Lebararan Ala Tradisonalis Vs Modernis


Oleh: Thoriqul Aziz


Coretan ini tidak membicarakan kedua kelompok tersebut yang dikenal di Indonesia. Atau dalam kata lain, kelompok tradisional dengan reformis, kelompok tua atau muda, atau yang selainnya. Melainkan berbicara tentang tradisi lebaran di era tradisional dan modern. Kedua hal itu saya bedakan, karena memang tradisi lebaran di kedua era tersebut tampak berbeda.


Momen lebaran merupakan momen yang dinanti-nantikan oleh setiap muslim. Momen tersebut dijadikan sebagai suatu ajang silaturrahmi ke berbagai sanak famili, saudara, tetangga, maupun teman kerja. Yang berada diperantauan pulang kampung dengan tujuan kumpul keluarga atau yang lainnya. Entah kapan tradisi ini dimulai dan menjadi tradisi di bumi Indonesia. Yang penting itu tradisi baik yang harus kita rawat.


Momen ini begitu dinanti-nanti, karena terlaksana hanya sekali dalam satu tahun. Selain itu, untuk mencapai momen ini sebelumnya telah menempuh perjuangan yang tidak ringan, puasa Ramadhan full satu bulan. 


Momen lebaran biasa dilakukan dengan berkunjung door to door, dari pintu satu ke pintu lain. Saling berjabat tangan dan bermaaf-maafan. Anak-anak sungkem dengan orang tuanya, sungkem dengan para kiai, guru dan yang selainnya. Dan biasanya pada momen ini semua orang sudah menyiapkan menu sajian dari makanan ringan seperti peyek, opak gambir, kacang klici, kacang atom, krupuk kali dsb..bahkan sampai makanan yang berat seperti nasi yang disajikan dengan menu-menu khas lainnya.


Jujur saya begitu menikmati lebaran seperti ini. Dahulu dalam satu hari saja, saya bersama pemuda desa dapat kemput berkunjung door to door satu desa. Dari sabang sampai merauke. eh, maksudnya dari rumah paling ujung barat sampai ujung timur menthok. Ya maklum satu desa sekitar ada 200 an kk. Meski demikian lebaran masih berjalan lama, yang disambung ke rumah-rumah saudara yang agak jauh sampai tujuh hari. Meski lama terkadang saking banyaknya saudara, ada saja yang belum sempat dikunjungi.


Tapi itu dulu, zaman masih tradisional, hp masih sedikit yang punya. Itupun cuma hp 'ungkal' (istilah hp nokia yang hanya dibuat sms dan telpon, belum bisa digunakan internetan).


Sekarang zaman sudah modern, hp sudah banyak yang punya. Bagus-bagus pula. Sudah dapat dibuat internetan. Kalo sudah seperti ini lebarannya mulai beda. Lebaran tradisional mulai tergerus dengan adanya arus modernisasi. Lebaran yang dulu versi modern jauh berbeda. Tradisi sungkem atau berkunjung sudah mulai punah. Silaturrahmi terganti dengan ucapan singkat melalui wa atau dengan hanya dengan 'perang' gambar yang di share melalui grup atau japri.


Lebaran pun juga semakin singkat. Tidak sampai tujuh hari lamanya. Karena hanya dengan bertebar sapa secara virtual, satu hari pun cukup. Dari saudara yang dekat sampai yang jauh sudah terlampaui. Ala kulli hal, saat ini saya hanya berharap tradisi lebaran ala tradisional dapat bersanding dan berkolaborasi serta dapat menempatkan lebaran ala modernis pada porsinya.


Kediri, 21 Mei 2021

Komentar