Tafsir dalam Komunitas Pesantren: 1) Tafsir al-Ibriz



Oleh: Thoriqul Aziz


Nama lengkap tafsir al-Ibriz ialah al-Ibriz li Ma'rifati Tafsir al-Quran al-Aziz merupakan karangan kiai pesantren asal Rembang Jawa Tengah, KH. Bisri Musthofa. Beliau merupakan pendiri pesantren Raudhatut Thalibin yang saat ini diasuh oleh putranya, KH. Musthofa Bisri (Gus Mus).


KH. Bisri Musthofa menulis tafsir al-Ibriz sekitar tahun 60-an. Tidak ada data akurat yang menunjukkan awal mula penulisan tafsir tersebut. Hal ini dikarenakan, dalam cetakan tafsirnya, KH. Bisri Musthofa tidak menuliskan awal dan akhir penulisan tafsir tersebut. Sehingga banyak spekulasi yang muncul ke permukaan terkait penulisan tafsir tersebut. Data yang ada, dalam cetakan pertama, tafsir tersebut terbit pada tahun 1969.


Sebelum diedarkan ke khalayak luas, tafsir al-Ibriz disodorkan kepada beberapa ulama untuk dicek dan ditashih, antara lain: KH. Arwani Amin, KH. Abu Amr, KH. Hisyam, dan KH,. Sa'roni Ahmadi yang semuanya berasal dari Kudus.


Kitab tafsir ini memiliki ciri yang khas ala pesantren. Hal itu tampak pada gambaran dan karakteristik tafsir tersebut, antara lain: pertama, beraksara pegon. Sudah diketahui secara umum, bahwasanya  dalam tradisi pesantren yang dijadikan sebagai metode pengantar kitab-kitab pelajarannya ialah beraksara pegon. 


Aksara pegon ialah tulisan Arab, akan tetapi yang digunakan bahasa lokal. Dalam konteks ini, tafsir al-Ibriz menggunakan bahasa Jawa. Hal ini dikarenakan, selain menjadi bahasa penulisnya juga karena bahasa keseharian yang digunakan audien tafsir tersebut (suku Jawa).


Kedua, makna gandhul. Kata ini mungkin terasa asing di telinga komunitas luar pesantren. Karena bahasa ini juga khas dengan tradisi di kalangan pesantren. Yang dimaksud dengan makna gandhul ialah proses penerjemahan teks-teks yang biasa dipelajari di pesantren (mayoritas bahasa Arab) ke dalam bahasa lokal (baca: Jawa). 


Kata 'gandhul' sendiri juga berasal dari bahasa Jawa, yang berarti 'menggantung'.  Jadi, makna gandhul ialah makna yang menggantung. Karena posisi terjemah tersebut berada di bawah redaksi atau teks yang sedang diterjemahkan yang ditulis miring ke kanan. Biasanya, terjemahan tersebut berbentuk kata perkata.


Dalam al-Ibriz, KH. Bisri Musthofa menerapkan dua karakter tersebut. Hal ini memang karena ia ahli dibidang tersebut yang dijadikan sebagau bahan pelajaran para santri  serta dengan tujuan  melestarikan tradisi pesantren.


#Kediri, 2 April 2021

Komentar