Oleh: Thoriqul Aziz
Saya yakin, sembilan puluh sembilan orang muslim di Indonesia pasti mengenal KH. Muhammad Hasyim Asy'ari. Iya, beliau merupakan salah satu sosok pendiri ormas Islam yang saat ini memiliki penganut terbesar di Indonesia, bahkan -jika tidak keberatan- di dunia. Ormas tersebut ialah Nahdlatul Ulama (NU) yang didirikan pada 1926. Beliau menjadi Rais akbar yang pertama ormas tersebut. Jabatan ini pantas disematkan terhadap beliau, karena sesuai dengan kapasitas keilmuannya yang diberi gelar hadratu al-syaikh. Orang yang dalam keilmuannya.
Beliau terlahir dari pasangan Kiai Asy'ari dan Nyai Halimah. Dilahirkan di sebuah daerah di kota Jombang, tepatnya sebelah utara sekitar dua kilo meter, di pesantren Gedangsewu pada hari Selasa 14 Februari 1871. Terlahir sebagai seorang anak kiai, Hasyim kecil mendapat pendidikan yang khas dari pesantren tradisional kala itu. Tidak hanya ayahnya, kakeknya (dari jalur ibu) yaitu Kiai Utsman, merupakan seorang pendiri pesantren Gedang yang pada akhir abad ke 19 pernah menjadi pusat perhatian para santri di Nusantara.
Pendidikan masa kecil KH. M. Hasyim Asy'ari diasuh langsung oleh sang ayah. Ia didik sebagaimana anak-anak pada masanya, belajar membaca Alquran dan ilmu-ilmu agama yang lain. Hingga pada akhirnya, di usia ke 15 Kiai Hasyim memulai perjalanan intelektualnya ke berbagai pesantren ternama saat itu. Diantara pesantren-pesantren yang pernah ia singgahi yaitu: pesantren Wonokoyo (Probolinggo), pesantren Langitan (Tuban), pesantren Darat, pesantren Tenggilis (Surabaya), Pesantren Kademangan (Bangkalan), yang saat itu diasuh oleh Kiai Kholil, pesantren Siwalan Panji (Sidoarjo) yang diasuh oleh Kiai Ya’kub. Dua nama terakhir disebut sebagai kiai yang banyak memberikan membentuk kapasitas intelektual Kiai Hasyim.
Adapun puncak transmisi intelektual Kiai Hasyim ialah pengembaraannya di kota Makkah. Disana, Kiai Hasyim berguru kepada para syeikh untuk mendalami ilmu agama. Di antara para gurunya terdapat juga yang berasal dari Indonesia yang saat itu menjadi guru besar disana yaitu Syeikh Ahmad Khatib Minangkabawi, Syekh Nawawi al-Bantani, dan Syekh Mahfud al-Tirmasi. Ketiga tokoh ini juga yang banyak membentuk pemikiran Kiai Hasyim. Dialektika antara beliau terekam jelas terkait dengan pemikiran keislaman, tasawuf khususnya.
Sebagai seorang ulama/kiai beliau mengasuh pondok pesantren di Jombang. Ada banyak santri yang telah dibesarkn atas namanya. Ia dikenal sebagai kiai yang ahli hadis. Gelar hadratus syaikh menjadi bukti akan kepakarannya dalam ilmu agama. Ia mengajar para santri dengan sebagaimana metode klasik ala pesantren yang biasa disebut dengan bandongan/sorogan.
Selain mengajar, beliau juga menjadi seorang aktivis. Pejajahan yang diderita pada masanya, mengharuskan ia memobilisasi santri dan masa untuk melakukan spirit perlawanan. KH. Hasyim Asy'ari membuktikan dengan adanya perintah 'resolusi jihad' kepada setiap muslim yang mengalami penjajahan untuk segera bangkit melawannnya. Atas resolusi yang dicetuskan tersebutlah kemudian menjadi pemantik semangat para santri dan warga. Berkat pemikiran tersebut akhirnya dapat memukul mundur para penjajah.
