Oleh: Thoriqul Aziz
KH. Abduraahman Wahid yang biasa disapa dengan Gus Dur adalah cendekiawan muslim asli Indonesia. Ia merupakan kiai kelahiran Jombang, Jawa Timur. Nasab Gus Dur ke atas adalah orang-orang 'beken' pada masanya. Kakeknya yang bernama KH. Hasyim Asy'ari merupakan pendiri ormas Nahdlatul Ulama (NU) yang kini menjadi ormas dengan pengikut terbesar di dunia. Tentu saja ayah dan ibunya bukan sembarangan orang, mereka adalah kiai dan bu nyai pesantren Tebuireng. Sang ayah, KH. Wahid Hasyim pernah menjabat sebagai menteri agama semasa hidupnya.
Terlahir dari keluarga yang lekat dengan dunia pesantren, Gus Dur pun dididik dengan sistem tersebut. Sejak kecilnya, Gus Dur telah akrab dengan berbagai macam kajian kepesantrenan. Ditambah lagi dengan semangat keilmuan sang ayah yang turut serta membangun pengetahuan Gus Dur. Tak ayal, perpustakaan pribadi sang ayah menjadi 'rumah kedua' Gus Dur. Berawal dari lingkungan ini, kemudian Gus Dur keluar untuk ke berbagai daerah di Indonesia bahkan sampai ke negeri Piramid dan negeri 'Seribu Satu Malam'.
Keilmuan Gus Dur sudah tidak diragukan lagi. Pemikiran dan perjuangannya sudah diakui masyarakat dunia. Berbagai pemikirannya banyak terekam dalam karya tulis ilmiah berupa artikel dan buku. Satu dari pemikirannya dalam bentuk syiiran. Karya ini tidak asing dalam komunitas pesantren, pasalnya syiir merupakan salah satu metode yang dijadikan pembelajaran di dunia santri. Syiir yang ditulis Gus Dur berjudul "Syiir Tanpo Wathon". Dalam syiir tersebut terdapat beberapa bait syair yang digubah menggunakan bhasa Jawa.
Berkaitan dengan hal ini, dalam syiir tersebut tampak Gus Dur memberijan pesan-pesan terhadap komunitas muslim yagg ada disekitarnya. Yang pertama, Gus Dur menyapa audien dengan 'bolo konco, prio wanito' (rekan-rekan pria dan wanita) yang menampilkan keakraban dengan audiens.
Selanjutnya Gus Dur memberi pesan untuk intropeksi diri. Pertama, pahami ilmu agama secara mendalam. Pesan ini disampaikan dengan syiir:
"Duh bolo konco, prio wanito ojo mung ngaji syariat bloko # gur pinter ndongen nulis lan moco, tembe mburine bakal sangsoro 2x"
wahai para rekan, pria wanita janganlah kalian hanya mempelajari ilmu syariat saja # yang hanya bisa dongeng, menulism dan membaca yang pada akhirnya akan menjadi sengsara 2x
Dalam bait ini, Gus Dur memberi pesan kepada mitra muslim bahwa dalam memahami agama harusla secara mendalam, tidak hanya dalam tataran syariat semata. Karena dalam ajaran agama masih ada strata yang lebih tinggi, seperti tentang ilmu tasawuf atau ilmu hakikat. Dengan pemahaman yang mendalam akan mengantarkan mitra muslim tidak pada kesengsaraan.
Karena jika hanya dalam ranah syariat, menurut Gus Dur mereka hanya dapat memahami dari cangkang semata, mengerti agama hanya dengan hitam putih, tidak didasarkan pada pemahaman yang mendalam. Gambaran ini disampaikan Gus Dur dalam bunyi bait di atas, dimana mereka hanya dapat mendongen, menulis, dan membaca. Namun tidak dapat menangkap pesan-pesan yang tersirat didalamnya.
Sebenarnya apa yang digambarkan oleh Gus Dur dalam syiir tersebut ialah fenomena radikalisme yang terjadi pada masanya yang bahkan masih terjadi hingga saat ini. Akan tetapi pesan Gus Dur ini masih relevan untuk komunitas muslim saat ini. Berbicara tentang radikalisme era ini memang tidak ada habisnya, karena memang pemahaman tersebut sudah menjadi sebuah ideologi sebagian mitra muslim sendiri.
Pada bait selanjutnya, gambaran radikalisme begitu nyata dalam syiir yang digubah Gus Dur.
Akeh kang apal, quran hadise sereng ngafirke marang liane # kafire dewe gak digatekne yen iseh kotor ati akale 2x
Banyak yang hafal quran dan hadis sering mengkafirkan yang lain # kafirnya sendiri tidak diperhatikan karena masih kotor hatinya 2x
Fenomena takfiri di Indonesia, baik masa Gus Dur hidup maupun sampai saat ini masih saja terjadi. Sebagian muslim sendiri mengkafirkan muslim yang lain hanya karena berbeda pandangan keagamaan. Terlebih pada umat yang lain, sudah pasti mereka akan menganggap sebagai orang yang kafir murokab.
Menanggapi fenomena demikian, Gus Dur memberikan wejangan bahwa sebagaimana yang tersirat dalam syiir bait di atas, agar tidak terjadi tindak radikalisme ialah dengan memahami Alquran dan hadis secara mendalam, tidak hanya memegang teks tertulis semata. Karena masih banyak makna yang dikandung dalam kedua sumber hukum tersebut. Dalam memahami Alquran dan hadis harus menggunakan ilmu maupun pendekatana, agar mencapai makna yang sesungguhnya.
Mengerti konteks merupakan salah satu cara untuk memahami Alquran dan hadis. Karena keduanya hadir tidak dalam ruang yang hampa. Keduanya pertama kali hadir bersinggunan secara langsung dengan masyarakat Arab saat itu. Artinya, teks tersebut telah 'mati', sehingga perlu 'dihidupkan' kembali dengan cara mengambil makna yang tersirat di dalamnya sesuai dengan semangat zaman. Dengan pendekatan ini, teks akan terasa hidup dalam ruang kehidupan kita.
Tidak hanya demikian, Gu Dur juga memberikan suplemen agar terhindar dari tindak radikalisme yaitu dengan pendekatan ilmu tasawuf gang didalamnya ada ilmu makrifat dan hakikat. Dimana ilmu ini, dalam konteks Jawa biasa disebut dengan 'ilmu kaweruhan' yang mengerti hakikatnya hidup dan bagaimana hidup. Dengan kedua pendwkatan ini, Gus Dur 'menjamin' akan hilangnya tindakan radikalisme.
Kediri, 16 April 2021
Komentar
Posting Komentar