Strategi Dakwah Kultural KH. Bisri Musthofa

 


Thoriqul Aziz


KH. Bisri Musthofa ialah ayah dari KH. Musthofa Bisri atau yang biasa disapa Gus Mus. KH. Bisri Musthofa merupkan seorang pemikir Islam, seniman, budayawan, politikus, dan pengasuh pondok pesantren Raudhatut Tholibin, Rembang, Jawa Tengah. Beliau termasuk kiai yang multitalenta. Beliau seorang penceramah yang tentunya pandai dalam mengolah kata. Tak ayal, masyarakat saat itu memberi julukan "singa podium" pada dirinya.


Kepiawaian mengolah kata, diimbangi dengan kepiawaiannya dalam mengolah tulisan. Beliau termasuk kiai yang prolifik yang menghasilkan banyak karya tulis. Ada banyak bidang yang ditulis, mulai dari fiqih, akhlaq, hingga tafsir Alquran. Karya-karya tersebut ada yang berbentuk narasi dan nadhom atau syiir. Semua karya tersebut mayoritas berbahasa Jawa ngoko.


Dari realita di atas, menarik untuk dibahas akan keberhasilan KH. Bisri Musthofa sebagai pendakwah. Keberhasilan itu dapat dilihat dari ketertarikan para santri ketika ia hidup dan pengaruh beberapa karyanya yang masih diminati dan dipelajari oleh masyarakat era kekinian. Seperti tafsir al-Ibriz, yang masih dipelajari di berbagai pesantren di Jawa dan beberapa perguruan tinggi di Indonesia.


Dilihat dari berbagai karya yang dituliskan, dengan bahasa Jawa, tampak KH. Bisri Musthofa menggunakan strategi dakwah kultural. Hal itu dapat diketahui dengan bagaimana KH. Bisri Misthofa yang membidik sasarannya dengan tepat. Karena yang dihadapi masyarakat Jawa, maka KH. Bisri Musthofa memilih bahasa Jawa sebagai penjelasan berbagai karyanya. Strategi ini terbilang ampuh, karena penjelasan uanh diutarakan dapat dipahami oleh masyarakat Jawa sebagai audiensnya.


Contoh lain misalnya, strategi kultural tersebut terlihat dari dalam penafsiran akhir surat al-Baqarah. Dalam tafsir tersebut KH. Bisri Musthofa menuturkan bahwa jika ayat tersebut dibaca di dalam rumah, niscaya setan tidak berani maauk ke dalam rumah tersebut. Penjelasan ini diberikan KH. Bisri Musthofa bukan tanpa alasan. Hal ini diutarakan karena KH. Bisri Musthofa tahu akan budaya Jawa yang pada saat itu mayoritas masyarakatnya meyakini akan hal ghaib. Bahkan sampai sekarangpun keyakinan tersebut masih ada. Dengan strategi demikian,  dapat mempengaruhi masyarakat baik pada saat itu maupun sekarang.


#Kediri, 5 Februari 2021

Komentar