Selain sebagai kiai dan aktivis, KH. Hasyim Asy'ari merupakan seorang uang produktif menulis. Karya-karya yang dihasilkan KH. Hasyim Asy'ari mayoritas menggunakan bahasa Arab. Hal ini menandakan kepakarannya dalam bahasa tersebut. Di antara karya-karya antara lain:
al-Tibyan fi al-Nahy’an Muqatha’at al-Arham wa al-Aqarib wa al-Ikhwan, Muqaddimah al-Qanun al-Asasi li Jam’iyyat Nahdlatul Ulama, Risalah fi Ta’kid al-Akhdzi bi Mazhab al-A’immah al-Arba’ah, Arba’ina Haditsan Tata’allaqu bi Mabadi’ Jam’iyyat Nahdlatul Ulama, Adab al-‘Alim wa al-Muta’alim fi ma Yanhaju Ilaih al-Muta’allim fi Maqamati Ta’limihi, Rasalah Ahl aas-Sunnah wa al-Jamaah fi Hadts al-Mauta wa Syuruth as-Sa’ah wa Bayani Mafhum as-Sunnah wa al-Bid’ah, An-Nurul Mubin Fi Mahabbati Sayyidil Mursalin, Ziyadatut Ta’liqot, At-Tanbihatul Wajibat Li Man Yasna’ Al-Maulid Bil Munkaroti, Dhou’ul Misbah Fi Bayani Ahkamin Nikah. Selain menulis kitab, KH. Hasyim Asy'ari juga aktif menyuarakan pendapatnya yang dimuat di sejumlah media nasional pada waktu itu, seperti majalah Soeara Moeslimin Indonesia (majalah milik Masyumi), Berita NO, Soeloeh NO, Swara NO, dan sebagainya.
Menarik untuk sedikit diulas beberapa karya KH. Hasyim Asy'ari di atas. Pertama, al-Tibyan fi al-Nahy’an Muqatha’at al-Arham wa al-Aqarib wa al-Ikhwan. Kitab ini ditulis pada Senin, 20 Syawal 1260 H. Kitab ini ditulis untuk menekankan pentingnya menyambung silaturrahmi antar sesama. Melihat konteks penulisan kitab ini, yang masih dalam masa penjajahan, kehadiran kitab ini sangat penting. Karena dalam menghadapi kelompok penjajah, bangsa Indonesia harus bersatu padu, tidak boleh memecah persaudaraan.
Kedua, At-Tanbihatul Wajibat Li Man Yasna’ Al-Maulid Bil Munkaroti. Kitab ini berisi kritik sosial yang dilakukan KH. M. Hasyim Asy'ari terhadap perilaku masyarakat yang berkembang saat itu. Kitab ini ditulis berawal dari keprihatinan beliau terhadap warga Madiun kala itu ketika menggelar acara maulid Nabi saw yang kemudian digelar acara pertunjukan pencak, ajang bela diri. Disitulah banyak para pemuda-pemudi yang numplek blek menjadi satu bersorak sorai riuh gembira, sehingga tanpa merasa mereka masih dalam suasana peringatan maulid. Sehingga perilaku ini mendapat 'kecaman' dari KH. M. Hasyim Asy'ari.
Satu karya yang belum tersebut di atas, Kaff al-‘Awam ‘an al-Haudl fi Syarikah al-Islam. Tulisan ini berisi tentang perkumpulan Sarekat Islam (SI) yang saat itu menjadi suatu perkumpulan pergerakan Islam. Kitab ini selesaditulis pada malam kamis, 18 Ramadlan 1331/21 Agustus 1913. Dalam kitab ini, KH. Hasyim Asy'ari tampak mengkritisi ideologi yang ada dalam organisasi tersebut. Kehadiran kitab ini disanggah oleh Syaikh Ahmad Khatib Minangkabawi, yang tak lain adalah gurunya sendiri, Sanggahan tersebut dicetak ke dalam sebuah kitab yang berjudul Tanbih al-Anam fi al-Radd ‘ala Risalah Kaff al-‘Awam ‘an al-Haudl fi Syarikah al-Islam.
Dari berbagai karya yang dihasilkan KH. Hasyim Asy'ari di atas, mayoritas terlahir dari respon atas situasi dan kondisia do sekitarnya.
Secara kritis, beliau menanggapi hal-hal yang menurutnya janggal dan harus diluruskan. Selain itu, ia juga banyak menuliskan paham atau ideologi yang dianut yang menamakan diri sebagai alhu sunnah wal jamaah.
#LiterasiParaKiai
#Kediri, 22 Januari 2021
Komentar
Posting Komentar