_Megengan: Tradisi Menyambut Bulan Suci

 


Oleh: Thoriqul Aziz


Semua umat muslim tau bahwa yang dimaksud dengan bulan suci ialah bulan Ramadhan. Karena bulan ini merupakan bulan yang sangat dimuliakan oleh Allah swt. Bulan ini dimuliakan katena ada berbagai hal dan keutamaan dalamnya, antara lain:  

pertama, terdapat nuzulul quran. Dalam bulan ini Allah untuk pertamakalinya menurunkan Alquran kepada Nabi Muhammad saw. Peristiwa ini terekam dalam Qs. Al-Baqarah/2: 185.


Kedua, tempat turunnya malam lailatul qadar. Malam lailatul qadar merupakan malam yang lebih baik daripada seribu bulan. Keistimewaan malam ini diabadikan dalam Qs. al-Qadr/97: 1-5.

Keistimewaan malam ini ialah sesiapapun yang memiliki hajat dan berdoa tepat malam tersebut pasti akan dikabulkan. Sayangnya, Allah tidak malam tersebut masih menjadi misteri. Tidak ada yang mengetahui kecuali Allah swt.


Ketiga, diwajibkan berpuasa. Sebagaimana yang difirmankan dalam Qs. al-Baqarah/2: 183. Semua umat Islam pada bulan Ramadhan diwajibkan untuk berpuasa selama satu bulan penuh, boleh tidak berpuasa bagi mereka yang memiliki udzur syar'i.


Itulah beberapa keutamaan bulan Ramadhan, dan tentunya maaih banyak keutamaan-keutamaan lain yang tidak dapat penulis sebutkan disini. Melihat hal demikian, bulan Ramadhan menjadi bulan yang special dan penuh makna. Oleh karena itu ada berbagai macam cara untuk menyambutnya.


Dalam komunitas muslim di Jawa terdapat tradisi yang khas dalam menyambut bulan suci, yaitu megengan. Masyarakat muslim Jawa melaksanakan megengan sekitar seminggu sebelum tanggal satu Ramadhan. Namun juga biasa dilakukan tiga atau dua hari sebelumnya. Tergantung kebiasaan masing-masing.


Umumnya megengan dilakukan di setiap rumah masing-masing secara bergantian. Dalam acara tersebut tuan rumah mengundang sanak famili dan tetangga lingkungan sekitar yang biasa dilakukan setelah shalat Ashar.


Namun dalam perkembangannya, megengan tidak dilakukan secara mandiri, maksudnya bergantian dari rumah satu ke rumah yang lain. Sekarang, kegiatan tersebut dilakukan di masjid setiap dusun. Dengan cara ini, kegiatan tersebut terasa lebih ekonomis dan simpel.


Acara megengan sebenarnya tidak jauh berbeda dengan yang sudah dikenal komunitas Jawa yang disebut dengan Slametan. Acara megengan berisi bacaan tahlil dengan niatan ngirim leluhur sanak famili yang telah meninggal dunia. Hanya saja yang membedakan waktu pelaksanaannya, slametan bisa sewaktu-waktu, sementara megengan dilaksanakan sebelum puasa Ramadhan.


Mungkin sebagian orang akan bertanya bagaimana hujjah atau dalil acara tersebut. Secara tekstual, penulis tidak menemukan dalil akan kebolehan tradisi tersebut. Akan tetapi, yang pasti niatan pelaksanaan megengan sudah baik. Tujuannya untuk menyambut bulan suci Ramadhan dengan penuh kegembiraan dan mendoakan sanak famili yang telah meninggal yang kemudian diakhiri dengan sedekah berupa makanan 'siap saji' atau biasa disebut berkat.


Tulungagung, 10 April 2021

Komentar