Oleh: Thoriqul Aziz
Pada hari Sabtu, 07 Februari 2021 Sahabat Pena Kita melaksanakan acara Kopdar secara daring sekaligus launching lima buku antologi karya Sahabat Pena Kita Pusat dan satu buku antologi Sahabat Pena Kita cabang Tulungagung. Acara ini dimulai pukul 08.00 WIB sampai pukul 12.00 WIB. Acara ini diselenggarakan dengan bekerjasama kampus STAI al-Hikam, Malang.
Pada Kopdar kali ini mengusung tema "Proses Menulis Kreatif dan Produktif" dengan pemateri utama Ulil Abshar Abdalla, MA (Gus Ulil) seorang cendekiawan muslim yang produktif menulis dan pemateri kedua Nurul Chomaria, S. Psi seorang penulis produktif yang sudah menerbitkan 72 judul buku.
Kajian yang disajikan kedua pemateri hebat ini sangat menarik untuk disimak. Kedua-duanya sangat produktif dalam menghasilkan karya tulis. Pemateri pertama, namanya begitu populer dikalangan sarjana muslim Indonesia. Pemikiran-pemikirannya banyak digandrungi sarjana muda Indonesia. Pemateri kedua juga tidak kalah populer. Karya tulis yang sudah mencapai 72 judul, tentunya namanya juga sudah familiar di dunia literasi.
Dari kedua pemateri ini, penulis hendak sedikit menceritakan sajian yang dikemukakan oleh pemateri pertama, Gus Ulil. Diawal paparannya, ia langsung melakukan 'gebrakan' dengan mengatakan bahwa tradisi literasi saat ini berbeda dengan tradisi ulama salaf. Menurutnya, ada tradisi yang 'hilang' pada penulis-penulis era milenial.
Ini menjadi penting untuk diperhatikan, pasalnya produktifitas ulama-ulama dahulu tidak terlepas dari pemikiran yang kritis terhadap karya-karya yang muncul. Alhasil, setiap muncul satu karya akan muncul karya lain yang menanggapi karya tersebut. Sebut saja misalnya, kitab karya al-Ghazali yaitu Tahafutul Falasifah mendapat sanggahan dari Ibnu Rusd dengan judul Tahafutut Tahafut.
Tradisi kritik literasi semacam itu sudah menjadi tradisi era ulama salaf. Dalam konteks Indonesia, tradisi tersebut juga pernah ada di akhir abad 19. Karya tulis tentang kritikan KH. Hasyim Asyari misalnya yang mengkritik ideologi Sarekat Islam (ormas pergerakan Islam saat itu) mendapat kritik dari gurunya sendiri melalui karya tulis juga. Alhasil, kritik literasi ini menjadi sebuah tradisi yang menunjukan kapasitas serta produktifitas ulama salaf.
#Kediri, 12 Februari 2021
Semoga setelah acara KOPDAR tambah semangat untuk berliterasinya. Amiin
BalasHapusaamiin..iy bu
BalasHapus