula orang-orang yang berilmu dan terpandang terpleset lisannya. Sehingga menjadi 'bomerang' bagi dirinya sendiri. Oleh karenanya, menjaga lisan diwajibkan bagi siapa saja, dari rakyat sampai birokrat, orang mlarat sampai konglomerat, dari insinyur sampai penjual kasur dan lain sebagainya.
Ketiga, memberi makan orang yang lapar. Setiap orang memiliki garis hidup yang beda-beda. Ada di antara mereka yang memiliki harta melimpah ruah, sehingga kalau hanya untuk makan saja turah-turah (tercukupi). Sementara yang lain tidak demikian, dompet seret, sehingga untuk makan saja ngempet-ngempet (menahan, karena gak punya duit untuk beli makanan)
Diantara keduanya, kelompok kedua wajib diperhatikan oleh kelompok pertama. Karena mereka termasuk kelompok dhu'afa yang harus disantuni.
Bukankah ada hadis Nabi saw :"Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah". Maksudnya, tangan di atas bukanlah tangan yang diangkat dan melambai-lambai. Akan tetapi ialah mereka yang suka 'memberi', kepada tangan yang di bawah yaitu 'peminta-minta'.
Oleh karena itulah, sikap dermawan merupakan anjuran dalam agama Islam. Setiap umat Islam diwajibkan untuk memiliki jiwa filantropi. Dengan demikian, akan timbul kepekaan sosial pada yang lain. Untuk memiliki jiwa tersebut tidak harus menunggu kaya, siapapun harus dapat mengaplikasikannya.
Terkhusus pemberi yang menempatkannya dengan tepat sasaran, seperti memberi makan orang yang lapar. Dalam hal ini, mereka yang lapar beneran tidak memiliki makanan atau memang tidak sanggup membelinya. Mereka-mereka yang membantu saudaranya yang demikian Allah akan memberikan jaminan surga. Bahkan orang-orang yang seperti dicari karena surga sudah merindukanya.
Keempat, orang yang puasa di bulan Rhamadhan. Ramadhan adalah bulan yang banyak memiliki keutamaan dan keistimewaan. Dalam bulan ini ada 'lailatul qadar' merupakan malam yang lebih baik dari seribu bulan, selain itu keistimewaan lainnya ialah akan dilipatgandakan setiap yang beribadah di dalamnya.
Yang juga menjadi ciri khas di bulan ini ialah diwajibkannya puasa selama satu bulan penuh. Hanya mereka-mereka yang memiliki udzur syar'i yang dibolehkan tidak menjalankannya.
Perintah puasa tersebut terekam dalam Qs. Al-Baqarah/2: 183 “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa”.
Mereka-mereka yang mau puasa di bulan ini, Allah sudah memberikan jaminan surga. Karena memang mereka-merekalah yang berpuasa dicari oleh surga. Surga sudah rindu kepada mereka dan ingin segera menempatkan mereka ditempat yang mulia.
Kediri, 7 Mei 2021
Komentar
Posting Komentar